Orang Kecil…

Siang tadi, setelah pergi kota-kota, aku mampir ke tukang cukur rambut. Di situ sudah langganan. Tetapi, kali ini tukangnya malah orang baru. Belum pernah kulihat sebelumnya. Gak masalah. Yang penting cukur dan rambut jadi lebih pendek dan (moga-moga) rapi :) . Orangnya ramah juga. Enak untuk ngobrol-ngobrol ngalor, ngidul, ngetan bali ngulon.

Tak disangka, persoalan muncul setelah cukur selesai. Uangku kurang  seribu perak untuk bayar ongkos cukur. Bingung aku. Mau bagaimana? Telpon teman di rumah agar datang bawakan uang? Atau tinggalkan KTP atau SIM? 

Ah, kupikir, ngomong aja dulu ke mas tukang cukur. Eeh, dia langsung terima uang seadanya. Yang kurang gak masalah, katanya sambil tersenyum. Aku melongo…hanya begitu saja? Makin lebar ia tersenyum. Senyumnya membuat hatiku sedikit damai. Tapi, senyum itu juga bikin aku semakin malu. Persoalan dianggapnya selesai dan dia beralih ke pelanggan berikutnya. Begitu mudah?

Persoalanku masih belum selesai. Sudah gak ada lagi uang untuk bayar parkir motor. Lima ratus perak dan itu gak kumiliki. Walaupun malu, mau tak mau tetap harus omong ke tukang parkir. Bukannya marah-marah, bapak tua tukang parkir itu malah tertawa dan mempersilakan aku ambil sepeda motor. Aku jadi semakin malu. Dua kali kena telak dech, pikirku. Saat mau start cabut, bapak tua berjenggot melambaikan tangan sambil teriak,

“Hati-hati, Mas. Semoga lancar!”

Begitu mudah persoalan selesai baginya.

Sore hari aku kembali untuk membayar kekurangan tadi siang. Mas tukang cukur begitu kaget saat aku mengulurkan uang. Dia bahkan tidak ingat aku! Menerima uang pun masih kelihatan kaget dan malu-malu. Ucapan terima kasihnya seperti tak pernah selesai mengalir sambil mengantar aku ke depan pintu. 

Pak jenggot tukang parkir lain lagi reaksinya. Dia sempat melongo lebar ketika aku mengatakan mau bayar utang. Dia menganggap yang tadi itu ya sudah, katanya. Bagiku lain. Itu adalah utang dan utang kan tetap utang. Bapak tua itu sampai berkali-kali membungkukkan badan sambil menembakkan ribuan terima kasih sewaktu menerima uangku. Membungkukkan badan untuk uang lima ratus perak…. 

Dalam perjalanan pulang, aku tercenung cukup lama. Orang kecil…. Bagi orang-orang seperti mereka ini, uang seribu dan lima ratus rupiah mestinya sungguh berarti. Tetapi, kenapa mereka sangat ikhlas saat aku tidak bisa bayar? Begitu rela dan dengan sangat mudah itu tidak menjadi masalah. Bukankah itu hak mereka? Itu kan hasil kerja mereka? Bahkan mas tukang cukur segera melupakan peristiwa tadi. 

Ketercenunganku masih berbuntut saat aku berada di kamar. Cara mereka menerima uang tadi begitu mengesan. Mereka menerimanya seperti menerima rahmat, bukan sekedar hak dari hasil kerja mereka. Si tukang cukur meninggalkan pelanggannya untuk mengantar aku ke depan pintu. Bapak berjenggot membungkukkan badan sampai empat lima kali. Seolah-olah aku sedang tidak membayar utang, tetapi memberi mereka rejeki luar biasa.

Aku mulai membayangkan jika mereka berada di posisiku tadi siang. Misalnya, ketika tidak bisa membayar uang sekolah anaknya atau kekurangan uang untuk berobat atau untuk membeli makanan…dst. Apakah mereka juga menghadapi sikap yang sama seperti yang kualami tadi, sikap yang justru muncul dari mereka sendiri? Apakah mereka juga menerima senyum penuh damai dan menenangkan? Adakah lambaian tangan ditujukan kepada mereka? Adakah yang membungkukkan badan, satu kali aja, sewaktu mereka bayar hutang?

Orang-orang kecil…masih banyak yang harus kupelajari dari kalian agar aku bisa menjadi manusia….

No comments yet

Leave a reply