Siapa yang Manusia?
Malam itu mulai merayap larut. Pagi tinggal 2-3 jam lagi. Aku masih merokok. Meringkuk di bundaran di pekarangan rumah sakit. Tidak ada niat untuk ngopi. Hati ini gelisah dan marah. Membuatku lupa kalo malam ini sangat dingin. Lupa juga kalo renta mulai merayapi tubuh ini.
Di dalam sana terkapar anakku. Ditemani beberapa relawan. Tadi sore dia datang ke sanggar. Baru pulang dari Bandung. Ikut rombongan bonek Persebaya. Tangannya terluka karena huru-hara di Solo. Ternyata itu bukan sekedar luka. Sendi sikunya lepas. Harus operasi. Kepalaku langsung cenut-cenut saat itu. Dari mana kudapatkan uang untuk operasinya?
Kulihat dia terbaring diam. Ada darah di pembalut sikunya. Wajahnya langsung meringis. Melemparkan senyum. Siap untuk bergurau seperti biasa.
“Sakit?” tanyaku berbasa basi.
“Yaahhh…biasa, Mo” jawabnya.
Senyumnya makin lebar. Dia sempat main komputer di sanggar sore tadi. Itu cerita dari relawan. Aku tahu, anak-anak ini biasa nahan sakit. Mereka tidak takut dengan rasa sakit. Tapi, yang satu ini pasti tak kan mampu mereka tahan.
“Eh, ini ada suntikan untuk kamu. Barusan kuambil dari apotik. Ada tiga. Besar-besar semua,” kataku.
“Aaduuuuhhhh…!” serunya.
Wajahnya langsung jadi lebih pucat. Matanya meredup bersamaan dengan kengerian. Tapi langsung membelalak begitu merasa aku goda. Memikirkan pembalasan.
Di rumah sakit, bukan kepalaku yang cenut-cenut lagi. Darahku yang mendidih. Mataku melotot menyaksikan bagaimana dia diperlakukan. Banyak pertanyaan tentang latar belakangnya. Jawaban jelas. Dia anak jalanan. Tinggal di kolong jembatan. Tidak ada keluarga bersamanya. Tidak ada KTP dan KSK. Tidak ada identitas resmi. Murni orang jalanan. Hidup, kerja, makan, mandi, berak di jalanan.
Tampak jelas keraguan yang muncul di mata bapak-bapak petugas. Gimana dia bisa bayar? Siapa yang mau jamin? Kalo tidak ada yang jamin, kami gak bisa ngurusi. Minta ampun dech….
Tadi, keluar dari ruang rontgen, dia usaha sendiri. Tangan yang satu menggerakkan roda kursi. Tangan yang terluka mencoba menghela pintu. Tak ada yang bantu membukakan. Begitu sosoknya terlihat, kami berlarian membantu. Hati ini makin terkoyak. Mungkin di ruang itu gak ada petugas lagi ya? Sudah pergi semua sebelum dia keluar. Hmmm…. Mencoba berpikir positif. Meski sia-sia. Karena jelas tampak ada orang.
Gak cuma anak ini yang malang. Ketika seorang ibu tua menanyakan informasi. Bentakan yang didapat. Padahal informasi itu, menurut si ibu, dari mulut dokter lain di situ. Tinggal dijawab ya atau tidak. Kok susah amat. Sorot mata si ibu kelam menahan malu. Tak berani menatap yang lain. Terseok-seok ia kembali ke sisi suami yang diam tak tersadar.
Inilah nasib orang kecil. Nasib kere. Tak ada harganya. Perasaan orang kecil tak ada nilainya. Tak ada artinya. Sama sekali. Di mata mereka yang merasa diri manusia. Di jalanan mereka dipandang dengan sorot hina dan sinis. Sedikit beruntung jika ada pandangan kasihan. Di rumah sakit, lebih parah lagi. Dibombardir dengan pertanyaan-pertanyaan menyakitkan. Lalu dibiarkan sampai berjam-jam. Dibentak kalo berani bertanya. Dibentak bukan karena mereka salah.
Para kere pasti udah terbiasa. Perlakuan seperti itu udah bagian dari hidup. Tapi, apakah itu berarti mereka kebal? Perasaan mereka bebal? Tidak merasakan apa-apa? Si ibu tua jelas merasa terhina. Anakku? Aku tidak berani bertanya. Dia pun tidak mengatakan apa-apa. Matanya yang bicara. Bahwa hatinya lebih sakit daripada sikunya. Perasaan mereka jauh lebih sensitif. Justru karena mereka adalah manusia.
Aku tercenung lama di bundaran itu. Hati merana. Bukan cuma mereka yang merasa terhina. Teman-teman relawan merasa disakiti. Juga diriku. Situasi seperti ini pun bukan yang pertama kali. Sudah berkali-kali. Dan, akan terus terjadi. Selama manusia masih terus dibeda-bedakan. Selama menjadi manusia diartikan punya kemewahan dan pangkat. Selama manusia hanya dihargai kalo berguna.
Seorang relawan datang. Si siku lepas dah tertidur, katanya. Syukurlah. Lebih baik dia tidur pulas. Daripada mata melek mengingat perlakukan terhadapnya. Meski mereka tidak mau terima. Dengan lapang hati mereka tetap menerimanya. Terus, membiarkan berlalu. Besok akan tersenyum lagi. Tersenyum juga kepada para petugas. Seolah tidak ada apa-apa. Siapa yang sebenarnya manusia?
Lebih baik kere jangan sakit. Dilarang sakit. Langsung mati justru lebih baik. Gak akan tahu kalo diperlakukan bukan sebagai manusia. Gak akan merasa apa-apa lagi. Tapi, menjadi manusia bukan karena perlakuan orang lain. Justru sebaliknya. Bagaimana memperlakukan orang lain adalah ukuran kemanusiaannya. Jangan lupakan ini, Wan.
Si Kecil Tertidur
Aku nyampe di perempatan itu. Persis jam 21.30. Masih sore bagi anak-anak. Tapi itulah saat mereka beristirahat dari kerja sejak sore tadi. Kustandarkan sepeda motor. Helm kulepas. Lalu kuedarkan mataku ke seputar perempatan. Mencari-cari wajah dan sosok yang kukenal. Dan, itu mereka. Teriakan yang khas. Berlarian mereka datang dari seberang.
Sudah lama aku tidak main ke tempat ini. Sudah lama pula tak kujumpai wajah-wajah ceria walo larut kerja di jalanan. Wajah-wajah yang senantiasa kurindukan. Ngobrol, walo hanya ngalor ngidul. Kadang si kecil mengajak cerita panjang lebar tentang hantu dan gendruwo yang pernah dijumpai. Ada saatnya cerita carut marut kehidupan yang mengalir keluar dari mulut mereka.
Mereka masih anak-anak. Punya rumah. Punya orang tua. Tapi kerja di jalanan. Beberapa dari mereka bersekolah. Pagi sampai siang masuk. Sore istirahat atau main PS. Sekitar jam 6 mulai terlihat lalu lalang di perempatan. Cari duwit. Lalu jam 9 atau 9.30 malam mereka mulai istirahat.
Tidak berarti mereka akan langsung pulang. Masih mereka di jalan. Bermain. Berlari dan berlompatan. Kejar-kejaran. Di antara kendaraan yang lagi lalu lalang. Hati ini lebih sering miris melihat ulah seperti itu. Namun, kapan lagi mereka punya waktu untuk bermain? Kapan lagi bisa unjuk ekspresi keriangan dan keakraban? Tapi, di tengah perempatan?
Kali itu si kecil gak muncul bersama yang lain. Mataku beredar lagi menelisik perempatan besar. Itu dia di dekat lampu merah. Menyelinap lincah di antara kendaraan yang lagi berhenti.
“Dia masih kerja. Targetnya belum dapat,” ujar seorang anak.
Aku mengangguk lemah. Ada rasa tidak terima. Tapi, ketidakberdayaan muncul pula di hati.
Anak-anak malang ini diperkerjakan orang tua mereka. Ketika usaha mencari tambahan income sudah mentok, anak-anak ini dikirim kerja di jalanan. Mereka ikut membiayai keluarga. Duwit untuk sekolah pun didapat dari jalanan.
Mataku sulit lepas dari si kecil di seberang sana. Sembari ngobrol dan bergurau dengan anak-anak lain. Sekarang dia lagi duduk di pembatas jalan. Karena lampu sedang hijau. Sesekali kepalanya terangguk. Jelas ngantuk. Dia paling gampang tidur. Duduk sebentar tanpa diajak ngobrol, akan langsung terbang ke alam mimpi.
Pernah, ketika ada operasi garukan satpol PP, dia tertidur pulas di atas pembatas jalan. Teriakan teman-temannya gagal menembus alam sadar. Dengan gampang si satpol PP mengangkat tubuh mungil pulas itu. Langsung dilempar ke atas truk.
Kuhela nafas dalam-dalam. Aku tahu si kecil akan bertahan di situ. Tidak akan pulang sampai pagi. Walo ngantuk dan lelah. Walo sempat duduk tertidur berkali-kali. Walo besok pagi-pagi harus berangkat sekolah. Meski malam diguyur deras hujan sekalipun. Tidak akan pulang tanpa target emaknya digenggam di tangan. Kapan belajar? Nanti dulu. Gimana bisa belajar kalo tidak ada uang untuk bayar sekolah? Gimana bisa belajar kalo perut lagi lapar?
Nafasku makin berat rasanya. Kuingat, masih aja banyak prasangka tentang anak-anak ini. Ada yang bilang mereka ngemis dan ngamen di jalanan karena malas. Bahkan tidak sedikit yang mogok memberikan uang. Dipikirnya, memberi uang berarti membiarkan mereka tetep malas. Maksudnya positif, sich. Tapi, fakta di jalanan lebih sering berbeda dari kepala-kepala yang mapan. Makin sedikit yang mengulurkan uang logam, makin panjang jam kerja mereka di jalanan.
Kusadari mataku sempat berair. Pasti bukan menangis. Itu jelas. Pasti karena asap rokok. Mengepul dari mulutku sendiri dan banyak mulut mungil di sekitarku. Kutengok lagi si kecil. Sudah terkapar tidur….
Anak-anak Awan
Kupandangi rumah itu. Sebelumnya masih ada anak-anak di sini. Selalu menyambut aku dengan sapaan. Sebulan lalu mereka dipulangkan. Rumah ditutup.
Kutarik nafas panjang. Bertahun-tahun rumah itu telah menjadi bagian dari kami. Bertahun-tahun kami merasa “punya anak”. Bahkan bertahun-tahun pula Yayasan hanya dipandang sebagai Simo. Sampai sanggar dan pendampingan di jalanan tidak pernah digubris tiap kali kami cerita.
Perhatian selama ini terfokus ke mereka. Harapan bahwa anak-anak akan menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Harapan itu senantiasa dipertahankan. Tapi, nyatanya tak pernah terpenuhi. Masalah yang sama selalu berulang. Ada saat berhenti sebentar. Hanya untuk memberi kesempatan kami menarik satu dua nafas. Lalu, muncul lagi.
Kuingat wajah mereka satu per satu. Wajah-wajah yang telah kuakrabi. Tak pernah terlihat tidak dekil. Selalu tampak riang saat aku datang. Kelihatan lebih ria lagi saat kuajak ngopi dan ngobrol. Pun tidak sedih saat aku pergi. Keceriaan seperti lekat selalu. Walo para pengurus kelimpungan karena masalah mereka.
Adakah sesuatu yang tidak kukenali?
Bolos sekolah. Bagaikan tradisi saja. Dipanggil oleh sekolah bak acara mingguan bagi kami. Mengapa? Apakah sekolah formal memang tidak cocok bagi mereka? Bisa kubayangkan. Anak-anak tidak punya kebiasaan membaca. Tak dimiliki kebiasaan duduk berhadapan dengan buku. Tak ada budaya duduk berjam-jam mendengarkan orang bicara. Terbiasa berpikir bebas dan semaunya. Tanpa sadar terpola untuk omong dan berkomentar seenaknya. Bagaimana anak-anak ini akan bertahan di kelas?
Di jalanan sorot mata negatif selalu mereka terima dari orang-orang yang lewat. Tidakkah itu semua pada akhirnya membentuk citra diri yang negatif? Tidakkah rasa minder kian dalam tertancap? Guru dan teman sekolah menerima mereka apa adanya. Bahkan berusaha memahami mereka. Namun, rasa minder tidak susut. Malah bertambah ketika sekolah itu cukup elit.
Kekerasan begitu kental dalam hidup anak-anak. Kekerasan yang dilakukan sesama orang jalanan mereka telan tiap saat. Kekerasan dari aparat menancapkan kebencian hebat pada orang berseragam. Pandangan mata yang negatif adalah kekerasan yang mengerdilkan jiwa mereka. Sementara pengalaman dicintai begitu minim. Akibatnya, kekerasan menjadi satu-satunya cara menyelesaikan segala masalah. Pilihan bagi mereka seakan cuma melawan atau lari. Masalah kecil dengan guru, teman, atau tugas sekolah, lari terbirit-birit yang dipilih. Ditegur sedikit, seluruh dunia sudah seperti musuh.
Kenyamanan di rumah meninabobokan mereka. Ada masanya ketika butuh fasilitas, tinggal ngomong. Gak perlu mikir soal makan. Uang saku tersedia. Seperti seminari. Bisakah semua itu menjamin terciptanya pengalaman dicintai? Mampukah kenyamanan seperti itu menanamkan keyakinan bahwa hidup adalah perjuangan? Dapatkah kemandirian tercipta? Lebih-lebih saat pengurus gagal memberi teladan positif?
Minim pengalaman cinta. Akibatnya sulit untuk mencintai dan merasakan dicintai. Cinta yang ditawarkan akhirnya dimanipulasi. Manipulasi-manipulasi inilah yang tidak segera kami pahami. Terlena oleh ide memberi apa yang mereka butuhkan. Dan, kita sendiri nyatanya tidak tahu, apakah kebutuhan itu memang real.
Maka, sudah waktunya untuk berhenti. Sebentar saja. Untuk melihat semuanya kembali.
Kuingat wajah-wajah mereka. Anak-anakku. Mereka seperti awan. Terlihat setiap hari. Tapi berada jauh di atas sana. Dari gejalanya bisa diperkirakan. Tapi tidak bisa dipastikan persis kapan akan terjadi.
Anak-anak awan…. Aku tetap mencintai mereka.
Di Atas Tangkis
“Itu, Mo. Mereka tidur di atas tangkis itu!” tuding relawan yang kubonceng.
Tangkis adalah tanah urukan dari bawah kali Jagir yang dinaikan ke atas. Menjadi semacam tanggul pendek sepanjang kali.
Aku tidak melihat sosok orang di atasnya. Cuma becak terparkir yang kukenali. Tapi, begitu motor menepi, kulihat mereka. Si ibu tampak terbaring tidur. Beralas karpet hitam tipis. Diletakkan di atas lembaran kain goni. Persis di atas tanah tangkis. Di bawah kakinya langsung mulut kali Jagir.
Sejak penggusuran kedua stren kali, di situlah mereka hidup. Tidak ada lagi tempat bernaung. Kecuali langit terbuka di atas. Tiada lagi dinding bambu dan kardus. Hanya berdinding angin. Sekarang tiap bangunan baru mengundang penggusuran berikutnya. Lalu, itulah rumah mereka. Tanpa perabotan. Cuma karung goni dan karpet itu harta mereka. Entah akan ke mana jika musim hujan datang sebentar lagi.
Si bapak lagi menyalakan api. Mencoba mendapatkan kehangatan bagi rumahnya yang berangin. Kayunya bekas perabotan. Tersisa dari penggusuran. Begitu melihat kami, bergegas ia berdiri. Menyalami dengan senyum ramah.
“Kok lama gak dolan,” sapanya.
Aku cuma bisa tersenyum. Masih kaget dengan perubahan drastis hasil mahakarya Pemkot. Dulu mereka masih punya rumah gubuk. Satu ruangan. Si ibu biasa jualan minuman di depan. Lumayan buat nambah penghasilan. Sekarang, rumah habis. Pekerjaan si ibu juga hilang. Penghasilan berkurang banget.
Si ibu pun terbangun. Kaget melihat kami. Terhuyung-huyung mengangkat badannya berdiri. Dia gemuk. Berbasa-basi sebentar. Kemudian, dia bilang,
“Dah gak ada apa-apa lagi sekarang, Mas. Gak bisa lagi nyuguhi minuman. Nyuwun ngapunten ingkang sanget, lho Mas.”
Matanya mulai berair. Aku terdiam. Kaget. Gak mengira. Dia masih sempat minta maaf. Tidak punya minum untuk disajikan bukan salahnya….
Kena DO
Dia diam terpekur. Kepalanya menunduk. Raut sendu dan bingung tak tersembunyi. Tampak jelas. Senyum sesekali terlontar saat bicara denganku. Tapi sama sekali tidak mengurangi kesan penat dan risau. Rokok sudah memendek. Terselip di jari-jarinya. Kopi diseruput pelan. Bicaranya lebih pelan lagi. Lirih. Seakan takut aku kecewa dan marah.
Aku duduk di sebelahnya. Lebih terpekur lagi. Sibuk dengan pikiran dan gundah gulanaku sendiri. Sesekali kusimak kata-katanya. Menerobos telingaku. Menggaung di kalbu. Sambil berusaha agar marah dan kecewa tidak dia tangkap.
Aku tahu persis gejolak hatinya. Edo, koordinator rumah, telah cerita malam tadi. Dia dikeluarkan dari sekolah. Terlalu banyak bolos, kata Edo semalam. Kepala sekolah tidak bisa menolerir lagi. Ini penyakit lama. Pelanggaran paling umum di antara anak-anak seperti dia.
Rasa marah kurasakan sejak semalam. Aku merasa kecewa. Merasa disakiti. Bukan hal gampang mengusahakan dia bisa sekolah. Donatur harus dicari. Sekolah harus didekati. Karena umur dia sudah di atas rata-rata. Perlu lobi juga untuk mendapat kemurahan SPP. Untung, malah dapat gratis. Yang paling sulit, memotivasi dia. Terkuras energi untuk membentengi motivasi. Rasanya semua itu sia-sia…. Kerja tanpa manfaat….
Sekarang, haruskah rasa marah kulampiaskan?
Dia masih di situ. Terdiam sekarang. Benakku masih liar menggagas. Anak-anak seperti ini. Lama di jalanan. Bebas semaunya. Tidak terbiasa duduk lama. Lebih-lebih duduk menghadapi buku. Apalagi mendengarkan orang ngomong berjam-jam. Jelas, tidak ada budaya membaca dan belajar. Sejak mereka kecil. Mampukah semua itu dihapus hanya dalam waktu beberapa tahun?
Sementara, pedihnya hidup jalanan menciptakan kelabilan tingkat tinggi. Kadang tak bisa kupahami. Jalanan memang minim akan pengalaman cinta. Kekerasan lebih kerap mereka telan. Akibatnya, sedikit masalah dengan guru, teman, atau tugas, langkah seribu yang dipilih. Sedikit saja rasa aman terancam, dunia seakan menjadi musuh.
Apakah kejadian ini berarti sekolah formal tidak cocok bagi mereka? Ada saat-saat keberhasilan bisa dipeluk. Beberapa anak bisa lulus. Meski harus dengan banyak peluh dan air mata. Dua tiga anak sudah berhasil dalam pekerjaan. Tapi, lebih banyak yang gagal. Apakah ini tanda bahwa kami sebenarnya tidak sanggup mengurus mereka?
Kepalaku pusing. Migrain makin bikin cenut-cenut. Lebih baik pulang dulu. Mendekam dalam kesunyian kamar.
Si Mata Bening
Kopi hitam terasa nikmat di pagi itu. Kopi pembuka hari. Kuseruput perlahan. Panasnya menyegarkan. Rasanya jelas kalah dibandingkan kopi 3 in 1. Namun, suasana di warung menggenjot rasa di hati. Sesekali kutanggapi celotehan rame sesama pesinggah.
Sejak tadi mataku tak lepas dari sosok kecil. Dia di seberang sana. Seorang anak. Bajunya agak dekil. Lagi bermain dengan caranya sendiri. Wajahnya ceria walo sedang sendirian. Matanya tampak bening. Satu keasikan yang baru kutemukan. Nonton anak yang asik bermain. Menikmati ekspresi diri yang murni. Mengagumi kreativitas yang kadang tak pernah kupikirkan.
Sekelompok anak berseragam dan sebaya mendekat. Mau lewat. Anak tadi kelihatan jadi lebih ceria. Menyapa rombongan itu dengan riang. Disambut dengan kegembiraan yang selevel pula. Mereka pasti berteman. Beberapa mencoba permainannya. Kegembiraan seperti itu pernah kualami. Asik.
Tapi, rombongan itu tidak lama. Hanya sekedar mampir. Jam sekolah pasti sudah menanti. Mereka pun pamit dan beranjak. Si anak tadi ditinggal. Sendiri lagi. Berdiri menatap langkah mereka dengan sendu. Mata bening itu tidak riang lagi. Musna sudah keasikannya bermain.
Aku bangkit. Kuseberangi jalan. Kuhampiri dia.
“Itu tadi siapa?” tanyaku.
“Teman, Pak,” jawabnya lugu.
“Kok kamu gak sekolah?” lanjutku.
“Kata bapak, gak ada uang, Pak.”
Sudah kuduga. Kutatap matanya. Memang bening. Tapi, memang tidak ria lagi. Anak yang lugu dan polos. Ditanya orang asing pun tetap jujur menjawab. Tak ada kecurigaan. Hatinya masih bersih. Hati seorang anak.
Mata itu menarik hatiku. Si mata bening pasti gak paham hubungan antara tidak ada uang dan tidak sekolah. Gak akan sampai di akalnya mengapa kok tidak ada uang. Yang dia tahu, temannya sekolah dia tidak.
Si mata bening itu berjongkok. Melas. Nanar mata beningnya mengiring langkah menjauh teman-temannya. Lalu, ogah-ogahan melempar-lempar kerikil. Terbang sudah keriangan seorang anak. Melayang pula semangatku, bekal di hari itu….
Ia Semakin Diam
Mataku tak pernah lepas dari dia. Seorang anak 14 tahun. Setahuku ia anak pendiam. Begitu pula yang dikatakan teman-temannya. Pagi hari berangkat ke sekolah. Sepulangnya dia bermain. Petang hingga malam ngamen di perempatan besar dekat gubuknya. Hasilnya adalah setoran buat ibunya, yang selalu nunggu sambil membawa si adik mungil.
Sudah lebih dari tiga minggu ia meringkuk di sel ini. Kecil dan sempit. Tapi mungkin lebih luas dari pada gubuk reotnya yang tersisa dari penggusuran bulan lalu. Namun, itu tetap sebuah sel. Terpisah dari yang dewasa. Terhubungkan hanya oleh jendela tralis. Mencuri HP adalah dosanya.
Saat itu ia lebih pendiam lagi. Kata demi kata lirih diucapnya. Seakan tak ingin tetangga sebelah mendengar. Jongkok meringkuk di belakang pintu teralis kamarnya. Matanya gelisah. Kadang menyiratkan kengerian. Ia tampak lemah. Tiada daya. Tak pula kutemukan keceriaan seorang anak, yang biasanya terpantul dari sirat mata dan polahnya.
Aku jadi ingat sajak Chairil Anwar…
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Tapi Chairil Anwar masih bisa berucap…
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Itu mustahil baginya. Tak mungkin dia bisa berlari membawa pedih dan peri. Anak ini tetap terkurung. Dunianya telah menyempit. Dunianya telah menjadi isolasi. Ia akan semakin diam. Entah sampai kapan….
“Yang Terhormat”, Mengapa?
Aku duduk bersila, berhimpitan dengan yang lain di ruangan ini. Bukan ruangan sebenarnya. Setengah terbuka. Persis di pinggir kali. Sebagian duduk di tengah jalan sempit beralas koran dan kardus. Lampu tidak seberapa terang. Asap rokok mengepul dan melayang. Segera menghilang dari pandangan begitu mencapai udara terbuka. Seperti itulah asa yang tersisa di hati mereka. Kira-kira.
Kutatap satu persatu wajah-wajah di sini. Wajah-wajah lelah. Marah. Tegang. Berpengharapan hanya setengah. Mungkin malah kurang dari itu. Itu pun kalau masih tersisa. Apa yang ada di benak mereka? Apalagi kalau bukan ancaman penggusuran….
Mereka tidak sungguh tahu mengapa rumah-rumah mereka harus digusur. Tidak ada pemahaman yang pasti. Hanya kira-kira, prasangka, dugaan. Bahwa stren kali akan dijadikan daerah pariwisata sungai dengan biaya ADB. Kira-kira seperti itu. Sekali lagi, hanya dugaan. Justru karena hanya dugaan, amarah menjadi penguasa orang-orang ini. Merasa dikorbankan. Merasa dikalahkan demi sebuah pariwisata. Dianggap hanya sampah yang cuman pantas dibuang.
Mengapa para penguasa nan arif budiman tidak pernah berbicara kepada mereka? Mengapa sosialisasi tidak pernah jalan? Mengapa selalu “tidak ada di tempat” tiap kali para “yang terhormat” didatangi dan ditanyai? Apakah orang-orang ini hanyalah anak-anak yang tidak bisa berpikir sendiri, sehingga harus ada seorang bapak yang membuatkan keputusan bagi hidup mereka? Apakah mereka hanyalah sekumpulan binatang dengan perasaan tumpul dan otak macet, sehingga tidak perlu lagi ditanya? Mengapa penjelasan memadai kepada orang-orang seperti ini tidak pernah dirasa perlu?
Hati kembali teriris teringat penggusuran awal Mei lalu. Haruskah orang-orang ini diperlakukan seperti binatang yang dihancurkan dan diusir? Manusia…siapakah yang masih manusia?
Jagir…di Awal Mei
Terputar di benakku rekaman kejadian sejak pagi subuh kemarin. Polisi dan satpol PP berbaris tegap, rapi, dan galak. Mungkin jumlah mereka ribuan. Sebagian polisi bertameng dan bertopi ala Star Wars. Sebagian dari mereka bersenapan tergantung di dada. Maut menjadi bayangan mereka. Pak bego (back hole) dan buldozer bersiap di ujung sana.
Berhadapan dengan orang-orang gagah perkasa ini adalah warga. Tak bersenjata. Mereka penuh dengan emosi, kelimpungan, bingung, pasrah, tak berdaya… putus asa. Berjajar dalam barisan kacau. Berdiri. Lalu duduk berjongkok. Lalu berdiri lagi. Gak yakin. Mulut komat-kamit merapalkan doa. Beberapa jatuh berlutut sembari menangis sesenggukan memegang tongkat berkibaran merah putih. Masihkah sang merah putih berarti bagi mereka di saat seperti itu?
Tak lama kemudian pak bego dan buldozer bergerak maju. Rumah-rumah kumuh, kotor, tak layak huni, yang selama ini melusuhi wajah kota, dihantam dan diterjang. Tiada ampun. Wajah-wajah lusuh para pemilik makin tak berdaya.
Aku ingat persis saat-saat itu. Kaum lelaki berdiri dengan wajah tegang penuh kemarahan sekaligus keputusaasan. Rumah hasil keringat dan menabung bertahun-tahun dihancurkan di depan mata. Ibu-ibu menjerit, melolong, berlelehan air mata sia-sia. Hancur sudah harapan membesarkan anak dalam sebuah rumah. Anak-anak kecil berdiri dengan mata nanar dan bingung, tangan berpegang kuat pada baju orang tua, badan gemetaran hebat. Tak ada bayangan tentang apa yang terjadi, mengapa ada begitu banyak orang berseragam berparas kaku tak ramah, mengapa rumah mereka dihancurkan, dan seterusnya.
Kuingat momen itu dengan hati seperti diiris-iris dari pagi hingga malam.
Tak kan kulupakan wajah-wajah tak berdaya berpagar tameng, pentungan, dan senjata laras panjang. Masih bergaung kuat teriak dan jerit orang yang sedang diluluhlantakkan hidup dan asanya. Terbayang jelas wajah ketakutan dan badan gemetaran anak-anak di depanku. Penderitaan yang tak muat dalam rumusan kata maupun aksara. Kepedihan hati yang mustahil diceritakan saat itu…hanya bisa dirasakan. Lumatlah asa ratusan kepala keluarga. Musna jua keyakinan diri bahwa mereka manusia. Bukan binatang yang hidup dalam lingkaran pengejaran, perburuan, pengusiran.
Itu semua tak mungkin kulupa. Akan senantiasa kukenang mereka saat kuangkat cawan penderitaan. Junjunganku telah disalibkan bersama mereka kemarin. Semoga penderitaan Junjunganku melindungi citraNya yang digusur ke dalam penghinaan.
untuk teman-teman di Jagir, 5 Mei 2009
Tuhanku Kebanjiran…
Aku berdiri di atas tanggul. Setelah satu tahun lebih, kini aku di tempat ini lagi. Di depanku hamparan sawah terpapar luas. Hijau. Berair berlebihan. Banjir. Padi kecil-kecil. Pasti belum sampai satu bulan menghidupi diri dengan tanah bumi desa ini. Umur yang sangat pendek. Bengawan Solo akan segera menghabisinya.
Terkenang tahun lalu, ketika datang ke tempat ini. Padinya kuning. Siap dipanen. Tapi itu tinggal mimpi. Banjir duluan memanen padi. Kerja keras berbulan-bulan digasak habis dalam hitungan jam. Petani pun gak sempat menangis. Banjir buruan masuk rumah. Ada yang lebih penting daripada menangisi padi dan kedelai. Ngurusin keluarga. Ambil barang seperlunya. Selamatkan ternak cepat-cepat. Terus ngungsi.
Tahun lalu dan sekarang. Apa bedanya? Padi kuning dan hijau sama nasibnya.
Tanggul penahan Bengawan Solo mulai jebol beberapa menit setelah peralihan malam ke pagi. Air menyembur deras ke perumahan. Teriakan panik ibu-ibu terasa perih di hati. Jerit tangis mereka mengiris kalbu tanpa ampun. Buah keringat sekian lama akan disapu bersih dalam hitungan menit. Mengapa rasa aman cuma sekejap? Mengapa tenteram hanyalah khayalan sesaat? Mengapa kesejahteraan ada di bibir petinggi belaka?
Hati pilu memandang hamparan air. Kucoba berdoa. Menemukan Tuhanku…. Dan, dia tidak jauh. Tuhan yang kusembah kutemukan di sini.
Tuhanku panik ketika tanggul jebol. Tuhanku menjerit melolong saat banjir menghantam rumah. Tuhanku tergopoh-gopoh bingung. Membawa sebuntal barang yang sempat diselamatkan. Anak di gendongan. Tangan anak yang lain di genggaman. Basah kuyub. Kalut berlari ke arah tanggul dikejar air yang makin naik.
Tuhanku tidak pernah merasa aman. Tuhanku tidak pernah hidup tenteram. Dia tidak pernah sejahtera. Dia bahkan menjadi miskin lagi. Saat ini pun Dia masih berdoa, pasrah, tanpa daya,
“Jika mungkin, ya Bapa, singkirkanlah cawan ini dariKu. Namun, terjadilah padaKu menurut kehendakMu.”
Leave a Comment


