Archive for January, 2009|Monthly archive page
Lelah…
Pagi tadi aku ke rumah singgah. Begitu datang, emosiku langsung tergenjot naik melebihi ubun-ubun. Ini hari sudah jam 8.30. Mereka masih terkapar di tempat tidur. Tidak bangun pagi. Tidak sekolah. Rumah pun masih berantakan. Sisa banjir tadi malam belum sepenuhnya dibersihkan. Kemarahan makin menggelegak saat kutemukan sebotol Johny Walker. Kosong, tapi baunya masih segar.
Dengan kasar kubangunkan mereka. Masih ngantuk dan kaget, mereka melontarkan alasan. Entah supaya bisa tidur lagi…, atau sekedar agar aku gak marah. Alasan tidak kuhirau. Kejengkelan terlanjur bikin dada sesak. Kupaksa mereka bangun dan kerja bersihkan rumah.
Marah, kecewa, dan lelah jadi satu. Gagal sudah rasanya. Sudah cukup lama mereka tinggal di sini. Gak hanya tiga empat bulan. Hitungannya tahun. Tapi rasanya gak pernah ada yang berubah. Hal yang sama diulang terus. Entah apa lagi yang harus kulakukan…. Aku mulai merasa lelah.
Malam ini aku termangu lama di kamar. Kopi yang kuhirup sudah mulai dingin. Kuingat semua hal yang telah kami lakukan bersama mereka. Pertemuan bersama. Ngobrol pribadi. Ngopi bareng. Ngantar ke poli. Makan bersama. Dst. Sampai aku gak ingat lagi semuanya.
Tidak adakah sesuatu yang bisa mereka ingat? Ke mana sirnanya semua kesepakatan dan kata “iya” dari mulut mereka? Apakah perubahan sungguh-sungguh omong kosong bagi anak-anak ini? Apakah jalanan telah habis-habisan menggerogoti segala kemungkinan untuk menjadi baik?
Api rokok telah sampai di gabus filter. Langsung kumatikan. Perasaan lelah masih kuat bercokol. Harapan…masih adakah itu?
Beratap Langit Berdinding Angin
Yang ada di situ bukan rumah. Bukan juga gubuk. Terpal plastik tipis berlubang di sana sini dibentangkan di atas. Sisi yang satu dikaitkan pada dinding belakang toko atau rumah. Kedua ujung sisi satunya diikatkan pada dua tiang bambu atau kayu lapuk. Cukup untuk menjadi atap.
Di bawah terpal, mepet tembok, ditempatkan satu bangku panjang atau dipan untuk tidur sekeluarga. Tidak ada ruangan lain. Dinding cuma satu, tembok di belakang itu. Ketiga sisi lain terbuka lebar, sama sekali tanpa dinding atau pun penutup. Lumayan untuk menjadi sebuah “rumah”. Rumah yang praktis beratap langit berdinding angin.
Malam pasti sangat dingin bagi mereka. Siang menjadi lebih panas di bawah plastik berwarna itu. Aku tak berani membayangkan apa yang terjadi waktu hujan angin tadi malam. Bertanya juga aku tak tega hati. Bayangannya terlalu memilukan bagiku sendiri.
Sekitar 25 kk tinggal di tempat ini dengan cara seperti itu. Anak-anak kecil bermain di situ dengan riang. Mereka lahir di tempat ini. Dibesarkan juga di rumah seperti itu.
“Dulu yang tinggal di sini banyak, Mas,” cerita Budi. “Ada kalo 130an KK,” sambungnya.
“130 KK? Wuiiiih….” celotehku. Sulit percaya.
Tempat ini hanya punya ruang 4-5 m dari tembok ke arah sungai, lalu 10-15 m sepanjang pinggiran sungai. 130 KK tinggal di sini?
“Sekarang di mana mereka?” tanyaku.
“Pindah semua, Mas. Obrakan,” jelasnya.
Kuseruput pelan es jeruk. Bukan jeruk sungguhan kayaknya. Tapi segar banget untuk siang sepanas ini. Benakku membayangkan orang-orang ini…berjubel, bertumpuk, berdesakan…di tempat ini sebelum ada obrakan.
Kuperhatikan anak-anak di sekitar tempat kami duduk. Mereka bermain. Saling mengejar. Tertawa. Tiba-tiba ada yang jatuh. Menangis keras. Yang lain tertawa. Dua anak lebih besar kemudian mendekat dan mengangkat yang jatuh. Tanah tertempel di baju dan badannya dikebas-kebaskan. Tak lama kemudian mereka bermain lagi. Seperti tidak ada apa-apa.
Aku jadi bertanya-tanya. Bagaimana nasib anak-anak ini kelak? Akankah menjadi seperti orang tua mereka sekarang ini? Apakah mereka punya kesempatan keluar dari setan kemlaratan seperti ini?
Rasanya sungguh sulit membayangkan. Anak-anak ini tampak lucu dan gembira. Saat ini hidup seperti begitu indah bagi mereka. Apakah mereka akan hidup seperti ini selamanya? Apakah ada pilihan bagi mereka?
Uppsss, aku lupa. Aku lagi ngobrol dengan mas Budi dan teman-temannya.
Comments (1)
Comments (1)


