Kisah Seorang Anak dan Kakeknya
August 26th, 2011 § 4 Comments
Entah kenapa, tiba-tiba aku ingat anak itu. Sudah lama berlalu. Sejak ia menghilang sampai sekarang ini.
Anak itu masih kecil. Di awal belasan tahun. Saat itu, dia hidup berdua dengan kakeknya. Kakeknya selalu sakit. Itu kesanku yang masih hangat tentang si kakek. Sakit karena usia tua.
Irama hidup si anak ketika itu seperti sudah rutin. Tiap pagi berangkat ke sekolah. Siang hari pulang. Dilanjutkan bermain dengan teman-temannya. Tapi, lebih sering dia pergi bermain PS. Sampai sore.
Ketika petang datang, dia selalu terlihat menuntun kakek ke perempatan. Si kakek didudukkan di salah satu sudut. Lalu dia ngamen di sekitar situ. Tidak pernah jauh dari tempat kakek duduk. Kendaraan-kendaraan di lampu merah menjadi sasarannya.
Ketika malam sudah larut. Kendaraan yang lalu lalang sudah banyak berkurang. Si kakek tercinta dia bantu berdiri. Kemudian dituntunnya pulang.
Itu irama hidupnya. Bisa dipastikan. Praktis jarang berubah. Kecuali jika sakit kakeh lagi parah. Terpaksa berbaring terus di dipan.
Hidup mereka berdua ditopang oleh si cucu berbudi ini. Makan, pengobatan kakek, sekolah, dan main PS dibiayai oleh hasil ngamen si cucu. Memang tidak seberapa. Tapi sejauh ini lumayan. Ajaran kakek, hidup ini keras. Namun, mereka masih bisa bertahan.
Suatu saat dia tampak begitu murung di pinggir jalan. Dia merasa kecewa ketika tidak banyak orang di mobil-mobil memberinya uang. Kata mereka, dia malas. Memberi uang hanya akan melestarikan kemalasan anak-anak seperti dia. Padahal hidup di jalan bukan pilihannya. Dia ngamen untuk hidupnya, hidup kakeknya, dan biaya obat kakek.
Kalo tidak mau dikatakan malas, harus kerja. Tapi, kerja apa untuk anak kelas 5 SD?
Kemudian…. Tiba-tiba teman-temannya mengabari kami. Beberapa hari sebelumnya si kakek meninggal. Teman-teman langsung pergi ke rumahnya. Dia tidak ada. Tetangga-tetangga tidak tahu ke mana si anak berbudi pergi. Sekolah didatangi. Ternyata dia tidak pernah masuk sejak kakek wafat.
Selama beberapa minggu para relawan berkeliling mencari info. Mendatangi tetangga-tetangga lagi. Sekolahnya juga rajin dikunjungi. Tidak ada hasil. Sampai sekarang….
Rasa sedih dan sesal masih saja kurasakan. Tapi, hidup yang keras telah menjadi bagian dirinya. Telah mengajarinya banyak hal. Tuhan pun tidak akan diam berhadapan dengan kemalangannya. Maka, aku yakin dia akan survive. Walo itu tidak mengurangi pedih di hati….
Aku membayangkan dia dalam sepi. Sedih. Tapi aku juga yakin dia akan bertahan dan berjuang. Apa visinya? Itu yang kukuatirkan. Balas dendam entah pada apa? Menjadi orang seperti kebanayakan? Menjadi apa dia ingin dirinya? Pasti akan ada teman-teman baru yang melingkupinya.
trims, udah mampir, Yul.
Blogwalking mo…
Nice Blog, mari berbagi cerita, mari berbagi hikmah
hi Ribka, thanks udah mampir… blogmu juga asyik…
selamat sore…
kisah yang menarik….
selamat sore juga…terima kasih sudah mampir….