Mereka tetap Bermain

Kuperhatikan mereka dari seberang jalan. Begitu asik bermain di tengah jalan, di sekitar pagar pembatas jalur. Tawa dan teriakan gembira seakan mau membelah langit malam. Lari ke sana ke mari, seolah-olah ini lapangan, bukan jalan raya. Sesekali mereka mendekati mobil yang berhenti di lampu merah dekat situ.

Ini hari sudah larut malam. Sejak tadi hawa beranjak dingin. Mereka tidak peduli. Mungkin saat ini anak-anak lain sudah merasakan hangatnya selimut dan empuknya bantal. Mereka tetap bermain.

Kemudian seorang ibu tua muncul dari salah satu ujung perempatan. Rupanya sejak tadi mendekam di bawah salah satu emperan sana. Ia mendekati anak-anak itu. Seperti memarahi mereka. Anak-anak itu langsung aktif mendekati mobil-mobil membawa alat musik darurat mereka. Permainan berhenti.

Ternyata perhentian itu tidak lama. Begitu kendaraan sepi, mereka bermain lagi. Asyik banget. Anak-anak…. Mereka menikmati hidup dengan bermain. Adakah yang salah?

Tapi, ibu tua itu muncul lagi. Marah-marah lagi. Anak-anak pun mengemis ke mobil-mobil lagi.

“Itu ibu mereka,” tutur salah satu anak yang duduk di sebelahku.

Aku kaget.

“Iya…, dia menyuruh anak-anaknya cari uang,” lanjutnya begitu melihat reaksi kagetku.

“Setiap malam ya seperti itu. Ibunya sembunyi di sebelah sana. Lalu kalo anak-anak itu gak kerja, ibunya selalu marah-marah seperti tadi itu,” sambung temannya.

Wah, terus…siapa yang harus cari uang? Orang tua atau anaknya yang masih kecil-kecil itu?

Mereka masih terus bermain. Aku pun tetap asyik memperhatikan kegembiraan mereka.

1 comment so far

  1. ANS on

    Aku juga pernah menyaksikan di perempatan jalan, si anak tidak serius “mencari uang” sambil menggenggan bungkusan ditangannya si ibu marah-marah sambil mencubiti tangan anak kecil, beberapakali kepalanya sempat dipukul. Si anak garuk-garuk kepalanya sambil merengut. Rupanya si anak minta makan karena hari memang sudah lewat tengah hari dan puanasnya bukan main, pasti dia kelaparan. Si ibu mungkin punya kepentingan dengan omset dari si anak yang tidak mencapai target sehingga nasi sebungkus yang ada di tangannya menjadi tinggi harganya/nilainya dibanding omset si anak kecil, maka sebagai kompensasi terjadilah penganiayaan di perempatan jalan yang panas terik.Orang se usiaku saja ga kuat panasnya, apalagi si anak kecil yang kelaparan tapi belum ada setoran.
    Bagaimana kita harus bersikap? ngasih, keenakan mboknya, nggak ngasih kasihan anaknya. Aku? Aku pegang hati nuraniku saja.


Leave a reply