Menggugat Kemerdekaan

August 17th, 2011 § 4 Comments

Kompas tanggal 15 Agustus kemarin menyajikan kabar mengenaskan. Sepasang suami istri bunuh diri karena miskin. Di negara yang sudah lebih dari 60 tahun merdeka, masih ada orang bunuh diri karena kemiskinan????!!!!!!

Beberapa tahun lalu, berita lain lebih menyakitkan hati. Anak bunuh diri karena orang tua tidak mampu bayar sekolah. Di negara yang sudah 60 tahun lebih merdeka, masih ada anak negeri ini bunuh diri karena tidak bisa bayar sekolah?????!!!!!

Metro TV tanggal 2 Agustus menyiarkan ancaman warga di salah satu daerah terisolasi di Kalbar. Warga siap mengibarkan bendera Malaysia pada saat 17an. Alasannya, karena merasa tidak mendapatkan fasilitas apa pun dari pemerintah. Di negara gemah ripah loh jinawi yang sudah merdeka 60 tahun lebih, masih ada warga hidup miskin dan terisolasi seperti mereka ini?????!!!!

Lebih dari 10.000 KK miskin di Surabaya sedang hidup tak tenang. Ancaman penggusuran demi tol tengah kota membayang. Padahal, kalau jalan tol sudah jadi, kendaraan-kendaraan seperti apa yang boleh lewat? Orang-orang dari golongan mana yang bisa memiliki kendaraan-kendaraan seperti itu? Itukah arti konkret pembangunan demi rakyat, baik golongan atas maupun bawah? Setelah 60 tahun lebih merdeka, masih ada orang-orang mlarat yang digusur dan diusir seperti anjing demi pembangunan?????!!!!!

Korupsi menjadi tumor kanker. Lebih dari 150 kepala daerah diproses hukum karena korupsi. Itu yang ketahuan. Dana untuk menyejahterakan rakyat dimakan oleh orang-orang ini. Tragisnya, kelompok serakah ini, orang-orang yang berfoya-foya di atas renggang nyawa kaum miskin, masih akan terus berkuasa. Berarti tidak akan pernah ada kesejahteraan dan keadilan.

Kaitan erat dengan korupsi adalah ramai-ramai berjualan kekayaan alam kepada bangsa asing. Rasanya seperti melihat orang tua yang menjual keperawanan anak-anaknya. Inikah yang disebut dengan pembangunan nasional untuk mengisi kemerdekaan?

Jangan-jangan, semua itu buah nyata dari sistem pendidikan selama ini. Pendidikan nasional berhasil menciptakan anak negeri berprestasi. Menang di olimpiade internasional matematika dan fisika. Menang dalam lomba bikin robot keren. Tetapi,terciptakah orang-orang yang punya hati buat sesama? Logical outcome-nya justru orang-orang serakah. Tega menciptakan kondisi yang membuat orang miskin bunuh diri!

Itulah fakta kemerdekaan. Karena itu, haruskah kemerdekaan bangsa ini disyukuri? Sementara yang ada justru fakta yang kiranya hanya terjadi ketika masih dijajah. Lalu, apa arti upacara bendera? Untuk apa menyanyikan lagu Indonesia Raya di tengah kemiskinan ciptaan anak negeri sendiri?

Sekarang, di mana Gereja, kumpulan orang-orang yang percaya Tuhan, berdiri dan bagaimana bersikap di tengah situasi seperti ini? Di mana Gereja menempatkan posisinya?

Injil untuk perayaan kemerdekaan, Mat. 22:15-21, menantang setiap orang untuk merenungi posisi masing-masing selama ini.

Memberikan kepada kaisar yang menjadi hak kaisar…. Setiap orang, dengan porsi masing-masing. Paling gampang adalah pajak. Walau tahu sebagian hasil pajak pasti dimakan oleh birokrat serakah. Kesetiaan warga negara yang luar biasa.

Tetapi, apa yang menjadi hak Allah? Sekedar doa, puji-pujian, dan derma? Itukah yang diminta Allah untuk kita lakukan?

Perintah Allah tidak lain adalah perintah untuk mengasihi. Dalam situasi kacau negeri ini, apa tindakan konkret mengasihi? Bukankah bersikap adil kepada orang-orang yang bekerja pada kita, berani membela kebenaran, memperlakukan manusia sebagai manusia, sikap anti-korupsi, menentang kebijakan-kebijakan yang menyengsarakan rakyat mlarat, dst. adalah wujud nyatanya? Itulah yang harus diberikan kepada Allah sebagai hakNya.

Rasanya tidak ada jalan tengah. Opsi yang tersedia adalah memberikan kepada Tuhan yang menjadi hakNya – itu berarti mewujudkan perintah kasih konkret di tengah situasi konkret sekarang ini, atau sebaliknya, berdiri bersama mereka yang menindas dan menghisap sesama sampai mati dalam kemiskinan. Berdiam diri, tidak melakukan apa-apa, adalah dosa besar (bdk. Mat 25:42-43.45). Diam berarti membiarkan penindasan terus terjadi.

Sekarang, mana yang mau dipilih oleh Gereja, kumpulan orang-orang yang mengaku percaya kepada Allah?

Tagged: , , , , , , , , ,

§ 4 Responses to Menggugat Kemerdekaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Menggugat Kemerdekaan at Cublak Suweng.

meta

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.