Archive for October, 2009|Monthly archive page

Di Atas Tangkis

“Itu, Mo. Mereka tidur di atas tangkis itu!” tuding relawan yang kubonceng.

Tangkis adalah tanah urukan dari bawah kali Jagir yang dinaikan ke atas. Menjadi semacam tanggul pendek sepanjang kali.

Aku tidak melihat sosok orang di atasnya. Cuma becak terparkir yang kukenali. Tapi, begitu motor menepi, kulihat mereka. Si ibu tampak terbaring tidur. Beralas karpet hitam tipis. Diletakkan di atas lembaran kain goni. Persis di atas tanah tangkis. Di bawah kakinya langsung mulut kali Jagir.

Sejak penggusuran kedua stren kali, di situlah mereka hidup. Tidak ada lagi tempat bernaung. Kecuali langit terbuka di atas. Tiada lagi dinding bambu dan kardus. Hanya berdinding angin. Sekarang tiap bangunan baru mengundang penggusuran berikutnya. Lalu, itulah rumah mereka. Tanpa perabotan. Cuma karung goni dan karpet itu harta mereka. Entah akan ke mana jika musim hujan datang sebentar lagi.

Si bapak lagi menyalakan api. Mencoba mendapatkan kehangatan bagi rumahnya yang berangin. Kayunya bekas perabotan. Tersisa dari penggusuran. Begitu melihat kami, bergegas ia berdiri. Menyalami dengan senyum ramah.

“Kok lama gak dolan,” sapanya.

Aku cuma bisa tersenyum. Masih kaget dengan perubahan drastis hasil mahakarya Pemkot. Dulu mereka masih punya rumah gubuk. Satu ruangan. Si ibu biasa jualan minuman di depan. Lumayan buat nambah penghasilan. Sekarang, rumah habis. Pekerjaan si ibu juga hilang. Penghasilan berkurang banget.

Si ibu pun terbangun. Kaget melihat kami. Terhuyung-huyung mengangkat badannya berdiri. Dia gemuk. Berbasa-basi sebentar. Kemudian, dia bilang,

“Dah gak ada apa-apa lagi sekarang, Mas. Gak bisa lagi nyuguhi minuman. Nyuwun ngapunten ingkang sanget, lho Mas.”

Matanya mulai berair. Aku terdiam. Kaget. Gak mengira. Dia masih sempat minta maaf. Tidak punya minum untuk disajikan bukan salahnya….

Kena DO

Dia diam terpekur. Kepalanya menunduk. Raut sendu dan bingung tak tersembunyi. Tampak jelas. Senyum sesekali terlontar saat bicara denganku. Tapi sama sekali tidak mengurangi kesan penat dan risau. Rokok sudah memendek. Terselip di jari-jarinya. Kopi diseruput pelan. Bicaranya lebih pelan lagi. Lirih. Seakan takut aku kecewa dan marah.

Aku duduk di sebelahnya. Lebih terpekur lagi. Sibuk dengan pikiran dan gundah gulanaku sendiri. Sesekali kusimak kata-katanya. Menerobos telingaku. Menggaung di kalbu. Sambil berusaha agar marah dan kecewa tidak dia tangkap.

Aku tahu persis gejolak hatinya. Edo, koordinator rumah, telah cerita malam tadi. Dia dikeluarkan dari sekolah. Terlalu banyak bolos, kata Edo semalam. Kepala sekolah tidak bisa menolerir lagi. Ini penyakit lama. Pelanggaran paling umum di antara anak-anak seperti dia.

Rasa marah kurasakan sejak semalam. Aku merasa kecewa. Merasa disakiti. Bukan hal gampang mengusahakan dia bisa sekolah. Donatur harus dicari. Sekolah harus didekati. Karena umur dia sudah di atas rata-rata. Perlu lobi juga untuk mendapat kemurahan SPP. Untung, malah dapat gratis. Yang paling sulit, memotivasi dia. Terkuras energi untuk membentengi motivasi. Rasanya semua itu sia-sia…. Kerja tanpa manfaat….

Sekarang, haruskah rasa marah kulampiaskan?

Dia masih di situ. Terdiam sekarang. Benakku masih liar menggagas. Anak-anak seperti ini. Lama di jalanan. Bebas semaunya. Tidak terbiasa duduk lama. Lebih-lebih duduk menghadapi buku. Apalagi mendengarkan orang ngomong berjam-jam. Jelas, tidak ada budaya membaca dan belajar. Sejak mereka kecil. Mampukah semua itu dihapus hanya dalam waktu beberapa tahun?

Sementara, pedihnya hidup jalanan menciptakan kelabilan tingkat tinggi. Kadang tak bisa kupahami. Jalanan memang minim akan pengalaman cinta. Kekerasan lebih kerap mereka telan. Akibatnya, sedikit masalah dengan guru, teman, atau tugas, langkah seribu yang dipilih. Sedikit saja rasa aman terancam, dunia seakan menjadi musuh.

Apakah kejadian ini berarti sekolah formal tidak cocok bagi mereka? Ada saat-saat keberhasilan bisa dipeluk. Beberapa anak bisa lulus. Meski harus dengan banyak peluh dan air mata. Dua tiga anak sudah berhasil dalam pekerjaan. Tapi, lebih banyak yang gagal. Apakah ini tanda bahwa kami sebenarnya tidak sanggup mengurus mereka?

Kepalaku pusing. Migrain makin bikin cenut-cenut. Lebih baik pulang dulu. Mendekam dalam kesunyian kamar.