Archive for November, 2008|Monthly archive page
Mas Pemulung
Kemarin pagi aku jalan-jalan. Mencari rokok plus obat sembari jalan kaki mungkin akan baik untuk badanku yang terasa agak melayang sejak sore sebelumnya. Daerah yang kulewati agak sepi. Gak banyak kendaraan lalu lalang. Pagi itu cuaca agak nyaman. Langit udah mendung sejak mentari belum muncul. Gak terlalu panas bagiku yang masih di tahap adaptasi dengan hawa hangat kota ini. Pagi seperti ini bikin pikiran lumayan tenang….
Di depan sana, persis di tempat sampah, seorang pemulung membungkuk. Sejak tadi, sejak aku berbelok ke jalan ini, ia terus di situ. Tampak sibuk banget. Sampah itu sungguh-sungguh menyita seluruh perhatiannya.
Seorang anak tiba-tiba muncul dari salah satu rumah di antara aku dan pemulung itu. Si anak lari ke arah tempat sampah dan berhenti di belakang pemulung. Ia berjongkok. Sepertinya sibuk dengan permainan yang dia bawa. Badannya gemuk dan lincah. Melihat dia, aku langsung teringat akan keponakan di rumah
.
Lalu keluar pula seorang ibu dari rumah yang sama. Masih muda. Mungkin ibunya. Ibu itu tiba-tiba berhenti dan berteriak memanggil,
“Nak (bukan namanya), hati-hati!! Jangan dekat-dekat orang itu! Ayo, pulang!”
Anak itu seperti kaget, menoleh ke pemulung, lalu lari mendekati ibunya. Mereka langsung masuk ke dalam rumah.
Aku tetap berjalan. Perhatianku terarah ke pemulung itu. Saat si ibu berteriak tadi, kulihat ada perubahan pada kesibukannya. Walo tetap membungkuk, tangannya yang sibuk mengais sampah terhenti sekejap, kemudian kembali sibuk dengan sampah.
Ketika sampai di dekatnya, aku sapa pemulung itu sambil menanyakan toko obat di dekat situ. Bukan basa-basi. Aku memang belum kenal daerah ini.
“Wah, Mas, kalo pagi gini ya jarang ada yang udah buka,” jawabnya dengan bahasa Jawa yang medok.
“Tapi, sebelah sana ada apotik yang mestinya buka terus. Coba aja, Mas,” sambungnya.
Aku pun berjalan ke arah yang dia tunjukkan. Pikiranku tidak setenang tadi lagi. Kata-kata yang diteriakkan si ibu tadi seakan menembus gendang telingaku dan berdentum-dentum di situ. Kira-kira apa yang dirasakan oleh pemulung tadi itu ya?
Apakah pemulung bukan manusia? Apakah orang seperti dia ini tidak boleh didekati oleh anak kecil? Seperti anjing kudisan yang harus dijauhi…bahkan oleh seorang anak. Kira-kira apa yang dirasakan oleh si pemulung? Dia tentu mendengar kata-kata itu. Sikap badannya pun bereaksi. Tangannya sekejap berhenti bekerja, walo sama sekali tidak menoleh. Apakah dia sudah kebal dengan kata-kata penghinaan? Bagaimana pun dia tetap manusia dan punya perasaan…. Seberapa pun kebal dan sering mendengarkan kata-kata semacam itu, dia adalah manusia dan tetap punya perasaan…punya keinginan untuk dimanusiakan… keinginan untuk diperlakukan sebagai manusia….
Aku ingat, di beberapa tempat ada tulisan “Pemulung dilarang masuk”. Bisa jadi tulisan itu dilatarbelakangi oleh pengalaman-pengalaman tidak enak dengan pemulung. Tetapi, kira-kira bagaimana ya perasaan pemulung lain melihat tulisan itu?
Lantas, bagaimana dengan anak mungil, gemuk dan lincah itu? Dengan teriakan ibunya, kira-kira nilai apa yang masuk ke dalam dirinya? Sekarang memang lagi zamannya untuk berhati-hati. Penculikan anak di mana-mana. Tetapi, bisa jadi sikap hati-hati ini – jika tidak disikapi dengan hati-hati pula – menghantam sembarang orang.
Pemulung yang kutemui itu wajahnya memang kusam dan dekil. Gak menarik untuk dilihat…. Tetapi, dia jawab sapaan dan pertanyaanku dengan ramah. Bahkan dia gak sekedar menjawab. Dia berpikir bahwa di pagi seperti itu belum ada toko obat buka. Dia malah kemudian mengingat ada apotik yang mestinya buka 24 jam. Apotik itu yang ditunjukkan kepadaku dan memang buka.
Aku harus berterima kasih kepadanya….
Solusi di Jalanan
Suatu hari aku bermobil dengan beberapa teman. Di hampir setiap perempatan yang dilewati selalu ada sekumpulan orang. Mereka itu ngamen, ngemis, bawa bulu-bulu untuk membersihkan kaca mobil, jual koran, dsb. Kayaknya itu sudah menjadi pemandangan biasa di jalanan.
Di salah satu perempatan, ketika berhenti karena lampu lagi merah, seorang teman tiba-tiba berkomentar,
“Orang-orang itu malas banget. Mestinya mereka bisa bekerja dengan lumrah, bukannya malas-malasan ngemis dan nodongin orang.”
Komentar yang juga lumrah. Mereka itu tampak sehat walaupun dekil. Spontan aku turunkan kaca mobil. Kupanggil salah satu anak yang lagi mendekat membawa ecek-ecek dari tutup botol.
“Bang, temenku ini mau omong,” panggilku.
Temanku kaget. Pandangan melotot mengandung ancaman diarahkan kepadaku. Tetapi, dia mengulang celutukannya tadi. Dengan kalimat yang lebih sopan, tentunya. Si anak remaja itu dengan tenang mengulurkan tangan tertadah ke dalam mobil dan berkata,
“Kalau Oom bisa memberi saya pekerjaan…apa pun…cabutin rumput, ngurusin sampah, bersihin wc…akan saya kerjakan, Oom.”
Di depan, lampu hijau menyala. Tidak ada waktu lagi buat ngobrol, diskusi, atau pun rapat. Kuletakkan dua logam limaratusan di tangannya sembari pamit dan cabut.
Sambil mengemudi, kurasakan kata-kata si remaja tadi menghantami benakku. Betapa sering aku sendiri menggeneralisasi orang-orang ini. Berada di jalanan berarti malas, tidak mau cari pekerjaan yang layak, tidak mau kerja keras, memilih cara yang gampang untuk cari duit, dst. Vonis yang kayaknya terlalu pagi. Bisa jadi dari antara mereka memang ada yang seperti itu. Tapi, mestinya ada juga orang-orang yang sudah berusaha – dengan cara mereka – dan selalu ketemu jalan buntu. Pasti ada pula yang memang sungguh terdesak dan jalanan menjadi solusi.
Aku jadi ingat anak-anakku. Kebanyakan dari mereka berada di jalanan bukan karena malas. Ada yang lari karena tidak diakui sebagai anak oleh orang tua. Ada yang orang tuanya terlalu miskin untuk menghidupi terlalu banyak anak. Beberapa sudah tidak punya orang tua. Mereka bekerja di jalanan agar tetap bisa makan. Syukur kalau masih bisa sekolah dari hasil ngamen. Aku kenal dua-tiga anak yang keluar dari sekolah dan ngamen untuk biaya sekolah adik-adik mereka. Jalanan menjadi solusi bagi orang-orang ini. Tetapi, semua fakta itu ternyata belum mempertobatkan persepsiku tentang hidup di jalanan.
Tiba-tiba aku sadar bahwa kami semua di mobil berdiam diri. Seolah-olah peristiwa tadi membuat kami mendadak menjadi sibuk berpikir. Moga-moga….
Si Belasan Tahun
Dia berbadan kecil, kurus seakan tulang terbalut kulit, hitam terpanggang mentari jalanan. Wajahnya sama sekali tidak imut maupun kekanakan. Wajah orang dewasa. Kaos dan celana pendeknya dekil. Rokok murah terselip di tangan. Matanya sama sekali tidak memandangku. Dia baru kelas 2 SMP.
Tadi malam gurunya datang ke kantor.
“Anak ini sudah berhari-hari tidak masuk…,” lapor si ibu guru.
Beberapa waktu lalu teman-teman menceritakan hal yang sama tentang dia.
“Bapakku lari, Mo. Gak tahu di mana sekarang. Ibu kerja nyapu jalan di daerah Wonokromo. Gak pernah pulang. Adik-adikku hidup dengan kakek di kampung. Yang satu udah seminggu gak masuk sekolah…gak ada uang,” tuturnya dengan tatapan mata jauh melampaui diriku.
Kakeknya hanya buruh tani. Sekolah tiga adiknya menjadi tanggungan si anak belasan tahun ini. Beberapa kali dia mau keluar dari sekolah. Bekerja agar adik-adiknya tetap bisa sekolah selalu menjadi angannya.
Aku termenung….
Leave a Comment
Comments (2)
Leave a Comment


