Archive for February, 2009|Monthly archive page
Si Kecil Kena TBC
Dia diambil dari Liposos kira-kira dua bulan lalu. Turun dari kereta api, dia langsung disanggong oleh polsuska. Lalu dibawa ke Liposos. Itu cerita pendeknya. Tak ada yang tahu pasti asal usulnya. Logat kayak orang Sunda. Usia tidak jelas. Mungkin 6 tahun. Mungkin juga lebih. Badannya pendek mungil.
Saat itu, tiap kali ketemu orang baru di sekretariat, dia langsung minta dipeluk. Itu caranya memperkenalkan diri. Kemudian tangannya akan meraba ke belakang…dompet pun lenyap. Terampil banget. Di kedua paha belakang penuh bekas luka bakar kecil-kecil. Kayak sudutan rokok.
Sudah dua bulan ini dia tinggal di sanggar. Menjadi yang paling muda dan paling kecil. Kesayangan setiap orang. Gayanya tetap sama bila ketemu orang. Minta dipeluk, duduk di pangkuan, mencium pipi…tapi tangannya gak lagi meraba ke belakang. Sudah sopan, kata anak-anak.
Hampir setiap orang penasaran menanyakan asalnya. Jawabannya gak pernah jelas. Berubah-ubah kayak hembusan angin. Dia hanya konsisten bila menjawab satu pertanyaan. Mau jadi apa kalo udah besar. Jadi preman.
Suatu saat dia mulai cerita. Dia punya ibu, bapak tiri, dan kakak nun jauh di sana. Pernah sekolah di TK. Bapaknya selalu nyuruh dia cari duit. Entah gimana caranya. Tiap kali pulang tanpa duit, si bapak menghajar dia. Suatu kali sang bapak mengancam mau menggorok lehernya. Dia lari. Sampai sekarang. Gak kangen ibu? Gak kangen teteh? Gak ingin pulang? Satu kata dan konsisten jawabannya. Gak. Dengan gaya yang sangat cuek.
Sejak ketemu, dia udah batuk-batuk. Bisa semalaman meriam di tenggorokannya bunyi. Kadang sampai pagi. Kadang juga diiringi demam. Beberapa kali dibawa ke klinik. Berkurang sich batuknya. Tapi, kemudian kambuh lagi. Badannya sampai kurus. Akhirnya beberapa hari yang lalu periksa semuanya. Pake rontgen dan cek darah segala. Mahal banget. Tapi, demi anak….
Kemarin relawan yang ngantar dia check up telpon,
“Hasil check baru diperiksa dokter besok pagi. Tapi, kata dokter, kemungkinan besar si kecil kena TBC, Mo.”
Aku tidak terkejut. Tapi, sesaat kemudian aku terpekur…terpikir si kecil itu…terpikir anak-anak lain…teman-teman relawan…diriku sendiri….
TBC….
Mereka tetap Bermain
Kuperhatikan mereka dari seberang jalan. Begitu asik bermain di tengah jalan, di sekitar pagar pembatas jalur. Tawa dan teriakan gembira seakan mau membelah langit malam. Lari ke sana ke mari, seolah-olah ini lapangan, bukan jalan raya. Sesekali mereka mendekati mobil yang berhenti di lampu merah dekat situ.
Ini hari sudah larut malam. Sejak tadi hawa beranjak dingin. Mereka tidak peduli. Mungkin saat ini anak-anak lain sudah merasakan hangatnya selimut dan empuknya bantal. Mereka tetap bermain.
Kemudian seorang ibu tua muncul dari salah satu ujung perempatan. Rupanya sejak tadi mendekam di bawah salah satu emperan sana. Ia mendekati anak-anak itu. Seperti memarahi mereka. Anak-anak itu langsung aktif mendekati mobil-mobil membawa alat musik darurat mereka. Permainan berhenti.
Ternyata perhentian itu tidak lama. Begitu kendaraan sepi, mereka bermain lagi. Asyik banget. Anak-anak…. Mereka menikmati hidup dengan bermain. Adakah yang salah?
Tapi, ibu tua itu muncul lagi. Marah-marah lagi. Anak-anak pun mengemis ke mobil-mobil lagi.
“Itu ibu mereka,” tutur salah satu anak yang duduk di sebelahku.
Aku kaget.
“Iya…, dia menyuruh anak-anaknya cari uang,” lanjutnya begitu melihat reaksi kagetku.
“Setiap malam ya seperti itu. Ibunya sembunyi di sebelah sana. Lalu kalo anak-anak itu gak kerja, ibunya selalu marah-marah seperti tadi itu,” sambung temannya.
Wah, terus…siapa yang harus cari uang? Orang tua atau anaknya yang masih kecil-kecil itu?
Mereka masih terus bermain. Aku pun tetap asyik memperhatikan kegembiraan mereka.
Minggat
Aku termenung. Melamun dan masgul. Sejak sore keliling, berharap, mencari, dan bertanya. Tidak kutemukan juga. Tempat ini adalah damparan terakhir untuk malam ini. Entah udah berapa lama aku duduk di sini. Tak terhitung berapa batang rokok jadi korban amukan hati. Tidak ada kopi. Badan lelah. Pikiran capai. Kegelisahan di hati serasa tak terkatakan lagi.
Dua anakku pergi. Minggat, kata orang Jawa. Persoalannya sepele. Mereka sudah lama bolos. Yang satu plus berantem di sekolah. Masalah sebenarnya sudah selesai setelah komunikasi dengan sekolah. Tetapi, ada kabar angin, entah berhembus dari ujung bumi sebelah mana, bahwa mereka diminta mundur.
Rasa bersalah bertubi-tubi menghantam batin. Sesal menyusul tanpa ampun lagi. Mengapa hal ini tidak kupikirkan? Mengapa aku tidak antisipasi dulu? Mengapa justru sekolah yang lebih dulu kuurus dan bukan anak-anak? Mengapa…mengapa…dan terus menerus mengapa…. Aku seperti tidak pernah mengenal anak-anakku.
Anak-anak ini berkali-kali mengalami penolakan. Tetapi, mereka tidak pernah terbiasa dengan penolakan. Perasaan mereka begitu peka. Banyaknya penolakan justru membuat mereka tidak mampu menerimanya. Lari adalah jalan terbaik dalam benak mereka. Pengalaman kekerasan di jalan tidak pernah membuat hati mereka kebal.
Aku yakin sekali mereka akan survive. Jalanan adalah hidup mereka. Namun, rasa gundah tidak berkurang. Bayangan akan realitas kehidupan jalanan makin menggerogoti hati. Tidak rela rasanya mereka mengalami kekerasan lagi. Tidak bisa hati ini membiarkan mereka terkena pengaruh jalanan lagi.
Kulirik jam di HP. Malam telah lewat satu setengah jam lalu. Dini hari makin merangkak. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan sekarang. Aku berjalan menuju sepeda motor. Masih ada waktu untuk mencari. Harapanku tidak padam.
Tuhan…Engkau yang mencipta mereka, temanilah mereka di mana saja mereka berada saat ini…please!
Comments (1)
Comments (1)
Comments (1)


