Si Kecil Kena TBC

Dia diambil dari Liposos kira-kira dua bulan lalu. Turun dari kereta api, dia langsung disanggong oleh polsuska. Lalu dibawa ke Liposos. Itu cerita pendeknya. Tak ada yang tahu pasti asal usulnya. Logat kayak orang Sunda. Usia tidak jelas. Mungkin 6 tahun. Mungkin juga lebih. Badannya pendek mungil.

Saat itu, tiap kali ketemu orang baru di sekretariat, dia langsung minta dipeluk. Itu caranya memperkenalkan diri. Kemudian tangannya akan meraba ke belakang…dompet pun lenyap. Terampil banget. Di kedua paha belakang penuh bekas luka bakar kecil-kecil. Kayak sudutan rokok.

Sudah dua bulan ini dia tinggal di sanggar. Menjadi yang paling muda dan paling kecil. Kesayangan setiap orang. Gayanya tetap sama bila ketemu orang. Minta dipeluk, duduk di pangkuan, mencium pipi…tapi tangannya gak lagi meraba ke belakang. Sudah sopan, kata anak-anak.

Hampir setiap orang penasaran menanyakan asalnya. Jawabannya gak pernah jelas. Berubah-ubah kayak hembusan angin. Dia hanya konsisten bila menjawab satu pertanyaan. Mau jadi apa kalo udah besar. Jadi preman.

Suatu saat dia mulai cerita. Dia punya ibu, bapak tiri, dan kakak nun jauh di sana. Pernah sekolah di TK. Bapaknya selalu nyuruh dia cari duit. Entah gimana caranya. Tiap kali pulang tanpa duit, si bapak menghajar dia. Suatu kali sang bapak mengancam mau menggorok lehernya. Dia lari. Sampai sekarang. Gak kangen ibu? Gak kangen teteh? Gak ingin pulang? Satu kata dan konsisten jawabannya. Gak. Dengan gaya yang sangat cuek.

Sejak ketemu, dia udah batuk-batuk. Bisa semalaman meriam di tenggorokannya bunyi. Kadang sampai pagi. Kadang juga diiringi demam. Beberapa kali dibawa ke klinik. Berkurang sich batuknya. Tapi, kemudian kambuh lagi. Badannya sampai kurus. Akhirnya beberapa hari yang lalu periksa semuanya. Pake rontgen dan cek darah segala. Mahal banget. Tapi, demi anak….

Kemarin relawan yang ngantar dia check up telpon,

“Hasil check baru diperiksa dokter besok pagi. Tapi, kata dokter, kemungkinan besar si kecil kena TBC, Mo.”

Aku tidak terkejut. Tapi, sesaat kemudian aku terpekur…terpikir si kecil itu…terpikir anak-anak lain…teman-teman relawan…diriku sendiri….

TBC….

1 comment so far

  1. Emilia K Ratu on

    Duuuh…aku hanya bisa ngelus dada sambil berguman ‘ Duh Gusti ‘. Hampir tidak berani membayangkan seperti apa kondisi anak itu. Miris ! Langsung doa dalam hati terucap untuk semuanya….

    terima kasih doanya, mbak….


Leave a reply