Archive for October 25th, 2008|Daily archive page
Laskar Pelangi Versi Film
Aku menonton film Laskar Pelangi pada hari ketiga pemutaran di Malang. Ada rasa was dan hati-hati. Biasanya film yang diangkat dari novel menjadi tidak menarik bagiku. Selalu berbeda jauh dari selera daya khayalku saat membaca novelnya. Tetapi, animo orang yang berjubel di depan loket, kesan mereka yang telah nonton, ulasan di koran, dan janji tiket gratis oleh teman-teman mengalahkan semuanya.
Novel Laskar Pelangi menokohkan si Ikal, Andrea Hirata. Dia memang penulis novel. Di film, tokohnya adalah bapak Kepala Sekolah, ibu Mus – sang guru yang bergulat dan berjuang, dan Lintang – si anak cerdas yang kemalangannya tak tertanggungkan. Dengan tokoh-tokoh seperti itu, tema bergeser kepada persoalan jurang kemiskinan di bidang pendidikan dan hidup Ikal serta teman-temannya.
SD Muhammadiyah adalah SD nan miskin. Bapak Kepala Sekolah memilih untuk membersihkan sendiri lantai yang tergenang air akibat hujan dan memperbaiki kursi dan bangku. SD itu hanya punya satu kelas, dengan dinding reyot, dan satu almari bekas sumbangan untuk menyimpan piala. Kontras yang sangat tajam saat kondisi SD lain ditampilkan.
Namun, kontras yang juga tajam justru menjadi terbalik dalam hal prestasi. Para murid SD Muhammadyah memenangkan lomba karnaval. Dengan dandanan berharga murah dan sederhana serta penampilan yang melulu mengandalkan kreativitas, mereka berhasil mengalahkan SD kaya di pulau itu. Mereka pun mengalahkan SD itu dalam lomba cerdas cermat yang menegangkan. Menang tipis. Itu pun setelah hasil lomba dikoreksi. Kejeniusan Lintang dalam mencongak sempat dicurigai, meskipun…apa yang salah dengan mencongak?
Kontras di bidang prestasi, yang menegangkan dan berakhir bahagia, berbalik dengan begitu mendadak dan tragis. Ayah Lintang, si anak jenius, tidak pulang lagi dari laut. Dia harus segera naik pangkat, menduduki posisi pencari nafkah bagi adik-adiknya. Proses penceritaan begitu menyayat hati. Lintang jenius. Tapi, karena miskin, dia tetap kalah juga. Kekalahan dalam film ini bukan akhir kehidupan. Kejeniusan Lintang diwariskan kepada anaknya.
Bagiku, film ini menggagas dengan kuat pendidikan seorang manusia. Beberapa kali ditunjukkan keteguhan bapak kepala sekolah dalam hal prinsip mendidik manusia. Meneguhkan iman dan mematangkan kepribadian adalah dua hal pokok. Bukan uang dan fasilitas hebat. Persoalannya ada pada bagaimana menempatkan semua itu pada posisi yang benar. Ketika uang dan fasilitas (juga gengsi) menjadi tujuan, otomatis pendidikan manusia turun peringkatnya dalam daftar tujuan.
Penekanan film itu memang berbeda dari novelnya. Rasanya memang gak mungkin suatu film memaparkan setiap lembar sebuah novel. Itu yang seringkali bikin aku gregetan saat nonton. Jadi beda! Tetapi, yang satu ini memang lain. Penyajiannya dilatari oleh fakta pendidikan dan kemiskinan negeri ini. Mungkin karena punya minat di kedua bidang itu, film Laskar Pelangi langsung menerobos seleraku.
Aku masih ingat satu kalimat dari bapak kepala sekolah. Beliau berkata kepada anak-anak didiknya,
“Jadilah manusia (atau orang ya…lupa, hehehe) untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan menjadi manusia untuk menerima sebanyak-banyaknya….”
Kayaknya kutipan itu gak terlalu persis dech. Tapi, moga-moga tetap mewakili inti ajaran seorang bapak tua penuh dedikasi kepada manusia.
Comments (1)

