Archive for July, 2009|Monthly archive page

Si Mata Bening

Kopi hitam terasa nikmat di pagi itu. Kopi pembuka hari. Kuseruput perlahan. Panasnya menyegarkan. Rasanya jelas kalah dibandingkan kopi 3 in 1. Namun, suasana di warung menggenjot rasa di hati. Sesekali kutanggapi celotehan rame sesama pesinggah.

Sejak tadi mataku tak lepas dari sosok kecil. Dia di seberang sana. Seorang anak. Bajunya agak dekil. Lagi bermain dengan caranya sendiri. Wajahnya ceria walo sedang sendirian. Matanya tampak bening. Satu keasikan yang baru kutemukan. Nonton anak yang asik bermain. Menikmati ekspresi diri yang murni. Mengagumi kreativitas yang kadang tak pernah kupikirkan.

Sekelompok anak berseragam dan sebaya mendekat. Mau lewat. Anak tadi kelihatan jadi lebih ceria. Menyapa rombongan itu dengan riang. Disambut dengan kegembiraan yang selevel pula. Mereka pasti berteman. Beberapa mencoba permainannya. Kegembiraan seperti itu pernah kualami. Asik.

Tapi, rombongan itu tidak lama. Hanya sekedar mampir. Jam sekolah pasti sudah menanti. Mereka pun pamit dan beranjak. Si anak tadi ditinggal. Sendiri lagi. Berdiri menatap langkah mereka dengan sendu. Mata bening itu tidak riang lagi. Musna sudah keasikannya bermain.

Aku bangkit. Kuseberangi jalan. Kuhampiri dia.

“Itu tadi siapa?” tanyaku.

“Teman, Pak,” jawabnya lugu.

“Kok kamu gak sekolah?” lanjutku.

“Kata bapak, gak ada uang, Pak.”

Sudah kuduga. Kutatap matanya. Memang bening. Tapi, memang tidak ria lagi. Anak yang lugu dan polos. Ditanya orang asing pun tetap jujur menjawab. Tak ada kecurigaan. Hatinya masih bersih. Hati seorang anak.

Mata itu menarik hatiku. Si mata bening pasti gak paham hubungan antara tidak ada uang dan tidak sekolah. Gak akan sampai di akalnya mengapa kok tidak ada uang. Yang dia tahu, temannya sekolah dia tidak.

Si mata bening itu berjongkok. Melas. Nanar mata beningnya mengiring langkah menjauh teman-temannya. Lalu, ogah-ogahan melempar-lempar kerikil. Terbang sudah keriangan seorang anak. Melayang pula semangatku, bekal di hari itu….