Ngintip…Berarti Apa?
Seminggu yang lalu aku ke rumah singgah di Simo. Kumpul dengan anak-anak yang baru kukenal. Ngobrol ke sana kemari sambil mereka saling ngerjain dan ngusilin. Pertama kali aku kumpul dengan mereka selengkap ini. Pada saat-saat seperti ini, kulihat dan kurasakan, mereka tetep anak-anak, walo di-karbit oleh kehidupan jalanan.
Anak yang satu, badannya paling kecil, wajahnya paling imut. Dia dipanggil Lipo. Kena DO oleh sekolah. Tetapi, katanya, masih pengen sekolah lagi. Anaknya lucu. Saat digojloki, dia cuman senyum-senyum gak bisa balas. Ketika teman lain yang dikerjain, dia ikut ngroyok dengan semangat berkobar. Kesempatan balas dendam.
Satu anak datang dengan luka di kaki. Ceritanya dia kena pecahan kaca di parit waktu ambil pencit (…mangga muda) yang jatuh ke situ. Minta ampun…memang gak ada pencit di tempat yang lebih sopan?
Dasar anak-anak. Lumayan ngeri tuch luka di kaki. Berdarah-darah. Tapi, wajahnya gak tampak kesakitan. Apakah kehidupan jalanan membuat mereka jadi anti rasa sakit ya?
Satunya lagi tiba-tiba nunjuk temannya sambil teriak, “Dia ini ngintip aku waktu lagi berak, Mo!” Tawa langsung pecah. Kata-kata gojlokan tanpa ampun ditembakkan ke anak yang dituding. Wajahnya berubah. Kelihatan malu sekali. Apalagi waktu kutanya, “Mengapa ngintip?” Pasti malunya karena ketahuan.
Aku ikut tertawa. Tapi, di hati ini muncul tanda tanya. Makin lama makin membesar. Mengapa dia mengintip temannya di WC? Sama-sama cowok. Sekedar keingintahuan seorang anak? Apakah wajar seorang anak usia SMP ngintip teman sesama jenis?
Aku teringat cerita-cerita mereka yang pengalaman mendampingi anak-anak jalanan. Kehidupan seks bukan barang asing bagi anak-anak ini. Bukan berita “aneh” kalo di koran ada berita anak jalanan menjadi korban sodomi. Lalu, dia ini? Apa yang telah terjadi padanya?Apa yang pernah dia alami?
Cerita temannya tadi seakan membuka lebar ruang kesadaranku. Apa yang selama ini diceritakan tentang anak jalanan bisa saja terjadi pada mereka, anak-anakku….
No comments yet
Leave a reply


