Beratap Langit Berdinding Angin
Yang ada di situ bukan rumah. Bukan juga gubuk. Terpal plastik tipis berlubang di sana sini dibentangkan di atas. Sisi yang satu dikaitkan pada dinding belakang toko atau rumah. Kedua ujung sisi satunya diikatkan pada dua tiang bambu atau kayu lapuk. Cukup untuk menjadi atap.
Di bawah terpal, mepet tembok, ditempatkan satu bangku panjang atau dipan untuk tidur sekeluarga. Tidak ada ruangan lain. Dinding cuma satu, tembok di belakang itu. Ketiga sisi lain terbuka lebar, sama sekali tanpa dinding atau pun penutup. Lumayan untuk menjadi sebuah “rumah”. Rumah yang praktis beratap langit berdinding angin.
Malam pasti sangat dingin bagi mereka. Siang menjadi lebih panas di bawah plastik berwarna itu. Aku tak berani membayangkan apa yang terjadi waktu hujan angin tadi malam. Bertanya juga aku tak tega hati. Bayangannya terlalu memilukan bagiku sendiri.
Sekitar 25 kk tinggal di tempat ini dengan cara seperti itu. Anak-anak kecil bermain di situ dengan riang. Mereka lahir di tempat ini. Dibesarkan juga di rumah seperti itu.
“Dulu yang tinggal di sini banyak, Mas,” cerita Budi. “Ada kalo 130an KK,” sambungnya.
“130 KK? Wuiiiih….” celotehku. Sulit percaya.
Tempat ini hanya punya ruang 4-5 m dari tembok ke arah sungai, lalu 10-15 m sepanjang pinggiran sungai. 130 KK tinggal di sini?
“Sekarang di mana mereka?” tanyaku.
“Pindah semua, Mas. Obrakan,” jelasnya.
Kuseruput pelan es jeruk. Bukan jeruk sungguhan kayaknya. Tapi segar banget untuk siang sepanas ini. Benakku membayangkan orang-orang ini…berjubel, bertumpuk, berdesakan…di tempat ini sebelum ada obrakan.
Kuperhatikan anak-anak di sekitar tempat kami duduk. Mereka bermain. Saling mengejar. Tertawa. Tiba-tiba ada yang jatuh. Menangis keras. Yang lain tertawa. Dua anak lebih besar kemudian mendekat dan mengangkat yang jatuh. Tanah tertempel di baju dan badannya dikebas-kebaskan. Tak lama kemudian mereka bermain lagi. Seperti tidak ada apa-apa.
Aku jadi bertanya-tanya. Bagaimana nasib anak-anak ini kelak? Akankah menjadi seperti orang tua mereka sekarang ini? Apakah mereka punya kesempatan keluar dari setan kemlaratan seperti ini?
Rasanya sungguh sulit membayangkan. Anak-anak ini tampak lucu dan gembira. Saat ini hidup seperti begitu indah bagi mereka. Apakah mereka akan hidup seperti ini selamanya? Apakah ada pilihan bagi mereka?
Uppsss, aku lupa. Aku lagi ngobrol dengan mas Budi dan teman-temannya.
1 comment so far
Leave a reply



Salam kenal!
Salam kenal juga…terima kasih sudah mampir…