Minggat

Aku termenung. Melamun dan masgul. Sejak sore keliling, berharap, mencari, dan bertanya. Tidak kutemukan juga. Tempat ini adalah damparan terakhir untuk malam ini. Entah udah berapa lama aku duduk di sini. Tak terhitung berapa batang rokok jadi korban amukan hati. Tidak ada kopi. Badan lelah. Pikiran capai. Kegelisahan di hati serasa tak terkatakan lagi.

Dua anakku pergi. Minggat, kata orang Jawa. Persoalannya sepele. Mereka sudah lama bolos. Yang satu plus berantem di sekolah. Masalah sebenarnya sudah selesai setelah komunikasi dengan sekolah. Tetapi, ada kabar angin, entah berhembus dari ujung bumi sebelah mana, bahwa mereka diminta mundur.

Rasa bersalah bertubi-tubi menghantam batin. Sesal menyusul tanpa ampun lagi. Mengapa hal ini tidak kupikirkan? Mengapa aku tidak antisipasi dulu? Mengapa justru sekolah yang lebih dulu kuurus dan bukan anak-anak? Mengapa…mengapa…dan terus menerus mengapa…. Aku seperti tidak pernah mengenal anak-anakku.

Anak-anak ini berkali-kali mengalami penolakan. Tetapi, mereka tidak pernah terbiasa dengan penolakan. Perasaan mereka begitu peka. Banyaknya penolakan justru membuat mereka tidak mampu menerimanya. Lari adalah jalan terbaik dalam benak mereka. Pengalaman kekerasan di jalan tidak pernah membuat hati mereka kebal.

Aku yakin sekali mereka akan survive. Jalanan adalah hidup mereka. Namun, rasa gundah tidak berkurang. Bayangan akan realitas kehidupan jalanan makin menggerogoti hati. Tidak rela rasanya mereka mengalami kekerasan lagi. Tidak bisa hati ini membiarkan mereka terkena pengaruh jalanan lagi.

Kulirik jam di HP. Malam telah lewat satu setengah jam lalu. Dini hari makin merangkak. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan sekarang. Aku berjalan menuju sepeda motor. Masih ada waktu untuk mencari. Harapanku tidak padam.

Tuhan…Engkau yang mencipta mereka, temanilah mereka di mana saja mereka berada saat ini…please!

1 comment so far

  1. ANS on

    Mari coba kita sadari, saat ini mungkin mereka sedang membutuhkan waktu dan tempat untk bercerita. Bercerita tentang kemalangan hidup mereka, bercerita tentang uneg-uneg mereka, bercerita tentang kekecewaan mereka, bercerita tentang orang-orang yang tidak mau mengerti mereka, menerima mereka apa adanya yang sebenarnya mereka tidak mau bernasib seperti itu. Mereka mau berubah, tetapi mereka butuh penopang yang kokoh, yang menjadi tumpuan ketika jiwa menjadi lemah oleh hantaman realita. Kita masih punya Yesus dimana kita bisa berkeluh kesah, kita masih punya orang dekat yang bisa menghibur ketika kita sharing. Mereka? Mereka tidak punya siapa-siapa, tidak kenal-siapa-siapa, sendiri! Karena tidak ada orang mau peduli. Biarlah waktu memberi mereka kesembuhan,mudah-mudahn mereka menemukan keceriaan lagi dan kembali pulang segera..rindu tawanya, rindu nakalnya, rindu gayanya yang melaz..rinduu karena mungkin mereka sudah menjadi bagian hidup kita.Tuhan, kami tidak tahu mereka dimana yang kami tahu mereka tidak lepas dari pandangan mataMu karena mereka adalah milikMu. Thank You untuk yang baru! Salam.


Leave a reply