Archive for December, 2008|Monthly archive page

Ia Lahir demi Manusia

Mengapa Tuhan tidak lahir dalam sebuah istana atau rumah gedung yang bagus dan mewah? Mengapa Tuhan tidak lahir sebagai seorang anak raja? Mengapa orang-orang yang pertama kali mendengarkan berita tentang kelahiranNya bukan raja, pembesar negeri, para tokoh agama, para tokoh umat, dsb? Apakah semuanya itu tidak ada yang pantas bagi Tuhan yang lahir ke dunia sebagai manusia?

BagiNya, bukan soal pantas atau tidak pantas. BagiNya, bukan pertama-tama lahir di mana. BagiNya, yang penting bukan menjadi anak siapa, dan dikunjungi oleh siapa. BagiNya, lahir menjadi manusia hanya memiliki satu tujuan. Tujuan itu adalah menyelamatkan manusia dan kemanusiaannya.

Seruan malaikat kepada para gembala memiliki makna penting,

“Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” (Luk 2:12).

Yang akan ditemui para gembala bukan Tuhan dalam kebesaranNya; bukan Tuhan dalam segala kemegahanNya sebagai Allah; juga bukan dengan seluruh kekuasaanNya yang maha dahsyat. Tuhan yang ditemui oleh para gembala justru seorang manusia yang paling lemah tak berdaya – seorang bayi. Ia bukan hanya tak berdaya. Ia tidak memiliki apa-apa untuk membungkus dirinya, kecuali lampin – kain untuk menyeka binatang piaraan. Tiada tempat lain yang mau menerimaNya, sehingga Manusia lemah itu harus dibaringkan di dalam palungan – tempat memberi makan hewan ternak di kandang. Tuhan tidak hanya lahir sebagai manusia. Tuhan lahir sebagai manusia paling lemah dan tak berdaya, miskin dan tidak diterima.

Dengan lahir menjadi manusia, Ia menunjukkan betapa manusia sangat berharga bagiNya…begitu berharga dan mulia sehingga Sang Pencipta bersedia rela hati menjadi ciptaanNya sendiri. Konsekuensinya, Allah ditemukan dalam diri manusia. Martabat manusia terangkat secara sangat istimewa. Manusia bukan sekedar ciptaan dan citraNya, tetapi Allah dijumpai di dalam dirinya. Ini merupakan pembalikan konsep dan pemahaman yang luar biasa dahsyat. Manusia – siapa pun dia, termasuk yang miskin, malang, lemah, dan terlantar – sangat berharga di mata Allah dan Allah dijumpai di dalam dia (bdk. Mat 25:40.45).

Kenyataan ini menyiratkan tantangan yang luar biasa pula di tengah kehidupan dan kebiasaan masa kini. Kita dituntut untuk hidup menuruti selera pasar. Iklan mendiktekan apa yang pantas bagi manusia. Kualitas manusia diukur dengan kuantitas (kepercayaan diri dengan parfum tertentu, pria jantan jika merokok brand tertentu, dsb.). Sinetron mengajarkan bahwa laki-laki sukses adalah mereka yang memiliki rumah bagus, mobil mewah, isteri cantik, dan berhasil menghabisi semua lawan serta saingan.

Kita dipaksa mengejar status, prestasi, pangkat, harga diri, kekayaan, dst sebagai simbol kemanusiaan kita. Tanpa disadari, kita pun mengukur dan menghargai orang lain berdasarkan apa yang mereka miliki. Fakta bahwa manusia memiliki martabat dan berharga di mata Allah dilupakan. Kenyataan bahwa Allah bersedia menjelma menjadi manusia paling hina dan mati sebagai penjahat besar di salib demi manusia dengan mudah disingkirkan.

Situasi inilah yang oleh Yohanes digambarkan secara gamblang,

“Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan olehNya, tetapi dunia tidak mengenalNya. Ia datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi orang-orang kepunyaanNya itu tidak menerimaNya.” (Yoh 1 :10-11).

Mungkin kita diajari untuk menemukan Allah di dalam tabernakel, di dalam tempat ibadat, dsb. Tetapi, jangan-jangan kita tidak mampu menemukan Allah yang hadir dalam diri sesama. Karena, kita sendiri tidak mampu mengenali Allah yang hadir di dalam diri kita. Kita pun gagal menghargai diri kita sebagai manusia bermartabat hanya karena Allah telah lahir sebagai manusia. Akibatnya, kita juga mengalami kesulitan menghargai dan menghormati martabat sesama.

Natal adalah perayaan Allah yang lahir sebagai manusia dan dalam diri manusia. Maka, setiap kali merayakan Natal, kita merayakan kemanusiaan kita. Pertama, karena Allah berkenan lahir dan menjelma menjadi manusia. Kedua, karenanya, martabat kita terangkat secara luar biasa.

Oleh karena itu, Natal adalah sebuah tantangan frontal. Kita ditantang untuk memperbaiki relasi dengan diri sendiri. Kita diajak untuk berani menyingkirkan segala atribut yang kita kejar untuk ditempelkan pada kemanusiaan kita dan menghargai diri sesuai dengan cara Allah menghargai kita sebagai manusia. Kita pun ditantang untuk memperbaiki relasi dengan orang lain. Caranya sama. Segala atribut dan ukuran buatan manusia harus disingkirkan. Hanya dengan itu, kita mampu menghargai sesama sebagaimana Allah menghargai mereka dan bertemu dengan Allah dalam diri mereka.

Natal adalah sebuah ajakan untuk kembali kepada manusia. Natal adalah penghormatan bagi kemanusiaan.

Negeri Dongeng

Tadi malam aku cangkruk di warung pojok situ. Bukan seperti warung sungguhan. Tanpa dinding. Lesehan di atas tikar sederhana. Penerangan seadanya. Gak banyak orang. Di sekitar pun gak banyak orang lalu lalang.

Tempat ini dulu rame. Ribuan orang berjibun tinggal di sini. Berbagai kelompok relawan juga tinggal di sini…bersama-sama berbagi duka dan solidaritas. Sekarang sudah sepi, sepi warga dan sepi relawan.

Sambil merokok dan menghirup kopi, aku dengarkan mereka ngobrol. Deretan slide seperti berputar di benakku ketika mereka cerita. Lumpur yang tiba-tiba datang. Panik. Gak tahu harus ke mana. Gak tahu apa yang harus segera dibawa. Yang penting lari dulu. Yang penting anak-anak selamat dulu.

Lalu, ketika mereka sampai di tempat ini, gak tahu juga harus bagaimana. Satu kios utk lima enam keluarga. Dibatasi dua tiga tumpuk kardus mie dan aqua. Yang lain harus terima nasib di bangsal. Segalanya harus antri…termasuk mandi, kencing dan berak. Anak-anak terpaksa tidur di tempat dingin, terbuka, rawan angin malam. Nasi jatah pun kadang sudah busuk. Cerita seperti itu bukan sekali dua kali aku dengar.

Banyak yang telah membangun rumah pelan-pelan, menabung sedikit demi sedikit, mengurangi kesenangan yang gak perlu…. Sekarang langsung lenyap. Banyak yang punya sawah dan peternakan, hasil warisan maupun jerih payah bertahun-tahun…. Sirna dalam sekejap. Mendadak orang-orang ini jadi miskin dan diperlakukan sebagai orang miskin…tanpa mereka salah apa pun.

Aku ingat saat jatah hidup hendak dihentikan. Tiba-tiba pagi harinya salah seorang dari mereka meninggal. Malam sebelumnya dia ikut kumpul, sharing keprihatinan dan kejengkelan.

Ketika menuntut jatah hidup, mereka diperlakukan sebagai bajingan berbahaya. Sama seperti saat mereka menuntut ganti rugi. Memangnya apa salah mereka? Apakah yang mereka tuntut itu bukan hak mereka? Apakah menuntut hak itu perbuatan kriminal?

Ganti rugi cuma janji. Mereka diminta tanda tangan kwitansi untuk terima uang muka. Kemudian mereka harus hutang sana sini untuk buka rekening bank. Uang akan ditransfer, katanya. Ternyata omong kosong yang harus mereka telan…. Sekarang sedang krisis, alasannya. Perusahaan kena imbas luar biasa. Warga korban diminta memahami. Masuk akal? Memangnya selama dua tahun ini perusahaan sudah berusaha memahami warga korban?

Malam sudah menjelang pagi. Kantuk pun ikut menjelang. Kopiku sudah lama habis. Kubuang rokok yang sudah terlalu pendek. Entah rokok yang ke berapa. Ritual pamit dimulai. Dengan nafas berat kutinggalkan pasar Porong.

Tidak pernah ada kelegaan setiap kali aku cabut dari tempat ini…sama halnya dengan tidak pernah ada syukur karena tinggal di negeri dongeng ini bagi orang-orang kecil. Yaah…negeri dongeng…karena keadilan hanya dongeng di sini….

Pasar Porong semakin jauh di belakang. Perlahan aku mulai berdoa….

Tuhan, jika Engkau sendiri ada di sini, apa yang akan Engkau lakukan?