Citra dan Cinta

July 13th, 2011 § Leave a Comment

Aku ternganga. Sesekali kepalaku menggeleng. Kadang sesak memenuhi dada. Memaksa untuk menarik nafas panjang. Ceritanya sekarang ini jauh lebih seram daripada sms-sms yang dia kirimkan. Tak kusangka, hari gini masih ada nasib manusia seperti tutur Multatuli dan Lulofs.

Baru aja dia pulang dari daerah perkebunan.Mengorganisir masyarakat pekerja di daerah itu. Tiap langkah dia kabarkan ke aku. Tiap keputusan dia smskan. Tiap peristiwa dia infokan. Dinamika di lapangan lalu serasa gamblang bagiku. Kukenali persoalannya. Kupetakan konflik-konfliknya. Kurunut kompleksitasnya. Jelas banget rasanya.

Tapi, kini, ketika dia duduk di depanku dan bercerita, lain banget. Kompleksitas persoalannya jauh dari kegamblangan yang kugambar. Masih ada pernak-pernik di sana sini. Masih tersimpan konflik-konflik yang lebih besar dan lebih tajam.

Semuanya tentang manusia yang diperlakukan bukan sebagai manusia.

“Minggu depan aku masih kembali ke sana, Mo,” katanya, “masih ada yang harus digarap supaya buruh perkebunan yakin mereka bisa mandiri.”

Aku mengiyakan. Sembari membayangkan sebuah kebangkitan akan terjadi jika keyakinan seperti itu dimiliki.

“Tapi, ini bukan perlawanan. Kita bukan sedang melawan siapa-siapa. Kita sedang meyakinkan bahwa manusia adalah manusia, bukan ayam atau kerbau…punya martabat dan harus dihormati serta menghormati manusia lain karena martabatnya!” lanjutnya tegas.

Kugarisbawahi keyakinannya.

Ini memang bukan gerakan perlawanan. Ini adalah gerakan kemanusiaan. Memanusiakan. Artinya, membuat manusia sadar bahwa dirinya dicipta oleh Yang Mahaesa. Citra Sang Pencipta tak kan pernah lepas dari diri manusia. Itulah martabatnya. Karena itu, manusia harus dihormati, justru karena citra Sang Pencipta melekat padanya sejak di dalam rahim.

Masalahnya, martabat ini dilupakan. Diganti oleh pangkat, kekayaan, prestasi, gelar, warna kulit, agama, suku, dst. Sekarang malah ada yang baru. Manusia adalah gerombolan konsumen di pasar.

Padahal, semua itu berasal dari luar. Ditempelkan. Sekedar tempelan. Bukan dari dalam diri seperti citra Sang Pencipta. Manusia lalu dihargai dan diperlakukan berdasarkan tempelan-tempelan itu. Sang Pencipta, yang selalu mencintai ciptaanNya, dipinggirkan entah ke mana. Dampaknya, terjadilah perbudakan. Penindasan. Pemiskinan. Manusia memperalat manusia lain. Manusia memangsa sesamanya yang secitra dan semartabat.

Ini adalah gerakan kemanusiaan. Mau mengajak para buruh melihat bahwa diri mereka adalah master piece Sang Pencipta Agung. Bahwa citra keagungan Sang Pencipta melekat erat pada jantung kemanusiaannya. Bahwa karena itu Sang Pencipta luar biasa mencintai mereka.

Citra dan cinta Sang Pencipta itulah yang melimpahi kemampuan untuk bangkit berdiri dan mandiri. Citra dan cinta itu pulalah yang harus memotivasi untuk memperlakukan sesama sebagai citra Sang Pencipta. Sesama. Semua orang. Termasuk yang sedang memperalat mereka.

Ini adalah gerakan kemanusiaan….

Malam terasa kian pekat. Obrolan panjang ini menyegarkan. Tapi, ketika berlarut, menyadarkan akan rasa lelah. Berapa jam kami ngobrol? Entah. Ukurannya adalah beberapa bungkus rokok dan tiga cangkir kopi untuk masing-masing.

Dia berdiri. Dipasangnya sarung tangan kesayangannya. Melambaikan tangan sambil tersenyum. Lalu bergerak ke arah motornya.

Kupandang temanku ini menjauh. Kueratkan jaketku sambil berjalan menghampiri motorku. Terparkir jauh di sana. Cukup jauh untuk menggemakan kembali obrolan panjang tadi.

Semua orang adalah citra Sang Pencipta Agung….

Advertisement

Tagged: , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Citra dan Cinta at Cublak Suweng.

meta

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.