Archive for October, 2008|Monthly archive page

Surat Mbak Yayas buat pakde Wawan…

Pakde apa kabar?

Semoga pakde sehat-sehat dan kerasan di tempat tugas yang baru.


Hari ini mbak Yayas tepat berumur 6,5 bulan. Denger-denger umur segitu masih disebut bayi… hehe, mbak Yayas juga gak ngerti. Yang jelas mbak Yayas belum bisa ngomong, baru bisa ngoceh dan ah…uh…ah…uh….


Tapi gak papa pakde, nanti suatu saat mbak Yayas pasti bisa ngomong seperti orang-orang lain yang sudah besar. Karena belum bisa ngomong, justru mbak Yayas punya kesempatan yang lebih banyak untuk mendengarkan orang lain. Ssssstt, katanya kalau orang sudah besar suka sulit ndengerin orang lain ya, maunya ngomong teruuus hehe..

 

Orang – orang pasti gak mengira kalau mbak Yayas ngerti lho apa yang mereka omongkan.

Contohnya, mbak Yayas mulai hapal, kalau malam hari mau bobok, Bunda selalu berbisik begini “ Nduk, besok kalau udah besar jadi orang yang baik ya” atau kalau mbak Yayas lagi cemberut (habis dipaksa-paksa minum susu mulu L ), Bunda selalu bilang “mbak Yayas, harus ramah pada setiap orang dan selalu tersenyum”

Nah, kalau mbak Yayas aja bias nulis cerita ini ke pakde, itu kan berarti mbak Yayas emang bener-bener ngerti kan? Pakde percaya?

 

Oya, pakde… ada hal lain yang pengen mbak Yayas ceritakan… Setiap sore, setelah pulang kerja, bunda selalu bercerita pada mbak Yayas. Ceritanya macem-macem. Meski terlihat aneh, tapi mbak Yayas suuuuka sekali. Lucu dech pakde, bunda nyerocos terus dan mbak Yayas cuma nanggepi ah…uh…ah…uh…. Tapi bunda gak pernah kapok tuch membagi ceritanya. Semoga hal ini dikarenakan Bunda juga merasakan kalau mbak Yayas itu ngerti apa yang diceritakan. Kadang bunda cerita tentang Yesus kecil yang lahir di kandang kumuh, kadang bunda cerita tentang satpam di kantornya yang hidup susah namun tetap semangat mencari uang untuk menyekolahkan anak-anaknya. Bunda juga pernah cerita tentang orang-orang kecil yang berhasil menjadi orang hebat…. Biasanya sich, pasti setelah nonton kick Andy!hehe… Nah, bunda juga udah cerita tentang Laskar Pelangi (mbak Yayas gak diajak nonton filmnya, katanya mbak Yayas masih terlalu kecil). Ceritanya seru ya…. Mbak Yayas terharu denger kisah tentang Lintang, Mahar, dan kawan-kawannya.

 

Setiap selesai bercerita… Bunda selalu mengatakan kalau mbak Yayas harus menyayangi setiap orang dan gak boleh membeda-bedakan antara yang kaya dan miskin. Kata Bunda, “KITA HARUS LEBIH MENGHORMATI ORANG MISKIN YANG BERANI DARIPADA ORANG KAYA YANG PENAKUT. KARENA SEBETULNYA TELAH JELAS PERBEDAAN KUALITAS MASA DEPAN YANG AKAN MEREKA CAPAI” *

 

Pakde, makanya setiap kali bunda selesai cerita, mbak Yayas selalu bilang ,” Mbak Yayas sayang Bunda, sayang Ayah, sayang satpam di kantor bunda, sayang anak-anak satpam di kantor bunda. Mbak Yayas sayang Yesus kecil yang lahir di kandang kumuh, mbak Yayas sayang Ikal, Mahar ,Lintang dan anak-anak Laskar Pelangi. Dan mulai hari ini, mbak Yayas akan tambahkan 1 lagi, mbak Yayas juga sayang sama anak-anak pakde di Simo, sama tukang cukur, dan tukang parkir yang ada di cerita pakde “ J  Doakan bahwa kelak mbak Yayas bisa meneladani kebesaran hati mereka….

 

 

Salam,

Yayas

 

* diambil dari kumpulan motivasi Mario Teguh

 

Orang Kecil…

Siang tadi, setelah pergi kota-kota, aku mampir ke tukang cukur rambut. Di situ sudah langganan. Tetapi, kali ini tukangnya malah orang baru. Belum pernah kulihat sebelumnya. Gak masalah. Yang penting cukur dan rambut jadi lebih pendek dan (moga-moga) rapi :) . Orangnya ramah juga. Enak untuk ngobrol-ngobrol ngalor, ngidul, ngetan bali ngulon.

Tak disangka, persoalan muncul setelah cukur selesai. Uangku kurang  seribu perak untuk bayar ongkos cukur. Bingung aku. Mau bagaimana? Telpon teman di rumah agar datang bawakan uang? Atau tinggalkan KTP atau SIM? 

Ah, kupikir, ngomong aja dulu ke mas tukang cukur. Eeh, dia langsung terima uang seadanya. Yang kurang gak masalah, katanya sambil tersenyum. Aku melongo…hanya begitu saja? Makin lebar ia tersenyum. Senyumnya membuat hatiku sedikit damai. Tapi, senyum itu juga bikin aku semakin malu. Persoalan dianggapnya selesai dan dia beralih ke pelanggan berikutnya. Begitu mudah?

Persoalanku masih belum selesai. Sudah gak ada lagi uang untuk bayar parkir motor. Lima ratus perak dan itu gak kumiliki. Walaupun malu, mau tak mau tetap harus omong ke tukang parkir. Bukannya marah-marah, bapak tua tukang parkir itu malah tertawa dan mempersilakan aku ambil sepeda motor. Aku jadi semakin malu. Dua kali kena telak dech, pikirku. Saat mau start cabut, bapak tua berjenggot melambaikan tangan sambil teriak,

“Hati-hati, Mas. Semoga lancar!”

Begitu mudah persoalan selesai baginya.

Sore hari aku kembali untuk membayar kekurangan tadi siang. Mas tukang cukur begitu kaget saat aku mengulurkan uang. Dia bahkan tidak ingat aku! Menerima uang pun masih kelihatan kaget dan malu-malu. Ucapan terima kasihnya seperti tak pernah selesai mengalir sambil mengantar aku ke depan pintu. 

Pak jenggot tukang parkir lain lagi reaksinya. Dia sempat melongo lebar ketika aku mengatakan mau bayar utang. Dia menganggap yang tadi itu ya sudah, katanya. Bagiku lain. Itu adalah utang dan utang kan tetap utang. Bapak tua itu sampai berkali-kali membungkukkan badan sambil menembakkan ribuan terima kasih sewaktu menerima uangku. Membungkukkan badan untuk uang lima ratus perak…. 

Dalam perjalanan pulang, aku tercenung cukup lama. Orang kecil…. Bagi orang-orang seperti mereka ini, uang seribu dan lima ratus rupiah mestinya sungguh berarti. Tetapi, kenapa mereka sangat ikhlas saat aku tidak bisa bayar? Begitu rela dan dengan sangat mudah itu tidak menjadi masalah. Bukankah itu hak mereka? Itu kan hasil kerja mereka? Bahkan mas tukang cukur segera melupakan peristiwa tadi. 

Ketercenunganku masih berbuntut saat aku berada di kamar. Cara mereka menerima uang tadi begitu mengesan. Mereka menerimanya seperti menerima rahmat, bukan sekedar hak dari hasil kerja mereka. Si tukang cukur meninggalkan pelanggannya untuk mengantar aku ke depan pintu. Bapak berjenggot membungkukkan badan sampai empat lima kali. Seolah-olah aku sedang tidak membayar utang, tetapi memberi mereka rejeki luar biasa.

Aku mulai membayangkan jika mereka berada di posisiku tadi siang. Misalnya, ketika tidak bisa membayar uang sekolah anaknya atau kekurangan uang untuk berobat atau untuk membeli makanan…dst. Apakah mereka juga menghadapi sikap yang sama seperti yang kualami tadi, sikap yang justru muncul dari mereka sendiri? Apakah mereka juga menerima senyum penuh damai dan menenangkan? Adakah lambaian tangan ditujukan kepada mereka? Adakah yang membungkukkan badan, satu kali aja, sewaktu mereka bayar hutang?

Orang-orang kecil…masih banyak yang harus kupelajari dari kalian agar aku bisa menjadi manusia….

Ngintip…Berarti Apa?

Seminggu yang lalu aku ke rumah singgah di Simo. Kumpul dengan anak-anak yang baru kukenal. Ngobrol ke sana kemari sambil mereka saling ngerjain dan ngusilin. Pertama kali aku kumpul dengan mereka selengkap ini. Pada saat-saat seperti ini, kulihat dan kurasakan, mereka tetep anak-anak, walo di-karbit oleh kehidupan jalanan.

Anak yang satu, badannya paling kecil, wajahnya paling imut. Dia dipanggil Lipo. Kena DO oleh sekolah. Tetapi, katanya, masih pengen sekolah lagi. Anaknya lucu. Saat digojloki, dia cuman senyum-senyum gak bisa balas. Ketika teman lain yang dikerjain, dia ikut ngroyok dengan semangat berkobar. Kesempatan balas dendam.

Satu anak datang dengan luka di kaki. Ceritanya dia kena pecahan kaca di parit waktu ambil pencit (…mangga muda) yang jatuh ke situ. Minta ampun…memang gak ada pencit di tempat yang lebih sopan? :) Dasar anak-anak. Lumayan ngeri tuch luka di kaki. Berdarah-darah. Tapi, wajahnya gak tampak kesakitan. Apakah kehidupan jalanan membuat mereka jadi anti rasa sakit ya?

Satunya lagi tiba-tiba nunjuk temannya sambil teriak, “Dia ini ngintip aku waktu lagi berak, Mo!” Tawa langsung pecah. Kata-kata gojlokan tanpa ampun ditembakkan ke anak yang dituding. Wajahnya berubah. Kelihatan malu sekali. Apalagi waktu kutanya, “Mengapa ngintip?” Pasti malunya karena ketahuan. 

Aku ikut tertawa. Tapi, di hati ini muncul tanda tanya. Makin lama makin membesar. Mengapa dia mengintip temannya di WC? Sama-sama cowok. Sekedar keingintahuan seorang anak? Apakah wajar seorang anak usia SMP ngintip teman sesama jenis?

Aku teringat cerita-cerita mereka yang pengalaman mendampingi anak-anak jalanan. Kehidupan seks bukan barang asing bagi anak-anak ini. Bukan berita “aneh” kalo di koran ada berita anak jalanan menjadi korban sodomi. Lalu, dia ini? Apa yang telah terjadi padanya?Apa yang pernah dia alami?

Cerita temannya tadi seakan membuka lebar ruang kesadaranku. Apa yang selama ini diceritakan tentang anak jalanan bisa saja terjadi pada mereka, anak-anakku….

Laskar Pelangi Versi Film

Aku menonton film Laskar Pelangi pada hari ketiga pemutaran di Malang. Ada rasa was dan hati-hati. Biasanya film yang diangkat dari novel menjadi tidak menarik bagiku. Selalu berbeda jauh dari selera daya khayalku saat membaca novelnya. Tetapi, animo orang yang berjubel di depan loket, kesan mereka yang telah nonton, ulasan di koran, dan janji tiket gratis oleh teman-teman mengalahkan semuanya. 

Novel Laskar Pelangi menokohkan si Ikal, Andrea Hirata. Dia memang penulis novel. Di film, tokohnya adalah bapak Kepala Sekolah, ibu Mus – sang guru yang bergulat dan berjuang, dan Lintang – si anak cerdas yang kemalangannya tak tertanggungkan. Dengan tokoh-tokoh seperti itu, tema bergeser kepada persoalan jurang kemiskinan di bidang pendidikan dan hidup Ikal serta teman-temannya. 

SD Muhammadiyah adalah SD nan miskin. Bapak Kepala Sekolah memilih untuk membersihkan sendiri lantai yang tergenang air akibat hujan dan memperbaiki kursi dan bangku. SD itu hanya punya satu kelas, dengan dinding reyot, dan satu almari bekas sumbangan untuk menyimpan piala. Kontras yang sangat tajam saat kondisi SD lain ditampilkan.

Namun, kontras yang juga tajam justru menjadi terbalik dalam hal prestasi. Para murid SD Muhammadyah memenangkan lomba karnaval. Dengan dandanan berharga murah dan sederhana serta penampilan yang melulu mengandalkan kreativitas, mereka berhasil mengalahkan SD kaya di pulau itu. Mereka pun mengalahkan SD itu dalam lomba cerdas cermat yang menegangkan. Menang tipis. Itu pun setelah hasil lomba dikoreksi. Kejeniusan Lintang dalam mencongak sempat dicurigai, meskipun…apa yang salah dengan mencongak?

Kontras di bidang prestasi, yang menegangkan dan berakhir bahagia, berbalik dengan begitu mendadak dan tragis. Ayah Lintang, si anak jenius, tidak pulang lagi dari laut. Dia harus segera naik pangkat, menduduki posisi pencari nafkah bagi adik-adiknya. Proses penceritaan begitu menyayat hati. Lintang jenius. Tapi, karena miskin, dia tetap kalah juga. Kekalahan dalam film ini bukan akhir kehidupan. Kejeniusan Lintang diwariskan kepada anaknya.

Bagiku, film ini menggagas dengan kuat pendidikan seorang manusia. Beberapa kali ditunjukkan keteguhan bapak kepala sekolah dalam hal prinsip mendidik manusia. Meneguhkan iman dan mematangkan kepribadian adalah dua hal pokok. Bukan uang dan fasilitas hebat. Persoalannya ada pada bagaimana menempatkan semua itu pada posisi yang benar. Ketika uang dan fasilitas (juga gengsi) menjadi tujuan, otomatis pendidikan manusia turun peringkatnya dalam daftar tujuan.

Penekanan film itu memang berbeda dari novelnya. Rasanya memang gak mungkin suatu film memaparkan setiap lembar sebuah novel. Itu yang seringkali bikin aku gregetan saat nonton. Jadi beda! Tetapi, yang satu ini memang lain. Penyajiannya dilatari oleh fakta pendidikan dan kemiskinan negeri ini. Mungkin karena punya minat di kedua bidang itu, film Laskar Pelangi langsung menerobos seleraku.

Aku masih ingat satu kalimat dari bapak kepala sekolah. Beliau berkata kepada anak-anak didiknya,

“Jadilah manusia (atau orang ya…lupa, hehehe) untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan menjadi manusia untuk menerima sebanyak-banyaknya….”

Kayaknya kutipan itu gak terlalu persis dech. Tapi, moga-moga tetap mewakili inti ajaran seorang bapak tua penuh dedikasi kepada manusia.