Jagir…di Awal Mei
Terputar di benakku rekaman kejadian sejak pagi subuh kemarin. Polisi dan satpol PP berbaris tegap, rapi, dan galak. Mungkin jumlah mereka ribuan. Sebagian polisi bertameng dan bertopi ala Star Wars. Sebagian dari mereka bersenapan tergantung di dada. Maut menjadi bayangan mereka. Pak bego (back hole) dan buldozer bersiap di ujung sana.
Berhadapan dengan orang-orang gagah perkasa ini adalah warga. Tak bersenjata. Mereka penuh dengan emosi, kelimpungan, bingung, pasrah, tak berdaya… putus asa. Berjajar dalam barisan kacau. Berdiri. Lalu duduk berjongkok. Lalu berdiri lagi. Gak yakin. Mulut komat-kamit merapalkan doa. Beberapa jatuh berlutut sembari menangis sesenggukan memegang tongkat berkibaran merah putih. Masihkah sang merah putih berarti bagi mereka di saat seperti itu?
Tak lama kemudian pak bego dan buldozer bergerak maju. Rumah-rumah kumuh, kotor, tak layak huni, yang selama ini melusuhi wajah kota, dihantam dan diterjang. Tiada ampun. Wajah-wajah lusuh para pemilik makin tak berdaya.
Aku ingat persis saat-saat itu. Kaum lelaki berdiri dengan wajah tegang penuh kemarahan sekaligus keputusaasan. Rumah hasil keringat dan menabung bertahun-tahun dihancurkan di depan mata. Ibu-ibu menjerit, melolong, berlelehan air mata sia-sia. Hancur sudah harapan membesarkan anak dalam sebuah rumah. Anak-anak kecil berdiri dengan mata nanar dan bingung, tangan berpegang kuat pada baju orang tua, badan gemetaran hebat. Tak ada bayangan tentang apa yang terjadi, mengapa ada begitu banyak orang berseragam berparas kaku tak ramah, mengapa rumah mereka dihancurkan, dan seterusnya.
Kuingat momen itu dengan hati seperti diiris-iris dari pagi hingga malam.
Tak kan kulupakan wajah-wajah tak berdaya berpagar tameng, pentungan, dan senjata laras panjang. Masih bergaung kuat teriak dan jerit orang yang sedang diluluhlantakkan hidup dan asanya. Terbayang jelas wajah ketakutan dan badan gemetaran anak-anak di depanku. Penderitaan yang tak muat dalam rumusan kata maupun aksara. Kepedihan hati yang mustahil diceritakan saat itu…hanya bisa dirasakan. Lumatlah asa ratusan kepala keluarga. Musna jua keyakinan diri bahwa mereka manusia. Bukan binatang yang hidup dalam lingkaran pengejaran, perburuan, pengusiran.
Itu semua tak mungkin kulupa. Akan senantiasa kukenang mereka saat kuangkat cawan penderitaan. Junjunganku telah disalibkan bersama mereka kemarin. Semoga penderitaan Junjunganku melindungi citraNya yang digusur ke dalam penghinaan.
untuk teman-teman di Jagir, 5 Mei 2009
1 comment so far
Leave a reply



Aku mampir sebentar untuk minum kopi dari gelas romo. Wah, jadi lebih melek mataku, mo. Salam.
suwun, yuli. kita saling meminum hehehe….