Lelah…

Pagi tadi aku ke rumah singgah. Begitu datang, emosiku langsung tergenjot naik melebihi ubun-ubun. Ini hari sudah jam 8.30. Mereka masih terkapar di tempat tidur. Tidak bangun pagi. Tidak sekolah. Rumah pun masih berantakan. Sisa banjir tadi malam belum sepenuhnya dibersihkan. Kemarahan makin menggelegak saat kutemukan sebotol Johny Walker. Kosong, tapi baunya masih segar.

Dengan kasar kubangunkan mereka. Masih ngantuk dan kaget, mereka melontarkan alasan. Entah supaya bisa tidur lagi…, atau sekedar agar aku gak marah. Alasan tidak kuhirau. Kejengkelan terlanjur bikin dada sesak. Kupaksa mereka bangun dan kerja bersihkan rumah.

Marah, kecewa, dan lelah jadi satu. Gagal sudah rasanya. Sudah cukup lama mereka tinggal di sini. Gak hanya tiga empat bulan. Hitungannya tahun. Tapi rasanya gak pernah ada yang berubah. Hal yang sama diulang terus. Entah apa lagi yang harus kulakukan…. Aku mulai merasa lelah.

Malam ini aku termangu lama di kamar. Kopi yang kuhirup sudah mulai dingin. Kuingat semua hal yang telah kami lakukan bersama mereka. Pertemuan bersama. Ngobrol pribadi. Ngopi bareng. Ngantar ke poli. Makan bersama. Dst. Sampai aku gak ingat lagi semuanya.

Tidak adakah sesuatu yang bisa mereka ingat? Ke mana sirnanya semua kesepakatan dan kata “iya” dari mulut mereka? Apakah perubahan sungguh-sungguh omong kosong bagi anak-anak ini? Apakah jalanan telah habis-habisan menggerogoti segala kemungkinan untuk menjadi baik?

Api rokok telah sampai di gabus filter. Langsung kumatikan. Perasaan lelah masih kuat bercokol. Harapan…masih adakah itu?

Beratap Langit Berdinding Angin

Yang ada di situ bukan rumah. Bukan juga gubuk. Terpal plastik tipis berlubang di sana sini dibentangkan di atas. Sisi yang satu dikaitkan pada dinding belakang toko atau rumah. Kedua ujung sisi satunya diikatkan pada dua tiang bambu atau kayu lapuk. Cukup untuk menjadi atap.

Di bawah terpal, mepet tembok, ditempatkan satu bangku panjang atau dipan untuk tidur sekeluarga. Tidak ada ruangan lain. Dinding cuma satu, tembok di belakang itu. Ketiga sisi lain terbuka lebar, sama sekali tanpa dinding atau pun penutup. Lumayan untuk menjadi sebuah “rumah”. Rumah yang praktis beratap langit berdinding angin.

Malam pasti sangat dingin bagi mereka. Siang menjadi lebih panas di bawah plastik berwarna itu. Aku tak berani membayangkan apa yang terjadi waktu hujan angin tadi malam. Bertanya juga aku tak tega hati. Bayangannya terlalu memilukan bagiku sendiri.

Sekitar 25 kk tinggal di tempat ini dengan cara seperti itu. Anak-anak kecil bermain di situ dengan riang. Mereka lahir di tempat ini. Dibesarkan juga di rumah seperti itu.

“Dulu yang tinggal di sini banyak, Mas,” cerita Budi. “Ada kalo 130an KK,” sambungnya.

“130 KK? Wuiiiih….” celotehku. Sulit percaya.

Tempat ini hanya punya ruang 4-5 m dari tembok ke arah sungai, lalu 10-15 m sepanjang pinggiran sungai. 130 KK tinggal di sini?

“Sekarang di mana mereka?” tanyaku.

“Pindah semua, Mas. Obrakan,” jelasnya.

Kuseruput pelan es jeruk. Bukan jeruk sungguhan kayaknya. Tapi segar banget untuk siang sepanas ini. Benakku membayangkan orang-orang ini…berjubel, bertumpuk, berdesakan…di tempat ini sebelum ada obrakan.

Kuperhatikan anak-anak di sekitar tempat kami duduk. Mereka bermain. Saling mengejar. Tertawa. Tiba-tiba ada yang jatuh. Menangis keras. Yang lain tertawa. Dua anak lebih besar kemudian mendekat dan mengangkat yang jatuh. Tanah tertempel di baju dan badannya dikebas-kebaskan. Tak lama kemudian mereka bermain lagi. Seperti tidak ada apa-apa.

Aku jadi bertanya-tanya. Bagaimana nasib anak-anak ini kelak? Akankah menjadi seperti orang tua mereka sekarang ini? Apakah mereka punya kesempatan keluar dari setan kemlaratan seperti ini?

Rasanya sungguh sulit membayangkan. Anak-anak ini tampak lucu dan gembira. Saat ini hidup seperti begitu indah bagi mereka. Apakah mereka akan hidup seperti ini selamanya? Apakah ada pilihan bagi mereka?

Uppsss, aku lupa. Aku lagi ngobrol dengan mas Budi dan teman-temannya.

Ia Lahir demi Manusia

Mengapa Tuhan tidak lahir dalam sebuah istana atau rumah gedung yang bagus dan mewah? Mengapa Tuhan tidak lahir sebagai seorang anak raja? Mengapa orang-orang yang pertama kali mendengarkan berita tentang kelahiranNya bukan raja, pembesar negeri, para tokoh agama, para tokoh umat, dsb? Apakah semuanya itu tidak ada yang pantas bagi Tuhan yang lahir ke dunia sebagai manusia?

BagiNya, bukan soal pantas atau tidak pantas. BagiNya, bukan pertama-tama lahir di mana. BagiNya, yang penting bukan menjadi anak siapa, dan dikunjungi oleh siapa. BagiNya, lahir menjadi manusia hanya memiliki satu tujuan. Tujuan itu adalah menyelamatkan manusia dan kemanusiaannya.

Seruan malaikat kepada para gembala memiliki makna penting,

“Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” (Luk 2:12).

Yang akan ditemui para gembala bukan Tuhan dalam kebesaranNya; bukan Tuhan dalam segala kemegahanNya sebagai Allah; juga bukan dengan seluruh kekuasaanNya yang maha dahsyat. Tuhan yang ditemui oleh para gembala justru seorang manusia yang paling lemah tak berdaya – seorang bayi. Ia bukan hanya tak berdaya. Ia tidak memiliki apa-apa untuk membungkus dirinya, kecuali lampin – kain untuk menyeka binatang piaraan. Tiada tempat lain yang mau menerimaNya, sehingga Manusia lemah itu harus dibaringkan di dalam palungan – tempat memberi makan hewan ternak di kandang. Tuhan tidak hanya lahir sebagai manusia. Tuhan lahir sebagai manusia paling lemah dan tak berdaya, miskin dan tidak diterima.

Dengan lahir menjadi manusia, Ia menunjukkan betapa manusia sangat berharga bagiNya…begitu berharga dan mulia sehingga Sang Pencipta bersedia rela hati menjadi ciptaanNya sendiri. Konsekuensinya, Allah ditemukan dalam diri manusia. Martabat manusia terangkat secara sangat istimewa. Manusia bukan sekedar ciptaan dan citraNya, tetapi Allah dijumpai di dalam dirinya. Ini merupakan pembalikan konsep dan pemahaman yang luar biasa dahsyat. Manusia – siapa pun dia, termasuk yang miskin, malang, lemah, dan terlantar – sangat berharga di mata Allah dan Allah dijumpai di dalam dia (bdk. Mat 25:40.45).

Kenyataan ini menyiratkan tantangan yang luar biasa pula di tengah kehidupan dan kebiasaan masa kini. Kita dituntut untuk hidup menuruti selera pasar. Iklan mendiktekan apa yang pantas bagi manusia. Kualitas manusia diukur dengan kuantitas (kepercayaan diri dengan parfum tertentu, pria jantan jika merokok brand tertentu, dsb.). Sinetron mengajarkan bahwa laki-laki sukses adalah mereka yang memiliki rumah bagus, mobil mewah, isteri cantik, dan berhasil menghabisi semua lawan serta saingan.

Kita dipaksa mengejar status, prestasi, pangkat, harga diri, kekayaan, dst sebagai simbol kemanusiaan kita. Tanpa disadari, kita pun mengukur dan menghargai orang lain berdasarkan apa yang mereka miliki. Fakta bahwa manusia memiliki martabat dan berharga di mata Allah dilupakan. Kenyataan bahwa Allah bersedia menjelma menjadi manusia paling hina dan mati sebagai penjahat besar di salib demi manusia dengan mudah disingkirkan.

Situasi inilah yang oleh Yohanes digambarkan secara gamblang,

“Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan olehNya, tetapi dunia tidak mengenalNya. Ia datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi orang-orang kepunyaanNya itu tidak menerimaNya.” (Yoh 1 :10-11).

Mungkin kita diajari untuk menemukan Allah di dalam tabernakel, di dalam tempat ibadat, dsb. Tetapi, jangan-jangan kita tidak mampu menemukan Allah yang hadir dalam diri sesama. Karena, kita sendiri tidak mampu mengenali Allah yang hadir di dalam diri kita. Kita pun gagal menghargai diri kita sebagai manusia bermartabat hanya karena Allah telah lahir sebagai manusia. Akibatnya, kita juga mengalami kesulitan menghargai dan menghormati martabat sesama.

Natal adalah perayaan Allah yang lahir sebagai manusia dan dalam diri manusia. Maka, setiap kali merayakan Natal, kita merayakan kemanusiaan kita. Pertama, karena Allah berkenan lahir dan menjelma menjadi manusia. Kedua, karenanya, martabat kita terangkat secara luar biasa.

Oleh karena itu, Natal adalah sebuah tantangan frontal. Kita ditantang untuk memperbaiki relasi dengan diri sendiri. Kita diajak untuk berani menyingkirkan segala atribut yang kita kejar untuk ditempelkan pada kemanusiaan kita dan menghargai diri sesuai dengan cara Allah menghargai kita sebagai manusia. Kita pun ditantang untuk memperbaiki relasi dengan orang lain. Caranya sama. Segala atribut dan ukuran buatan manusia harus disingkirkan. Hanya dengan itu, kita mampu menghargai sesama sebagaimana Allah menghargai mereka dan bertemu dengan Allah dalam diri mereka.

Natal adalah sebuah ajakan untuk kembali kepada manusia. Natal adalah penghormatan bagi kemanusiaan.

Negeri Dongeng

Tadi malam aku cangkruk di warung pojok situ. Bukan seperti warung sungguhan. Tanpa dinding. Lesehan di atas tikar sederhana. Penerangan seadanya. Gak banyak orang. Di sekitar pun gak banyak orang lalu lalang.

Tempat ini dulu rame. Ribuan orang berjibun tinggal di sini. Berbagai kelompok relawan juga tinggal di sini…bersama-sama berbagi duka dan solidaritas. Sekarang sudah sepi, sepi warga dan sepi relawan.

Sambil merokok dan menghirup kopi, aku dengarkan mereka ngobrol. Deretan slide seperti berputar di benakku ketika mereka cerita. Lumpur yang tiba-tiba datang. Panik. Gak tahu harus ke mana. Gak tahu apa yang harus segera dibawa. Yang penting lari dulu. Yang penting anak-anak selamat dulu.

Lalu, ketika mereka sampai di tempat ini, gak tahu juga harus bagaimana. Satu kios utk lima enam keluarga. Dibatasi dua tiga tumpuk kardus mie dan aqua. Yang lain harus terima nasib di bangsal. Segalanya harus antri…termasuk mandi, kencing dan berak. Anak-anak terpaksa tidur di tempat dingin, terbuka, rawan angin malam. Nasi jatah pun kadang sudah busuk. Cerita seperti itu bukan sekali dua kali aku dengar.

Banyak yang telah membangun rumah pelan-pelan, menabung sedikit demi sedikit, mengurangi kesenangan yang gak perlu…. Sekarang langsung lenyap. Banyak yang punya sawah dan peternakan, hasil warisan maupun jerih payah bertahun-tahun…. Sirna dalam sekejap. Mendadak orang-orang ini jadi miskin dan diperlakukan sebagai orang miskin…tanpa mereka salah apa pun.

Aku ingat saat jatah hidup hendak dihentikan. Tiba-tiba pagi harinya salah seorang dari mereka meninggal. Malam sebelumnya dia ikut kumpul, sharing keprihatinan dan kejengkelan.

Ketika menuntut jatah hidup, mereka diperlakukan sebagai bajingan berbahaya. Sama seperti saat mereka menuntut ganti rugi. Memangnya apa salah mereka? Apakah yang mereka tuntut itu bukan hak mereka? Apakah menuntut hak itu perbuatan kriminal?

Ganti rugi cuma janji. Mereka diminta tanda tangan kwitansi untuk terima uang muka. Kemudian mereka harus hutang sana sini untuk buka rekening bank. Uang akan ditransfer, katanya. Ternyata omong kosong yang harus mereka telan…. Sekarang sedang krisis, alasannya. Perusahaan kena imbas luar biasa. Warga korban diminta memahami. Masuk akal? Memangnya selama dua tahun ini perusahaan sudah berusaha memahami warga korban?

Malam sudah menjelang pagi. Kantuk pun ikut menjelang. Kopiku sudah lama habis. Kubuang rokok yang sudah terlalu pendek. Entah rokok yang ke berapa. Ritual pamit dimulai. Dengan nafas berat kutinggalkan pasar Porong.

Tidak pernah ada kelegaan setiap kali aku cabut dari tempat ini…sama halnya dengan tidak pernah ada syukur karena tinggal di negeri dongeng ini bagi orang-orang kecil. Yaah…negeri dongeng…karena keadilan hanya dongeng di sini….

Pasar Porong semakin jauh di belakang. Perlahan aku mulai berdoa….

Tuhan, jika Engkau sendiri ada di sini, apa yang akan Engkau lakukan?

Mas Pemulung

Kemarin pagi aku jalan-jalan. Mencari rokok plus obat sembari jalan kaki mungkin akan baik untuk badanku yang terasa agak melayang sejak sore sebelumnya. Daerah yang kulewati agak sepi. Gak banyak kendaraan lalu lalang. Pagi itu cuaca agak nyaman. Langit udah mendung sejak mentari belum muncul. Gak terlalu panas bagiku yang masih di tahap adaptasi dengan hawa hangat kota ini. Pagi seperti ini bikin pikiran lumayan tenang….

Di depan sana, persis di tempat sampah, seorang pemulung membungkuk. Sejak tadi, sejak aku berbelok ke jalan ini, ia terus di situ. Tampak sibuk banget. Sampah itu sungguh-sungguh menyita seluruh perhatiannya.

Seorang anak tiba-tiba muncul dari salah satu rumah di antara aku dan pemulung itu. Si anak lari ke arah tempat sampah dan berhenti di belakang pemulung. Ia berjongkok. Sepertinya sibuk dengan permainan yang dia bawa. Badannya gemuk dan lincah. Melihat dia, aku langsung teringat akan keponakan di rumah :) .

Lalu keluar pula seorang ibu dari rumah yang sama. Masih muda. Mungkin ibunya. Ibu itu tiba-tiba berhenti dan berteriak memanggil,

“Nak (bukan namanya), hati-hati!! Jangan dekat-dekat orang itu! Ayo, pulang!”

Anak itu seperti kaget, menoleh ke pemulung, lalu lari mendekati ibunya. Mereka langsung masuk ke dalam rumah.

Aku tetap berjalan. Perhatianku terarah ke pemulung itu. Saat si ibu berteriak tadi, kulihat ada perubahan pada kesibukannya. Walo tetap membungkuk, tangannya yang sibuk mengais sampah terhenti sekejap, kemudian kembali sibuk dengan sampah.

Ketika sampai di dekatnya, aku sapa pemulung itu sambil menanyakan toko obat di dekat situ. Bukan basa-basi. Aku memang belum kenal daerah ini.

“Wah, Mas, kalo pagi gini ya jarang ada yang udah buka,” jawabnya dengan bahasa Jawa yang medok.

“Tapi, sebelah sana ada apotik yang mestinya buka terus. Coba aja, Mas,” sambungnya.

Aku pun berjalan ke arah yang dia tunjukkan. Pikiranku tidak setenang tadi lagi. Kata-kata yang diteriakkan si ibu tadi seakan menembus gendang telingaku dan berdentum-dentum di situ. Kira-kira apa yang dirasakan oleh pemulung tadi itu ya?

Apakah pemulung bukan manusia? Apakah orang seperti dia ini tidak boleh didekati oleh anak kecil? Seperti anjing kudisan yang harus dijauhi…bahkan oleh seorang anak. Kira-kira apa yang dirasakan oleh si pemulung? Dia tentu mendengar kata-kata itu. Sikap badannya pun bereaksi. Tangannya sekejap berhenti bekerja, walo sama sekali tidak menoleh. Apakah dia sudah kebal dengan kata-kata penghinaan? Bagaimana pun dia tetap manusia dan punya perasaan…. Seberapa pun kebal dan sering mendengarkan kata-kata semacam itu, dia adalah manusia dan tetap punya perasaan…punya keinginan untuk dimanusiakan… keinginan untuk diperlakukan sebagai manusia….

Aku ingat, di beberapa tempat ada tulisan “Pemulung dilarang masuk”. Bisa jadi tulisan itu dilatarbelakangi oleh pengalaman-pengalaman tidak enak dengan pemulung. Tetapi, kira-kira bagaimana ya perasaan pemulung lain melihat tulisan itu?

Lantas, bagaimana dengan anak mungil, gemuk dan lincah itu? Dengan teriakan ibunya, kira-kira nilai apa yang masuk ke dalam dirinya? Sekarang memang lagi zamannya untuk berhati-hati. Penculikan anak di mana-mana. Tetapi, bisa jadi sikap hati-hati ini – jika tidak disikapi dengan hati-hati pula – menghantam sembarang orang.

Pemulung yang kutemui itu wajahnya memang kusam dan dekil. Gak menarik untuk dilihat…. Tetapi, dia jawab sapaan dan pertanyaanku dengan ramah. Bahkan dia gak sekedar menjawab. Dia berpikir bahwa di pagi seperti itu belum ada toko obat buka. Dia malah kemudian mengingat ada apotik yang mestinya buka 24 jam. Apotik itu yang ditunjukkan kepadaku dan memang buka.

Aku harus berterima kasih kepadanya….

Solusi di Jalanan

Suatu hari aku bermobil dengan beberapa teman. Di hampir setiap perempatan yang dilewati selalu ada sekumpulan orang. Mereka itu ngamen, ngemis, bawa bulu-bulu untuk membersihkan kaca mobil, jual koran, dsb. Kayaknya itu sudah menjadi pemandangan biasa di jalanan.

Di salah satu perempatan, ketika berhenti karena lampu lagi merah, seorang teman tiba-tiba berkomentar,

“Orang-orang itu malas banget. Mestinya mereka bisa bekerja dengan lumrah, bukannya malas-malasan ngemis dan nodongin orang.”

Komentar yang juga lumrah. Mereka itu tampak sehat walaupun dekil. Spontan aku turunkan kaca mobil. Kupanggil salah satu anak yang lagi mendekat membawa ecek-ecek dari tutup botol.

“Bang, temenku ini mau omong,” panggilku.

Temanku kaget. Pandangan melotot mengandung ancaman diarahkan kepadaku. Tetapi, dia mengulang celutukannya tadi. Dengan kalimat yang lebih sopan, tentunya. Si anak remaja itu dengan tenang mengulurkan tangan tertadah ke dalam mobil dan berkata,

“Kalau Oom bisa memberi saya pekerjaan…apa pun…cabutin rumput, ngurusin sampah, bersihin wc…akan saya kerjakan, Oom.”

Di depan, lampu hijau menyala. Tidak ada waktu lagi buat ngobrol, diskusi, atau pun rapat. Kuletakkan dua logam limaratusan di tangannya sembari pamit dan cabut.

Sambil mengemudi, kurasakan kata-kata si remaja tadi menghantami benakku. Betapa sering aku sendiri menggeneralisasi orang-orang ini. Berada di jalanan berarti malas, tidak mau cari pekerjaan yang layak, tidak mau kerja keras, memilih cara yang gampang untuk cari duit, dst. Vonis yang kayaknya terlalu pagi. Bisa jadi dari antara mereka memang ada yang seperti itu. Tapi, mestinya ada juga orang-orang yang sudah berusaha – dengan cara mereka – dan selalu ketemu jalan buntu. Pasti ada pula yang memang sungguh terdesak dan jalanan menjadi solusi.

Aku jadi ingat anak-anakku. Kebanyakan dari mereka berada di jalanan bukan karena malas. Ada yang lari karena tidak diakui sebagai anak oleh orang tua. Ada yang orang tuanya terlalu miskin untuk menghidupi terlalu banyak anak. Beberapa sudah tidak punya orang tua. Mereka bekerja di jalanan agar tetap bisa makan. Syukur kalau masih bisa sekolah dari hasil ngamen. Aku kenal dua-tiga anak yang keluar dari sekolah dan ngamen untuk biaya sekolah adik-adik mereka. Jalanan menjadi solusi bagi orang-orang ini. Tetapi, semua fakta itu ternyata belum mempertobatkan persepsiku tentang hidup di jalanan.

Tiba-tiba aku sadar bahwa kami semua di mobil berdiam diri. Seolah-olah peristiwa tadi membuat kami mendadak menjadi sibuk berpikir. Moga-moga….

Si Belasan Tahun

Dia berbadan kecil, kurus seakan tulang terbalut kulit, hitam terpanggang mentari jalanan. Wajahnya sama sekali tidak imut maupun kekanakan. Wajah orang dewasa. Kaos dan celana pendeknya dekil. Rokok murah terselip di tangan. Matanya sama sekali tidak memandangku. Dia baru kelas 2 SMP. 

Tadi malam gurunya datang ke kantor.

“Anak ini sudah berhari-hari tidak masuk…,” lapor si ibu guru.

Beberapa waktu lalu teman-teman menceritakan hal yang sama tentang dia. 

“Bapakku lari, Mo. Gak tahu di mana sekarang. Ibu kerja nyapu jalan di daerah Wonokromo. Gak pernah pulang. Adik-adikku hidup dengan kakek di kampung. Yang satu udah seminggu gak masuk sekolah…gak ada uang,” tuturnya dengan tatapan mata jauh melampaui diriku.

Kakeknya hanya buruh tani. Sekolah tiga adiknya menjadi tanggungan si anak belasan tahun ini. Beberapa kali dia mau keluar dari sekolah. Bekerja agar adik-adiknya tetap bisa sekolah selalu menjadi angannya.

Aku termenung….

Surat Mbak Yayas buat pakde Wawan…

Pakde apa kabar?

Semoga pakde sehat-sehat dan kerasan di tempat tugas yang baru.


Hari ini mbak Yayas tepat berumur 6,5 bulan. Denger-denger umur segitu masih disebut bayi… hehe, mbak Yayas juga gak ngerti. Yang jelas mbak Yayas belum bisa ngomong, baru bisa ngoceh dan ah…uh…ah…uh….


Tapi gak papa pakde, nanti suatu saat mbak Yayas pasti bisa ngomong seperti orang-orang lain yang sudah besar. Karena belum bisa ngomong, justru mbak Yayas punya kesempatan yang lebih banyak untuk mendengarkan orang lain. Ssssstt, katanya kalau orang sudah besar suka sulit ndengerin orang lain ya, maunya ngomong teruuus hehe..

 

Orang – orang pasti gak mengira kalau mbak Yayas ngerti lho apa yang mereka omongkan.

Contohnya, mbak Yayas mulai hapal, kalau malam hari mau bobok, Bunda selalu berbisik begini “ Nduk, besok kalau udah besar jadi orang yang baik ya” atau kalau mbak Yayas lagi cemberut (habis dipaksa-paksa minum susu mulu L ), Bunda selalu bilang “mbak Yayas, harus ramah pada setiap orang dan selalu tersenyum”

Nah, kalau mbak Yayas aja bias nulis cerita ini ke pakde, itu kan berarti mbak Yayas emang bener-bener ngerti kan? Pakde percaya?

 

Oya, pakde… ada hal lain yang pengen mbak Yayas ceritakan… Setiap sore, setelah pulang kerja, bunda selalu bercerita pada mbak Yayas. Ceritanya macem-macem. Meski terlihat aneh, tapi mbak Yayas suuuuka sekali. Lucu dech pakde, bunda nyerocos terus dan mbak Yayas cuma nanggepi ah…uh…ah…uh…. Tapi bunda gak pernah kapok tuch membagi ceritanya. Semoga hal ini dikarenakan Bunda juga merasakan kalau mbak Yayas itu ngerti apa yang diceritakan. Kadang bunda cerita tentang Yesus kecil yang lahir di kandang kumuh, kadang bunda cerita tentang satpam di kantornya yang hidup susah namun tetap semangat mencari uang untuk menyekolahkan anak-anaknya. Bunda juga pernah cerita tentang orang-orang kecil yang berhasil menjadi orang hebat…. Biasanya sich, pasti setelah nonton kick Andy!hehe… Nah, bunda juga udah cerita tentang Laskar Pelangi (mbak Yayas gak diajak nonton filmnya, katanya mbak Yayas masih terlalu kecil). Ceritanya seru ya…. Mbak Yayas terharu denger kisah tentang Lintang, Mahar, dan kawan-kawannya.

 

Setiap selesai bercerita… Bunda selalu mengatakan kalau mbak Yayas harus menyayangi setiap orang dan gak boleh membeda-bedakan antara yang kaya dan miskin. Kata Bunda, “KITA HARUS LEBIH MENGHORMATI ORANG MISKIN YANG BERANI DARIPADA ORANG KAYA YANG PENAKUT. KARENA SEBETULNYA TELAH JELAS PERBEDAAN KUALITAS MASA DEPAN YANG AKAN MEREKA CAPAI” *

 

Pakde, makanya setiap kali bunda selesai cerita, mbak Yayas selalu bilang ,” Mbak Yayas sayang Bunda, sayang Ayah, sayang satpam di kantor bunda, sayang anak-anak satpam di kantor bunda. Mbak Yayas sayang Yesus kecil yang lahir di kandang kumuh, mbak Yayas sayang Ikal, Mahar ,Lintang dan anak-anak Laskar Pelangi. Dan mulai hari ini, mbak Yayas akan tambahkan 1 lagi, mbak Yayas juga sayang sama anak-anak pakde di Simo, sama tukang cukur, dan tukang parkir yang ada di cerita pakde “ J  Doakan bahwa kelak mbak Yayas bisa meneladani kebesaran hati mereka….

 

 

Salam,

Yayas

 

* diambil dari kumpulan motivasi Mario Teguh

 

Orang Kecil…

Siang tadi, setelah pergi kota-kota, aku mampir ke tukang cukur rambut. Di situ sudah langganan. Tetapi, kali ini tukangnya malah orang baru. Belum pernah kulihat sebelumnya. Gak masalah. Yang penting cukur dan rambut jadi lebih pendek dan (moga-moga) rapi :) . Orangnya ramah juga. Enak untuk ngobrol-ngobrol ngalor, ngidul, ngetan bali ngulon.

Tak disangka, persoalan muncul setelah cukur selesai. Uangku kurang  seribu perak untuk bayar ongkos cukur. Bingung aku. Mau bagaimana? Telpon teman di rumah agar datang bawakan uang? Atau tinggalkan KTP atau SIM? 

Ah, kupikir, ngomong aja dulu ke mas tukang cukur. Eeh, dia langsung terima uang seadanya. Yang kurang gak masalah, katanya sambil tersenyum. Aku melongo…hanya begitu saja? Makin lebar ia tersenyum. Senyumnya membuat hatiku sedikit damai. Tapi, senyum itu juga bikin aku semakin malu. Persoalan dianggapnya selesai dan dia beralih ke pelanggan berikutnya. Begitu mudah?

Persoalanku masih belum selesai. Sudah gak ada lagi uang untuk bayar parkir motor. Lima ratus perak dan itu gak kumiliki. Walaupun malu, mau tak mau tetap harus omong ke tukang parkir. Bukannya marah-marah, bapak tua tukang parkir itu malah tertawa dan mempersilakan aku ambil sepeda motor. Aku jadi semakin malu. Dua kali kena telak dech, pikirku. Saat mau start cabut, bapak tua berjenggot melambaikan tangan sambil teriak,

“Hati-hati, Mas. Semoga lancar!”

Begitu mudah persoalan selesai baginya.

Sore hari aku kembali untuk membayar kekurangan tadi siang. Mas tukang cukur begitu kaget saat aku mengulurkan uang. Dia bahkan tidak ingat aku! Menerima uang pun masih kelihatan kaget dan malu-malu. Ucapan terima kasihnya seperti tak pernah selesai mengalir sambil mengantar aku ke depan pintu. 

Pak jenggot tukang parkir lain lagi reaksinya. Dia sempat melongo lebar ketika aku mengatakan mau bayar utang. Dia menganggap yang tadi itu ya sudah, katanya. Bagiku lain. Itu adalah utang dan utang kan tetap utang. Bapak tua itu sampai berkali-kali membungkukkan badan sambil menembakkan ribuan terima kasih sewaktu menerima uangku. Membungkukkan badan untuk uang lima ratus perak…. 

Dalam perjalanan pulang, aku tercenung cukup lama. Orang kecil…. Bagi orang-orang seperti mereka ini, uang seribu dan lima ratus rupiah mestinya sungguh berarti. Tetapi, kenapa mereka sangat ikhlas saat aku tidak bisa bayar? Begitu rela dan dengan sangat mudah itu tidak menjadi masalah. Bukankah itu hak mereka? Itu kan hasil kerja mereka? Bahkan mas tukang cukur segera melupakan peristiwa tadi. 

Ketercenunganku masih berbuntut saat aku berada di kamar. Cara mereka menerima uang tadi begitu mengesan. Mereka menerimanya seperti menerima rahmat, bukan sekedar hak dari hasil kerja mereka. Si tukang cukur meninggalkan pelanggannya untuk mengantar aku ke depan pintu. Bapak berjenggot membungkukkan badan sampai empat lima kali. Seolah-olah aku sedang tidak membayar utang, tetapi memberi mereka rejeki luar biasa.

Aku mulai membayangkan jika mereka berada di posisiku tadi siang. Misalnya, ketika tidak bisa membayar uang sekolah anaknya atau kekurangan uang untuk berobat atau untuk membeli makanan…dst. Apakah mereka juga menghadapi sikap yang sama seperti yang kualami tadi, sikap yang justru muncul dari mereka sendiri? Apakah mereka juga menerima senyum penuh damai dan menenangkan? Adakah lambaian tangan ditujukan kepada mereka? Adakah yang membungkukkan badan, satu kali aja, sewaktu mereka bayar hutang?

Orang-orang kecil…masih banyak yang harus kupelajari dari kalian agar aku bisa menjadi manusia….

Ngintip…Berarti Apa?

Seminggu yang lalu aku ke rumah singgah di Simo. Kumpul dengan anak-anak yang baru kukenal. Ngobrol ke sana kemari sambil mereka saling ngerjain dan ngusilin. Pertama kali aku kumpul dengan mereka selengkap ini. Pada saat-saat seperti ini, kulihat dan kurasakan, mereka tetep anak-anak, walo di-karbit oleh kehidupan jalanan.

Anak yang satu, badannya paling kecil, wajahnya paling imut. Dia dipanggil Lipo. Kena DO oleh sekolah. Tetapi, katanya, masih pengen sekolah lagi. Anaknya lucu. Saat digojloki, dia cuman senyum-senyum gak bisa balas. Ketika teman lain yang dikerjain, dia ikut ngroyok dengan semangat berkobar. Kesempatan balas dendam.

Satu anak datang dengan luka di kaki. Ceritanya dia kena pecahan kaca di parit waktu ambil pencit (…mangga muda) yang jatuh ke situ. Minta ampun…memang gak ada pencit di tempat yang lebih sopan? :) Dasar anak-anak. Lumayan ngeri tuch luka di kaki. Berdarah-darah. Tapi, wajahnya gak tampak kesakitan. Apakah kehidupan jalanan membuat mereka jadi anti rasa sakit ya?

Satunya lagi tiba-tiba nunjuk temannya sambil teriak, “Dia ini ngintip aku waktu lagi berak, Mo!” Tawa langsung pecah. Kata-kata gojlokan tanpa ampun ditembakkan ke anak yang dituding. Wajahnya berubah. Kelihatan malu sekali. Apalagi waktu kutanya, “Mengapa ngintip?” Pasti malunya karena ketahuan. 

Aku ikut tertawa. Tapi, di hati ini muncul tanda tanya. Makin lama makin membesar. Mengapa dia mengintip temannya di WC? Sama-sama cowok. Sekedar keingintahuan seorang anak? Apakah wajar seorang anak usia SMP ngintip teman sesama jenis?

Aku teringat cerita-cerita mereka yang pengalaman mendampingi anak-anak jalanan. Kehidupan seks bukan barang asing bagi anak-anak ini. Bukan berita “aneh” kalo di koran ada berita anak jalanan menjadi korban sodomi. Lalu, dia ini? Apa yang telah terjadi padanya?Apa yang pernah dia alami?

Cerita temannya tadi seakan membuka lebar ruang kesadaranku. Apa yang selama ini diceritakan tentang anak jalanan bisa saja terjadi pada mereka, anak-anakku….

« Previous PageNext Page »