Kena DO

Dia diam terpekur. Kepalanya menunduk. Raut sendu dan bingung tak tersembunyi. Tampak jelas. Senyum sesekali terlontar saat bicara denganku. Tapi sama sekali tidak mengurangi kesan penat dan risau. Rokok sudah memendek. Terselip di jari-jarinya. Kopi diseruput pelan. Bicaranya lebih pelan lagi. Lirih. Seakan takut aku kecewa dan marah.

Aku duduk di sebelahnya. Lebih terpekur lagi. Sibuk dengan pikiran dan gundah gulanaku sendiri. Sesekali kusimak kata-katanya. Menerobos telingaku. Menggaung di kalbu. Sambil berusaha agar marah dan kecewa tidak dia tangkap.

Aku tahu persis gejolak hatinya. Edo, koordinator rumah, telah cerita malam tadi. Dia dikeluarkan dari sekolah. Terlalu banyak bolos, kata Edo semalam. Kepala sekolah tidak bisa menolerir lagi. Ini penyakit lama. Pelanggaran paling umum di antara anak-anak seperti dia.

Rasa marah kurasakan sejak semalam. Aku merasa kecewa. Merasa disakiti. Bukan hal gampang mengusahakan dia bisa sekolah. Donatur harus dicari. Sekolah harus didekati. Karena umur dia sudah di atas rata-rata. Perlu lobi juga untuk mendapat kemurahan SPP. Untung, malah dapat gratis. Yang paling sulit, memotivasi dia. Terkuras energi untuk membentengi motivasi. Rasanya semua itu sia-sia…. Kerja tanpa manfaat….

Sekarang, haruskah rasa marah kulampiaskan?

Dia masih di situ. Terdiam sekarang. Benakku masih liar menggagas. Anak-anak seperti ini. Lama di jalanan. Bebas semaunya. Tidak terbiasa duduk lama. Lebih-lebih duduk menghadapi buku. Apalagi mendengarkan orang ngomong berjam-jam. Jelas, tidak ada budaya membaca dan belajar. Sejak mereka kecil. Mampukah semua itu dihapus hanya dalam waktu beberapa tahun?

Sementara, pedihnya hidup jalanan menciptakan kelabilan tingkat tinggi. Kadang tak bisa kupahami. Jalanan memang minim akan pengalaman cinta. Kekerasan lebih kerap mereka telan. Akibatnya, sedikit masalah dengan guru, teman, atau tugas, langkah seribu yang dipilih. Sedikit saja rasa aman terancam, dunia seakan menjadi musuh.

Apakah kejadian ini berarti sekolah formal tidak cocok bagi mereka? Ada saat-saat keberhasilan bisa dipeluk. Beberapa anak bisa lulus. Meski harus dengan banyak peluh dan air mata. Dua tiga anak sudah berhasil dalam pekerjaan. Tapi, lebih banyak yang gagal. Apakah ini tanda bahwa kami sebenarnya tidak sanggup mengurus mereka?

Kepalaku pusing. Migrain makin bikin cenut-cenut. Lebih baik pulang dulu. Mendekam dalam kesunyian kamar.

No comments yet

Leave a reply