Archive for the ‘Uncategorized’ Category
Di Atas Tangkis
“Itu, Mo. Mereka tidur di atas tangkis itu!” tuding relawan yang kubonceng.
Tangkis adalah tanah urukan dari bawah kali Jagir yang dinaikan ke atas. Menjadi semacam tanggul pendek sepanjang kali.
Aku tidak melihat sosok orang di atasnya. Cuma becak terparkir yang kukenali. Tapi, begitu motor menepi, kulihat mereka. Si ibu tampak terbaring tidur. Beralas karpet hitam tipis. Diletakkan di atas lembaran kain goni. Persis di atas tanah tangkis. Di bawah kakinya langsung mulut kali Jagir.
Sejak penggusuran kedua stren kali, di situlah mereka hidup. Tidak ada lagi tempat bernaung. Kecuali langit terbuka di atas. Tiada lagi dinding bambu dan kardus. Hanya berdinding angin. Sekarang tiap bangunan baru mengundang penggusuran berikutnya. Lalu, itulah rumah mereka. Tanpa perabotan. Cuma karung goni dan karpet itu harta mereka. Entah akan ke mana jika musim hujan datang sebentar lagi.
Si bapak lagi menyalakan api. Mencoba mendapatkan kehangatan bagi rumahnya yang berangin. Kayunya bekas perabotan. Tersisa dari penggusuran. Begitu melihat kami, bergegas ia berdiri. Menyalami dengan senyum ramah.
“Kok lama gak dolan,” sapanya.
Aku cuma bisa tersenyum. Masih kaget dengan perubahan drastis hasil mahakarya Pemkot. Dulu mereka masih punya rumah gubuk. Satu ruangan. Si ibu biasa jualan minuman di depan. Lumayan buat nambah penghasilan. Sekarang, rumah habis. Pekerjaan si ibu juga hilang. Penghasilan berkurang banget.
Si ibu pun terbangun. Kaget melihat kami. Terhuyung-huyung mengangkat badannya berdiri. Dia gemuk. Berbasa-basi sebentar. Kemudian, dia bilang,
“Dah gak ada apa-apa lagi sekarang, Mas. Gak bisa lagi nyuguhi minuman. Nyuwun ngapunten ingkang sanget, lho Mas.”
Matanya mulai berair. Aku terdiam. Kaget. Gak mengira. Dia masih sempat minta maaf. Tidak punya minum untuk disajikan bukan salahnya….
Kena DO
Dia diam terpekur. Kepalanya menunduk. Raut sendu dan bingung tak tersembunyi. Tampak jelas. Senyum sesekali terlontar saat bicara denganku. Tapi sama sekali tidak mengurangi kesan penat dan risau. Rokok sudah memendek. Terselip di jari-jarinya. Kopi diseruput pelan. Bicaranya lebih pelan lagi. Lirih. Seakan takut aku kecewa dan marah.
Aku duduk di sebelahnya. Lebih terpekur lagi. Sibuk dengan pikiran dan gundah gulanaku sendiri. Sesekali kusimak kata-katanya. Menerobos telingaku. Menggaung di kalbu. Sambil berusaha agar marah dan kecewa tidak dia tangkap.
Aku tahu persis gejolak hatinya. Edo, koordinator rumah, telah cerita malam tadi. Dia dikeluarkan dari sekolah. Terlalu banyak bolos, kata Edo semalam. Kepala sekolah tidak bisa menolerir lagi. Ini penyakit lama. Pelanggaran paling umum di antara anak-anak seperti dia.
Rasa marah kurasakan sejak semalam. Aku merasa kecewa. Merasa disakiti. Bukan hal gampang mengusahakan dia bisa sekolah. Donatur harus dicari. Sekolah harus didekati. Karena umur dia sudah di atas rata-rata. Perlu lobi juga untuk mendapat kemurahan SPP. Untung, malah dapat gratis. Yang paling sulit, memotivasi dia. Terkuras energi untuk membentengi motivasi. Rasanya semua itu sia-sia…. Kerja tanpa manfaat….
Sekarang, haruskah rasa marah kulampiaskan?
Dia masih di situ. Terdiam sekarang. Benakku masih liar menggagas. Anak-anak seperti ini. Lama di jalanan. Bebas semaunya. Tidak terbiasa duduk lama. Lebih-lebih duduk menghadapi buku. Apalagi mendengarkan orang ngomong berjam-jam. Jelas, tidak ada budaya membaca dan belajar. Sejak mereka kecil. Mampukah semua itu dihapus hanya dalam waktu beberapa tahun?
Sementara, pedihnya hidup jalanan menciptakan kelabilan tingkat tinggi. Kadang tak bisa kupahami. Jalanan memang minim akan pengalaman cinta. Kekerasan lebih kerap mereka telan. Akibatnya, sedikit masalah dengan guru, teman, atau tugas, langkah seribu yang dipilih. Sedikit saja rasa aman terancam, dunia seakan menjadi musuh.
Apakah kejadian ini berarti sekolah formal tidak cocok bagi mereka? Ada saat-saat keberhasilan bisa dipeluk. Beberapa anak bisa lulus. Meski harus dengan banyak peluh dan air mata. Dua tiga anak sudah berhasil dalam pekerjaan. Tapi, lebih banyak yang gagal. Apakah ini tanda bahwa kami sebenarnya tidak sanggup mengurus mereka?
Kepalaku pusing. Migrain makin bikin cenut-cenut. Lebih baik pulang dulu. Mendekam dalam kesunyian kamar.
Si Mata Bening
Kopi hitam terasa nikmat di pagi itu. Kopi pembuka hari. Kuseruput perlahan. Panasnya menyegarkan. Rasanya jelas kalah dibandingkan kopi 3 in 1. Namun, suasana di warung menggenjot rasa di hati. Sesekali kutanggapi celotehan rame sesama pesinggah.
Sejak tadi mataku tak lepas dari sosok kecil. Dia di seberang sana. Seorang anak. Bajunya agak dekil. Lagi bermain dengan caranya sendiri. Wajahnya ceria walo sedang sendirian. Matanya tampak bening. Satu keasikan yang baru kutemukan. Nonton anak yang asik bermain. Menikmati ekspresi diri yang murni. Mengagumi kreativitas yang kadang tak pernah kupikirkan.
Sekelompok anak berseragam dan sebaya mendekat. Mau lewat. Anak tadi kelihatan jadi lebih ceria. Menyapa rombongan itu dengan riang. Disambut dengan kegembiraan yang selevel pula. Mereka pasti berteman. Beberapa mencoba permainannya. Kegembiraan seperti itu pernah kualami. Asik.
Tapi, rombongan itu tidak lama. Hanya sekedar mampir. Jam sekolah pasti sudah menanti. Mereka pun pamit dan beranjak. Si anak tadi ditinggal. Sendiri lagi. Berdiri menatap langkah mereka dengan sendu. Mata bening itu tidak riang lagi. Musna sudah keasikannya bermain.
Aku bangkit. Kuseberangi jalan. Kuhampiri dia.
“Itu tadi siapa?” tanyaku.
“Teman, Pak,” jawabnya lugu.
“Kok kamu gak sekolah?” lanjutku.
“Kata bapak, gak ada uang, Pak.”
Sudah kuduga. Kutatap matanya. Memang bening. Tapi, memang tidak ria lagi. Anak yang lugu dan polos. Ditanya orang asing pun tetap jujur menjawab. Tak ada kecurigaan. Hatinya masih bersih. Hati seorang anak.
Mata itu menarik hatiku. Si mata bening pasti gak paham hubungan antara tidak ada uang dan tidak sekolah. Gak akan sampai di akalnya mengapa kok tidak ada uang. Yang dia tahu, temannya sekolah dia tidak.
Si mata bening itu berjongkok. Melas. Nanar mata beningnya mengiring langkah menjauh teman-temannya. Lalu, ogah-ogahan melempar-lempar kerikil. Terbang sudah keriangan seorang anak. Melayang pula semangatku, bekal di hari itu….
Ia Semakin Diam
Mataku tak pernah lepas dari dia. Seorang anak 14 tahun. Setahuku ia anak pendiam. Begitu pula yang dikatakan teman-temannya. Pagi hari berangkat ke sekolah. Sepulangnya dia bermain. Petang hingga malam ngamen di perempatan besar dekat gubuknya. Hasilnya adalah setoran buat ibunya, yang selalu nunggu sambil membawa si adik mungil.
Sudah lebih dari tiga minggu ia meringkuk di sel ini. Kecil dan sempit. Tapi mungkin lebih luas dari pada gubuk reotnya yang tersisa dari penggusuran bulan lalu. Namun, itu tetap sebuah sel. Terpisah dari yang dewasa. Terhubungkan hanya oleh jendela tralis. Mencuri HP adalah dosanya.
Saat itu ia lebih pendiam lagi. Kata demi kata lirih diucapnya. Seakan tak ingin tetangga sebelah mendengar. Jongkok meringkuk di belakang pintu teralis kamarnya. Matanya gelisah. Kadang menyiratkan kengerian. Ia tampak lemah. Tiada daya. Tak pula kutemukan keceriaan seorang anak, yang biasanya terpantul dari sirat mata dan polahnya.
Aku jadi ingat sajak Chairil Anwar…
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Tapi Chairil Anwar masih bisa berucap…
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Itu mustahil baginya. Tak mungkin dia bisa berlari membawa pedih dan peri. Anak ini tetap terkurung. Dunianya telah menyempit. Dunianya telah menjadi isolasi. Ia akan semakin diam. Entah sampai kapan….
“Yang Terhormat”, Mengapa?
Aku duduk bersila, berhimpitan dengan yang lain di ruangan ini. Bukan ruangan sebenarnya. Setengah terbuka. Persis di pinggir kali. Sebagian duduk di tengah jalan sempit beralas koran dan kardus. Lampu tidak seberapa terang. Asap rokok mengepul dan melayang. Segera menghilang dari pandangan begitu mencapai udara terbuka. Seperti itulah asa yang tersisa di hati mereka. Kira-kira.
Kutatap satu persatu wajah-wajah di sini. Wajah-wajah lelah. Marah. Tegang. Berpengharapan hanya setengah. Mungkin malah kurang dari itu. Itu pun kalau masih tersisa. Apa yang ada di benak mereka? Apalagi kalau bukan ancaman penggusuran….
Mereka tidak sungguh tahu mengapa rumah-rumah mereka harus digusur. Tidak ada pemahaman yang pasti. Hanya kira-kira, prasangka, dugaan. Bahwa stren kali akan dijadikan daerah pariwisata sungai dengan biaya ADB. Kira-kira seperti itu. Sekali lagi, hanya dugaan. Justru karena hanya dugaan, amarah menjadi penguasa orang-orang ini. Merasa dikorbankan. Merasa dikalahkan demi sebuah pariwisata. Dianggap hanya sampah yang cuman pantas dibuang.
Mengapa para penguasa nan arif budiman tidak pernah berbicara kepada mereka? Mengapa sosialisasi tidak pernah jalan? Mengapa selalu “tidak ada di tempat” tiap kali para “yang terhormat” didatangi dan ditanyai? Apakah orang-orang ini hanyalah anak-anak yang tidak bisa berpikir sendiri, sehingga harus ada seorang bapak yang membuatkan keputusan bagi hidup mereka? Apakah mereka hanyalah sekumpulan binatang dengan perasaan tumpul dan otak macet, sehingga tidak perlu lagi ditanya? Mengapa penjelasan memadai kepada orang-orang seperti ini tidak pernah dirasa perlu?
Hati kembali teriris teringat penggusuran awal Mei lalu. Haruskah orang-orang ini diperlakukan seperti binatang yang dihancurkan dan diusir? Manusia…siapakah yang masih manusia?
Jagir…di Awal Mei
Terputar di benakku rekaman kejadian sejak pagi subuh kemarin. Polisi dan satpol PP berbaris tegap, rapi, dan galak. Mungkin jumlah mereka ribuan. Sebagian polisi bertameng dan bertopi ala Star Wars. Sebagian dari mereka bersenapan tergantung di dada. Maut menjadi bayangan mereka. Pak bego (back hole) dan buldozer bersiap di ujung sana.
Berhadapan dengan orang-orang gagah perkasa ini adalah warga. Tak bersenjata. Mereka penuh dengan emosi, kelimpungan, bingung, pasrah, tak berdaya… putus asa. Berjajar dalam barisan kacau. Berdiri. Lalu duduk berjongkok. Lalu berdiri lagi. Gak yakin. Mulut komat-kamit merapalkan doa. Beberapa jatuh berlutut sembari menangis sesenggukan memegang tongkat berkibaran merah putih. Masihkah sang merah putih berarti bagi mereka di saat seperti itu?
Tak lama kemudian pak bego dan buldozer bergerak maju. Rumah-rumah kumuh, kotor, tak layak huni, yang selama ini melusuhi wajah kota, dihantam dan diterjang. Tiada ampun. Wajah-wajah lusuh para pemilik makin tak berdaya.
Aku ingat persis saat-saat itu. Kaum lelaki berdiri dengan wajah tegang penuh kemarahan sekaligus keputusaasan. Rumah hasil keringat dan menabung bertahun-tahun dihancurkan di depan mata. Ibu-ibu menjerit, melolong, berlelehan air mata sia-sia. Hancur sudah harapan membesarkan anak dalam sebuah rumah. Anak-anak kecil berdiri dengan mata nanar dan bingung, tangan berpegang kuat pada baju orang tua, badan gemetaran hebat. Tak ada bayangan tentang apa yang terjadi, mengapa ada begitu banyak orang berseragam berparas kaku tak ramah, mengapa rumah mereka dihancurkan, dan seterusnya.
Kuingat momen itu dengan hati seperti diiris-iris dari pagi hingga malam.
Tak kan kulupakan wajah-wajah tak berdaya berpagar tameng, pentungan, dan senjata laras panjang. Masih bergaung kuat teriak dan jerit orang yang sedang diluluhlantakkan hidup dan asanya. Terbayang jelas wajah ketakutan dan badan gemetaran anak-anak di depanku. Penderitaan yang tak muat dalam rumusan kata maupun aksara. Kepedihan hati yang mustahil diceritakan saat itu…hanya bisa dirasakan. Lumatlah asa ratusan kepala keluarga. Musna jua keyakinan diri bahwa mereka manusia. Bukan binatang yang hidup dalam lingkaran pengejaran, perburuan, pengusiran.
Itu semua tak mungkin kulupa. Akan senantiasa kukenang mereka saat kuangkat cawan penderitaan. Junjunganku telah disalibkan bersama mereka kemarin. Semoga penderitaan Junjunganku melindungi citraNya yang digusur ke dalam penghinaan.
untuk teman-teman di Jagir, 5 Mei 2009
Tuhanku Kebanjiran…
Aku berdiri di atas tanggul. Setelah satu tahun lebih, kini aku di tempat ini lagi. Di depanku hamparan sawah terpapar luas. Hijau. Berair berlebihan. Banjir. Padi kecil-kecil. Pasti belum sampai satu bulan menghidupi diri dengan tanah bumi desa ini. Umur yang sangat pendek. Bengawan Solo akan segera menghabisinya.
Terkenang tahun lalu, ketika datang ke tempat ini. Padinya kuning. Siap dipanen. Tapi itu tinggal mimpi. Banjir duluan memanen padi. Kerja keras berbulan-bulan digasak habis dalam hitungan jam. Petani pun gak sempat menangis. Banjir buruan masuk rumah. Ada yang lebih penting daripada menangisi padi dan kedelai. Ngurusin keluarga. Ambil barang seperlunya. Selamatkan ternak cepat-cepat. Terus ngungsi.
Tahun lalu dan sekarang. Apa bedanya? Padi kuning dan hijau sama nasibnya.
Tanggul penahan Bengawan Solo mulai jebol beberapa menit setelah peralihan malam ke pagi. Air menyembur deras ke perumahan. Teriakan panik ibu-ibu terasa perih di hati. Jerit tangis mereka mengiris kalbu tanpa ampun. Buah keringat sekian lama akan disapu bersih dalam hitungan menit. Mengapa rasa aman cuma sekejap? Mengapa tenteram hanyalah khayalan sesaat? Mengapa kesejahteraan ada di bibir petinggi belaka?
Hati pilu memandang hamparan air. Kucoba berdoa. Menemukan Tuhanku…. Dan, dia tidak jauh. Tuhan yang kusembah kutemukan di sini.
Tuhanku panik ketika tanggul jebol. Tuhanku menjerit melolong saat banjir menghantam rumah. Tuhanku tergopoh-gopoh bingung. Membawa sebuntal barang yang sempat diselamatkan. Anak di gendongan. Tangan anak yang lain di genggaman. Basah kuyub. Kalut berlari ke arah tanggul dikejar air yang makin naik.
Tuhanku tidak pernah merasa aman. Tuhanku tidak pernah hidup tenteram. Dia tidak pernah sejahtera. Dia bahkan menjadi miskin lagi. Saat ini pun Dia masih berdoa, pasrah, tanpa daya,
“Jika mungkin, ya Bapa, singkirkanlah cawan ini dariKu. Namun, terjadilah padaKu menurut kehendakMu.”
Si Kecil Kena TBC
Dia diambil dari Liposos kira-kira dua bulan lalu. Turun dari kereta api, dia langsung disanggong oleh polsuska. Lalu dibawa ke Liposos. Itu cerita pendeknya. Tak ada yang tahu pasti asal usulnya. Logat kayak orang Sunda. Usia tidak jelas. Mungkin 6 tahun. Mungkin juga lebih. Badannya pendek mungil.
Saat itu, tiap kali ketemu orang baru di sekretariat, dia langsung minta dipeluk. Itu caranya memperkenalkan diri. Kemudian tangannya akan meraba ke belakang…dompet pun lenyap. Terampil banget. Di kedua paha belakang penuh bekas luka bakar kecil-kecil. Kayak sudutan rokok.
Sudah dua bulan ini dia tinggal di sanggar. Menjadi yang paling muda dan paling kecil. Kesayangan setiap orang. Gayanya tetap sama bila ketemu orang. Minta dipeluk, duduk di pangkuan, mencium pipi…tapi tangannya gak lagi meraba ke belakang. Sudah sopan, kata anak-anak.
Hampir setiap orang penasaran menanyakan asalnya. Jawabannya gak pernah jelas. Berubah-ubah kayak hembusan angin. Dia hanya konsisten bila menjawab satu pertanyaan. Mau jadi apa kalo udah besar. Jadi preman.
Suatu saat dia mulai cerita. Dia punya ibu, bapak tiri, dan kakak nun jauh di sana. Pernah sekolah di TK. Bapaknya selalu nyuruh dia cari duit. Entah gimana caranya. Tiap kali pulang tanpa duit, si bapak menghajar dia. Suatu kali sang bapak mengancam mau menggorok lehernya. Dia lari. Sampai sekarang. Gak kangen ibu? Gak kangen teteh? Gak ingin pulang? Satu kata dan konsisten jawabannya. Gak. Dengan gaya yang sangat cuek.
Sejak ketemu, dia udah batuk-batuk. Bisa semalaman meriam di tenggorokannya bunyi. Kadang sampai pagi. Kadang juga diiringi demam. Beberapa kali dibawa ke klinik. Berkurang sich batuknya. Tapi, kemudian kambuh lagi. Badannya sampai kurus. Akhirnya beberapa hari yang lalu periksa semuanya. Pake rontgen dan cek darah segala. Mahal banget. Tapi, demi anak….
Kemarin relawan yang ngantar dia check up telpon,
“Hasil check baru diperiksa dokter besok pagi. Tapi, kata dokter, kemungkinan besar si kecil kena TBC, Mo.”
Aku tidak terkejut. Tapi, sesaat kemudian aku terpekur…terpikir si kecil itu…terpikir anak-anak lain…teman-teman relawan…diriku sendiri….
TBC….
Mereka tetap Bermain
Kuperhatikan mereka dari seberang jalan. Begitu asik bermain di tengah jalan, di sekitar pagar pembatas jalur. Tawa dan teriakan gembira seakan mau membelah langit malam. Lari ke sana ke mari, seolah-olah ini lapangan, bukan jalan raya. Sesekali mereka mendekati mobil yang berhenti di lampu merah dekat situ.
Ini hari sudah larut malam. Sejak tadi hawa beranjak dingin. Mereka tidak peduli. Mungkin saat ini anak-anak lain sudah merasakan hangatnya selimut dan empuknya bantal. Mereka tetap bermain.
Kemudian seorang ibu tua muncul dari salah satu ujung perempatan. Rupanya sejak tadi mendekam di bawah salah satu emperan sana. Ia mendekati anak-anak itu. Seperti memarahi mereka. Anak-anak itu langsung aktif mendekati mobil-mobil membawa alat musik darurat mereka. Permainan berhenti.
Ternyata perhentian itu tidak lama. Begitu kendaraan sepi, mereka bermain lagi. Asyik banget. Anak-anak…. Mereka menikmati hidup dengan bermain. Adakah yang salah?
Tapi, ibu tua itu muncul lagi. Marah-marah lagi. Anak-anak pun mengemis ke mobil-mobil lagi.
“Itu ibu mereka,” tutur salah satu anak yang duduk di sebelahku.
Aku kaget.
“Iya…, dia menyuruh anak-anaknya cari uang,” lanjutnya begitu melihat reaksi kagetku.
“Setiap malam ya seperti itu. Ibunya sembunyi di sebelah sana. Lalu kalo anak-anak itu gak kerja, ibunya selalu marah-marah seperti tadi itu,” sambung temannya.
Wah, terus…siapa yang harus cari uang? Orang tua atau anaknya yang masih kecil-kecil itu?
Mereka masih terus bermain. Aku pun tetap asyik memperhatikan kegembiraan mereka.
Minggat
Aku termenung. Melamun dan masgul. Sejak sore keliling, berharap, mencari, dan bertanya. Tidak kutemukan juga. Tempat ini adalah damparan terakhir untuk malam ini. Entah udah berapa lama aku duduk di sini. Tak terhitung berapa batang rokok jadi korban amukan hati. Tidak ada kopi. Badan lelah. Pikiran capai. Kegelisahan di hati serasa tak terkatakan lagi.
Dua anakku pergi. Minggat, kata orang Jawa. Persoalannya sepele. Mereka sudah lama bolos. Yang satu plus berantem di sekolah. Masalah sebenarnya sudah selesai setelah komunikasi dengan sekolah. Tetapi, ada kabar angin, entah berhembus dari ujung bumi sebelah mana, bahwa mereka diminta mundur.
Rasa bersalah bertubi-tubi menghantam batin. Sesal menyusul tanpa ampun lagi. Mengapa hal ini tidak kupikirkan? Mengapa aku tidak antisipasi dulu? Mengapa justru sekolah yang lebih dulu kuurus dan bukan anak-anak? Mengapa…mengapa…dan terus menerus mengapa…. Aku seperti tidak pernah mengenal anak-anakku.
Anak-anak ini berkali-kali mengalami penolakan. Tetapi, mereka tidak pernah terbiasa dengan penolakan. Perasaan mereka begitu peka. Banyaknya penolakan justru membuat mereka tidak mampu menerimanya. Lari adalah jalan terbaik dalam benak mereka. Pengalaman kekerasan di jalan tidak pernah membuat hati mereka kebal.
Aku yakin sekali mereka akan survive. Jalanan adalah hidup mereka. Namun, rasa gundah tidak berkurang. Bayangan akan realitas kehidupan jalanan makin menggerogoti hati. Tidak rela rasanya mereka mengalami kekerasan lagi. Tidak bisa hati ini membiarkan mereka terkena pengaruh jalanan lagi.
Kulirik jam di HP. Malam telah lewat satu setengah jam lalu. Dini hari makin merangkak. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan sekarang. Aku berjalan menuju sepeda motor. Masih ada waktu untuk mencari. Harapanku tidak padam.
Tuhan…Engkau yang mencipta mereka, temanilah mereka di mana saja mereka berada saat ini…please!
Leave a Comment
Leave a Comment
Leave a Comment


