Archive for March, 2009|Monthly archive page
Tuhanku Kebanjiran…
Aku berdiri di atas tanggul. Setelah satu tahun lebih, kini aku di tempat ini lagi. Di depanku hamparan sawah terpapar luas. Hijau. Berair berlebihan. Banjir. Padi kecil-kecil. Pasti belum sampai satu bulan menghidupi diri dengan tanah bumi desa ini. Umur yang sangat pendek. Bengawan Solo akan segera menghabisinya.
Terkenang tahun lalu, ketika datang ke tempat ini. Padinya kuning. Siap dipanen. Tapi itu tinggal mimpi. Banjir duluan memanen padi. Kerja keras berbulan-bulan digasak habis dalam hitungan jam. Petani pun gak sempat menangis. Banjir buruan masuk rumah. Ada yang lebih penting daripada menangisi padi dan kedelai. Ngurusin keluarga. Ambil barang seperlunya. Selamatkan ternak cepat-cepat. Terus ngungsi.
Tahun lalu dan sekarang. Apa bedanya? Padi kuning dan hijau sama nasibnya.
Tanggul penahan Bengawan Solo mulai jebol beberapa menit setelah peralihan malam ke pagi. Air menyembur deras ke perumahan. Teriakan panik ibu-ibu terasa perih di hati. Jerit tangis mereka mengiris kalbu tanpa ampun. Buah keringat sekian lama akan disapu bersih dalam hitungan menit. Mengapa rasa aman cuma sekejap? Mengapa tenteram hanyalah khayalan sesaat? Mengapa kesejahteraan ada di bibir petinggi belaka?
Hati pilu memandang hamparan air. Kucoba berdoa. Menemukan Tuhanku…. Dan, dia tidak jauh. Tuhan yang kusembah kutemukan di sini.
Tuhanku panik ketika tanggul jebol. Tuhanku menjerit melolong saat banjir menghantam rumah. Tuhanku tergopoh-gopoh bingung. Membawa sebuntal barang yang sempat diselamatkan. Anak di gendongan. Tangan anak yang lain di genggaman. Basah kuyub. Kalut berlari ke arah tanggul dikejar air yang makin naik.
Tuhanku tidak pernah merasa aman. Tuhanku tidak pernah hidup tenteram. Dia tidak pernah sejahtera. Dia bahkan menjadi miskin lagi. Saat ini pun Dia masih berdoa, pasrah, tanpa daya,
“Jika mungkin, ya Bapa, singkirkanlah cawan ini dariKu. Namun, terjadilah padaKu menurut kehendakMu.”
Leave a Comment


