Archive for October 30th, 2008|Daily archive page
Surat Mbak Yayas buat pakde Wawan…
Pakde apa kabar?
Semoga pakde sehat-sehat dan kerasan di tempat tugas yang baru.
Hari ini mbak Yayas tepat berumur 6,5 bulan. Denger-denger umur segitu masih disebut bayi… hehe, mbak Yayas juga gak ngerti. Yang jelas mbak Yayas belum bisa ngomong, baru bisa ngoceh dan ah…uh…ah…uh….
Tapi gak papa pakde, nanti suatu saat mbak Yayas pasti bisa ngomong seperti orang-orang lain yang sudah besar. Karena belum bisa ngomong, justru mbak Yayas punya kesempatan yang lebih banyak untuk mendengarkan orang lain. Ssssstt, katanya kalau orang sudah besar suka sulit ndengerin orang lain ya, maunya ngomong teruuus hehe..
Orang – orang pasti gak mengira kalau mbak Yayas ngerti lho apa yang mereka omongkan.
Contohnya, mbak Yayas mulai hapal, kalau malam hari mau bobok, Bunda selalu berbisik begini “ Nduk, besok kalau udah besar jadi orang yang baik ya” atau kalau mbak Yayas lagi cemberut (habis dipaksa-paksa minum susu mulu L ), Bunda selalu bilang “mbak Yayas, harus ramah pada setiap orang dan selalu tersenyum”
Nah, kalau mbak Yayas aja bias nulis cerita ini ke pakde, itu kan berarti mbak Yayas emang bener-bener ngerti kan? Pakde percaya?
Oya, pakde… ada hal lain yang pengen mbak Yayas ceritakan… Setiap sore, setelah pulang kerja, bunda selalu bercerita pada mbak Yayas. Ceritanya macem-macem. Meski terlihat aneh, tapi mbak Yayas suuuuka sekali. Lucu dech pakde, bunda nyerocos terus dan mbak Yayas cuma nanggepi ah…uh…ah…uh…. Tapi bunda gak pernah kapok tuch membagi ceritanya. Semoga hal ini dikarenakan Bunda juga merasakan kalau mbak Yayas itu ngerti apa yang diceritakan. Kadang bunda cerita tentang Yesus kecil yang lahir di kandang kumuh, kadang bunda cerita tentang satpam di kantornya yang hidup susah namun tetap semangat mencari uang untuk menyekolahkan anak-anaknya. Bunda juga pernah cerita tentang orang-orang kecil yang berhasil menjadi orang hebat…. Biasanya sich, pasti setelah nonton kick Andy!hehe… Nah, bunda juga udah cerita tentang Laskar Pelangi (mbak Yayas gak diajak nonton filmnya, katanya mbak Yayas masih terlalu kecil). Ceritanya seru ya…. Mbak Yayas terharu denger kisah tentang Lintang, Mahar, dan kawan-kawannya.
Setiap selesai bercerita… Bunda selalu mengatakan kalau mbak Yayas harus menyayangi setiap orang dan gak boleh membeda-bedakan antara yang kaya dan miskin. Kata Bunda, “KITA HARUS LEBIH MENGHORMATI ORANG MISKIN YANG BERANI DARIPADA ORANG KAYA YANG PENAKUT. KARENA SEBETULNYA TELAH JELAS PERBEDAAN KUALITAS MASA DEPAN YANG AKAN MEREKA CAPAI” *
Pakde, makanya setiap kali bunda selesai cerita, mbak Yayas selalu bilang ,” Mbak Yayas sayang Bunda, sayang Ayah, sayang satpam di kantor bunda, sayang anak-anak satpam di kantor bunda. Mbak Yayas sayang Yesus kecil yang lahir di kandang kumuh, mbak Yayas sayang Ikal, Mahar ,Lintang dan anak-anak Laskar Pelangi. Dan mulai hari ini, mbak Yayas akan tambahkan 1 lagi, mbak Yayas juga sayang sama anak-anak pakde di Simo, sama tukang cukur, dan tukang parkir yang ada di cerita pakde “ J Doakan bahwa kelak mbak Yayas bisa meneladani kebesaran hati mereka….
Salam,
Yayas
* diambil dari kumpulan motivasi Mario Teguh
Orang Kecil…
Siang tadi, setelah pergi kota-kota, aku mampir ke tukang cukur rambut. Di situ sudah langganan. Tetapi, kali ini tukangnya malah orang baru. Belum pernah kulihat sebelumnya. Gak masalah. Yang penting cukur dan rambut jadi lebih pendek dan (moga-moga) rapi
. Orangnya ramah juga. Enak untuk ngobrol-ngobrol ngalor, ngidul, ngetan bali ngulon.
Tak disangka, persoalan muncul setelah cukur selesai. Uangku kurang seribu perak untuk bayar ongkos cukur. Bingung aku. Mau bagaimana? Telpon teman di rumah agar datang bawakan uang? Atau tinggalkan KTP atau SIM?
Ah, kupikir, ngomong aja dulu ke mas tukang cukur. Eeh, dia langsung terima uang seadanya. Yang kurang gak masalah, katanya sambil tersenyum. Aku melongo…hanya begitu saja? Makin lebar ia tersenyum. Senyumnya membuat hatiku sedikit damai. Tapi, senyum itu juga bikin aku semakin malu. Persoalan dianggapnya selesai dan dia beralih ke pelanggan berikutnya. Begitu mudah?
Persoalanku masih belum selesai. Sudah gak ada lagi uang untuk bayar parkir motor. Lima ratus perak dan itu gak kumiliki. Walaupun malu, mau tak mau tetap harus omong ke tukang parkir. Bukannya marah-marah, bapak tua tukang parkir itu malah tertawa dan mempersilakan aku ambil sepeda motor. Aku jadi semakin malu. Dua kali kena telak dech, pikirku. Saat mau start cabut, bapak tua berjenggot melambaikan tangan sambil teriak,
“Hati-hati, Mas. Semoga lancar!”
Begitu mudah persoalan selesai baginya.
Sore hari aku kembali untuk membayar kekurangan tadi siang. Mas tukang cukur begitu kaget saat aku mengulurkan uang. Dia bahkan tidak ingat aku! Menerima uang pun masih kelihatan kaget dan malu-malu. Ucapan terima kasihnya seperti tak pernah selesai mengalir sambil mengantar aku ke depan pintu.
Pak jenggot tukang parkir lain lagi reaksinya. Dia sempat melongo lebar ketika aku mengatakan mau bayar utang. Dia menganggap yang tadi itu ya sudah, katanya. Bagiku lain. Itu adalah utang dan utang kan tetap utang. Bapak tua itu sampai berkali-kali membungkukkan badan sambil menembakkan ribuan terima kasih sewaktu menerima uangku. Membungkukkan badan untuk uang lima ratus perak….
Dalam perjalanan pulang, aku tercenung cukup lama. Orang kecil…. Bagi orang-orang seperti mereka ini, uang seribu dan lima ratus rupiah mestinya sungguh berarti. Tetapi, kenapa mereka sangat ikhlas saat aku tidak bisa bayar? Begitu rela dan dengan sangat mudah itu tidak menjadi masalah. Bukankah itu hak mereka? Itu kan hasil kerja mereka? Bahkan mas tukang cukur segera melupakan peristiwa tadi.
Ketercenunganku masih berbuntut saat aku berada di kamar. Cara mereka menerima uang tadi begitu mengesan. Mereka menerimanya seperti menerima rahmat, bukan sekedar hak dari hasil kerja mereka. Si tukang cukur meninggalkan pelanggannya untuk mengantar aku ke depan pintu. Bapak berjenggot membungkukkan badan sampai empat lima kali. Seolah-olah aku sedang tidak membayar utang, tetapi memberi mereka rejeki luar biasa.
Aku mulai membayangkan jika mereka berada di posisiku tadi siang. Misalnya, ketika tidak bisa membayar uang sekolah anaknya atau kekurangan uang untuk berobat atau untuk membeli makanan…dst. Apakah mereka juga menghadapi sikap yang sama seperti yang kualami tadi, sikap yang justru muncul dari mereka sendiri? Apakah mereka juga menerima senyum penuh damai dan menenangkan? Adakah lambaian tangan ditujukan kepada mereka? Adakah yang membungkukkan badan, satu kali aja, sewaktu mereka bayar hutang?
Orang-orang kecil…masih banyak yang harus kupelajari dari kalian agar aku bisa menjadi manusia….
Leave a Comment
Leave a Comment

