Allah Dibuang…

Lebih dari 10 tahun lalu, ada cerita yang meluncur dari mulut seorang teman. Dia ikut warga kampung pedalaman berburu di belantara Kalbar. Mereka biasanya berburu dengan senapan lantak. Senapan made by mereka sendiri. Pelurunya gotri-gotri kecil.

Ketika itu warga menembak orang utan yang lagi melompat dari pohon ke pohon sembari menggedong anaknya. Begitu tertembak dan melayang jatuh, si orang utan melemparkan anaknya jauh ke udara. Maksudnya jelas. Si anak harus selamat. Tidak ikut tertangkap manusia. Sungguh, luar biasa.

Continue reading

Bayar dan Bayar…

Mereka begitu riang bermain. Dua anak ini, bersama anak-anak lainnya. Lari ke sana kemari. Menggoda temannya. Mendekati relawan-relawan pendamping. Ulah mereka membuat tersenyum. Dasar anak-anak. Lincah. Riang. Tak berbeban.

Mereka memang tidak berbeban. Yang berbeban justru orang lain. Orang tua dan kami semua. Dua anak ini tidak sekolah lagi. Baru saja mereka drop out. Alasan ekonomi. Yang satu malah keluar dengan proses dramatis. Begitu pulang dari luar kota dan mendengar si anak ditariki Rp 400.000,00 untuk urusan UNAS, si bapak langsung ke sekolah dan mengajaknya pulang. Langsung keluar saat itu juga. Beliau masih saja ngomel sampai sekarang. Sekolah atau tidak tetap jadi kuli, katanya. Hmmm…sebuah kebenaran di kalangan orang kecil.

Continue reading

Bocah Loper Koran

Anak itu bermain dengan riang. Meloncat. Berlari. Lalu lalang kendaraan sama sekali tidak membuatnya cemas. Sesekali tawa dilontarkan ke arah kakak dan ibunya. Si ibu menunggui kios kecilnya. Memandang si kecil seperti melamun. Sang kakak lagi bergerak dari mobil ke mobil menawarkan koran di perempatan situ. Si kecil juga membawa koran di tangan. Bermain sambil menjajakan koran. Di mana pun anak selalu bisa bermain dan menemukan permainan.

Continue reading

Kisah Seorang Anak dan Kakeknya

Entah kenapa, tiba-tiba aku ingat anak itu. Sudah lama berlalu. Sejak ia menghilang sampai sekarang ini.

Anak itu masih kecil. Di awal belasan tahun. Saat itu, dia hidup berdua dengan kakeknya. Kakeknya selalu sakit. Itu kesanku yang masih hangat tentang si kakek. Sakit karena usia tua.

Irama hidup si anak ketika itu seperti sudah rutin. Tiap pagi berangkat ke sekolah. Siang hari pulang. Dilanjutkan bermain dengan teman-temannya. Tapi, lebih sering dia pergi bermain PS. Sampai sore.

Continue reading

Menggugat Kemerdekaan

Kompas tanggal 15 Agustus kemarin menyajikan kabar mengenaskan. Sepasang suami istri bunuh diri karena miskin. Di negara yang sudah lebih dari 60 tahun merdeka, masih ada orang bunuh diri karena kemiskinan????!!!!!!

Beberapa tahun lalu, berita lain lebih menyakitkan hati. Anak bunuh diri karena orang tua tidak mampu bayar sekolah. Di negara yang sudah 60 tahun lebih merdeka, masih ada anak negeri ini bunuh diri karena tidak bisa bayar sekolah?????!!!!!

Continue reading

Citra dan Cinta

Aku ternganga. Sesekali kepalaku menggeleng. Kadang sesak memenuhi dada. Memaksa untuk menarik nafas panjang. Ceritanya sekarang ini jauh lebih seram daripada sms-sms yang dia kirimkan. Tak kusangka, hari gini masih ada nasib manusia seperti tutur Multatuli dan Lulofs.

Baru aja dia pulang dari daerah perkebunan.Mengorganisir masyarakat pekerja di daerah itu. Tiap langkah dia kabarkan ke aku. Tiap keputusan dia smskan. Tiap peristiwa dia infokan. Dinamika di lapangan lalu serasa gamblang bagiku. Kukenali persoalannya. Kupetakan konflik-konfliknya. Kurunut kompleksitasnya. Jelas banget rasanya.

Continue reading