Archive for May, 2009|Monthly archive page

“Yang Terhormat”, Mengapa?

Aku duduk bersila, berhimpitan dengan yang lain di ruangan ini. Bukan ruangan sebenarnya. Setengah terbuka. Persis di pinggir kali. Sebagian  duduk di tengah jalan sempit beralas koran dan kardus. Lampu tidak seberapa terang. Asap rokok mengepul dan melayang. Segera menghilang dari pandangan begitu mencapai udara terbuka. Seperti itulah asa yang tersisa di hati mereka. Kira-kira.

Kutatap satu persatu wajah-wajah di sini. Wajah-wajah lelah. Marah. Tegang. Berpengharapan hanya setengah. Mungkin malah kurang dari itu. Itu pun kalau masih tersisa.  Apa yang ada di benak mereka? Apalagi kalau bukan ancaman penggusuran….

Mereka tidak sungguh tahu mengapa rumah-rumah mereka harus digusur. Tidak ada pemahaman yang pasti. Hanya kira-kira, prasangka, dugaan. Bahwa stren kali akan dijadikan daerah pariwisata sungai dengan biaya ADB. Kira-kira seperti itu. Sekali lagi, hanya dugaan. Justru karena hanya dugaan, amarah menjadi penguasa orang-orang ini. Merasa dikorbankan. Merasa dikalahkan demi sebuah pariwisata. Dianggap hanya sampah yang cuman pantas dibuang.

Mengapa para penguasa nan arif budiman tidak pernah berbicara kepada mereka? Mengapa sosialisasi tidak pernah jalan? Mengapa selalu “tidak ada di tempat” tiap kali para “yang terhormat” didatangi dan ditanyai? Apakah orang-orang ini hanyalah anak-anak yang tidak bisa berpikir sendiri, sehingga harus ada seorang bapak yang membuatkan keputusan bagi hidup mereka? Apakah mereka hanyalah sekumpulan binatang dengan perasaan tumpul dan otak macet, sehingga tidak perlu lagi ditanya? Mengapa penjelasan memadai kepada orang-orang seperti ini tidak pernah dirasa perlu?

Hati kembali teriris teringat penggusuran awal Mei lalu. Haruskah orang-orang ini diperlakukan seperti binatang yang dihancurkan dan diusir? Manusia…siapakah yang masih manusia?

Jagir…di Awal Mei

Terputar di benakku rekaman kejadian sejak pagi subuh kemarin. Polisi dan satpol PP berbaris tegap, rapi, dan galak. Mungkin jumlah mereka ribuan. Sebagian polisi bertameng dan bertopi ala Star Wars. Sebagian dari mereka bersenapan tergantung di dada. Maut menjadi bayangan mereka. Pak bego (back hole) dan buldozer bersiap di ujung sana.

Berhadapan dengan orang-orang gagah perkasa ini adalah warga. Tak bersenjata. Mereka penuh dengan emosi, kelimpungan, bingung, pasrah, tak berdaya… putus asa. Berjajar dalam barisan kacau. Berdiri. Lalu duduk berjongkok. Lalu berdiri lagi. Gak yakin. Mulut komat-kamit merapalkan doa. Beberapa jatuh berlutut sembari menangis sesenggukan memegang tongkat berkibaran merah putih. Masihkah sang merah putih berarti bagi mereka di saat seperti itu?

Tak lama kemudian pak bego dan buldozer bergerak maju. Rumah-rumah kumuh, kotor, tak layak huni, yang selama ini melusuhi wajah kota, dihantam dan diterjang. Tiada ampun. Wajah-wajah lusuh para pemilik makin tak berdaya.

Aku ingat persis saat-saat itu. Kaum lelaki berdiri dengan wajah tegang penuh kemarahan sekaligus keputusaasan. Rumah hasil keringat dan menabung bertahun-tahun dihancurkan di depan mata. Ibu-ibu menjerit, melolong, berlelehan air mata sia-sia. Hancur sudah harapan membesarkan anak dalam sebuah rumah. Anak-anak kecil berdiri dengan mata nanar dan bingung, tangan berpegang kuat pada baju orang tua, badan gemetaran hebat. Tak ada bayangan tentang apa yang terjadi, mengapa ada begitu banyak orang berseragam berparas kaku tak ramah, mengapa rumah mereka dihancurkan, dan seterusnya.
Kuingat momen itu dengan hati seperti diiris-iris dari pagi hingga malam.

Tak kan kulupakan wajah-wajah tak berdaya berpagar tameng, pentungan, dan senjata laras panjang. Masih bergaung kuat teriak dan jerit orang yang sedang diluluhlantakkan hidup dan asanya. Terbayang jelas wajah ketakutan dan badan gemetaran anak-anak di depanku. Penderitaan yang tak muat dalam rumusan kata maupun aksara. Kepedihan hati yang mustahil diceritakan saat itu…hanya bisa dirasakan. Lumatlah asa ratusan kepala keluarga. Musna jua keyakinan diri bahwa mereka manusia. Bukan binatang yang hidup dalam lingkaran pengejaran, perburuan, pengusiran.

Itu semua tak mungkin kulupa. Akan senantiasa kukenang mereka saat kuangkat cawan penderitaan. Junjunganku telah disalibkan bersama mereka kemarin. Semoga penderitaan Junjunganku melindungi citraNya yang digusur ke dalam penghinaan.

untuk teman-teman di Jagir, 5 Mei 2009