Ia Semakin Diam
Mataku tak pernah lepas dari dia. Seorang anak 14 tahun. Setahuku ia anak pendiam. Begitu pula yang dikatakan teman-temannya. Pagi hari berangkat ke sekolah. Sepulangnya dia bermain. Petang hingga malam ngamen di perempatan besar dekat gubuknya. Hasilnya adalah setoran buat ibunya, yang selalu nunggu sambil membawa si adik mungil.
Sudah lebih dari tiga minggu ia meringkuk di sel ini. Kecil dan sempit. Tapi mungkin lebih luas dari pada gubuk reotnya yang tersisa dari penggusuran bulan lalu. Namun, itu tetap sebuah sel. Terpisah dari yang dewasa. Terhubungkan hanya oleh jendela tralis. Mencuri HP adalah dosanya.
Saat itu ia lebih pendiam lagi. Kata demi kata lirih diucapnya. Seakan tak ingin tetangga sebelah mendengar. Jongkok meringkuk di belakang pintu teralis kamarnya. Matanya gelisah. Kadang menyiratkan kengerian. Ia tampak lemah. Tiada daya. Tak pula kutemukan keceriaan seorang anak, yang biasanya terpantul dari sirat mata dan polahnya.
Aku jadi ingat sajak Chairil Anwar…
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Tapi Chairil Anwar masih bisa berucap…
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Itu mustahil baginya. Tak mungkin dia bisa berlari membawa pedih dan peri. Anak ini tetap terkurung. Dunianya telah menyempit. Dunianya telah menjadi isolasi. Ia akan semakin diam. Entah sampai kapan….
“Yang Terhormat”, Mengapa?
Aku duduk bersila, berhimpitan dengan yang lain di ruangan ini. Bukan ruangan sebenarnya. Setengah terbuka. Persis di pinggir kali. Sebagian duduk di tengah jalan sempit beralas koran dan kardus. Lampu tidak seberapa terang. Asap rokok mengepul dan melayang. Segera menghilang dari pandangan begitu mencapai udara terbuka. Seperti itulah asa yang tersisa di hati mereka. Kira-kira.
Kutatap satu persatu wajah-wajah di sini. Wajah-wajah lelah. Marah. Tegang. Berpengharapan hanya setengah. Mungkin malah kurang dari itu. Itu pun kalau masih tersisa. Apa yang ada di benak mereka? Apalagi kalau bukan ancaman penggusuran….
Mereka tidak sungguh tahu mengapa rumah-rumah mereka harus digusur. Tidak ada pemahaman yang pasti. Hanya kira-kira, prasangka, dugaan. Bahwa stren kali akan dijadikan daerah pariwisata sungai dengan biaya ADB. Kira-kira seperti itu. Sekali lagi, hanya dugaan. Justru karena hanya dugaan, amarah menjadi penguasa orang-orang ini. Merasa dikorbankan. Merasa dikalahkan demi sebuah pariwisata. Dianggap hanya sampah yang cuman pantas dibuang.
Mengapa para penguasa nan arif budiman tidak pernah berbicara kepada mereka? Mengapa sosialisasi tidak pernah jalan? Mengapa selalu “tidak ada di tempat” tiap kali para “yang terhormat” didatangi dan ditanyai? Apakah orang-orang ini hanyalah anak-anak yang tidak bisa berpikir sendiri, sehingga harus ada seorang bapak yang membuatkan keputusan bagi hidup mereka? Apakah mereka hanyalah sekumpulan binatang dengan perasaan tumpul dan otak macet, sehingga tidak perlu lagi ditanya? Mengapa penjelasan memadai kepada orang-orang seperti ini tidak pernah dirasa perlu?
Hati kembali teriris teringat penggusuran awal Mei lalu. Haruskah orang-orang ini diperlakukan seperti binatang yang dihancurkan dan diusir? Manusia…siapakah yang masih manusia?
Jagir…di Awal Mei
Terputar di benakku rekaman kejadian sejak pagi subuh kemarin. Polisi dan satpol PP berbaris tegap, rapi, dan galak. Mungkin jumlah mereka ribuan. Sebagian polisi bertameng dan bertopi ala Star Wars. Sebagian dari mereka bersenapan tergantung di dada. Maut menjadi bayangan mereka. Pak bego (back hole) dan buldozer bersiap di ujung sana.
Berhadapan dengan orang-orang gagah perkasa ini adalah warga. Tak bersenjata. Mereka penuh dengan emosi, kelimpungan, bingung, pasrah, tak berdaya… putus asa. Berjajar dalam barisan kacau. Berdiri. Lalu duduk berjongkok. Lalu berdiri lagi. Gak yakin. Mulut komat-kamit merapalkan doa. Beberapa jatuh berlutut sembari menangis sesenggukan memegang tongkat berkibaran merah putih. Masihkah sang merah putih berarti bagi mereka di saat seperti itu?
Tak lama kemudian pak bego dan buldozer bergerak maju. Rumah-rumah kumuh, kotor, tak layak huni, yang selama ini melusuhi wajah kota, dihantam dan diterjang. Tiada ampun. Wajah-wajah lusuh para pemilik makin tak berdaya.
Aku ingat persis saat-saat itu. Kaum lelaki berdiri dengan wajah tegang penuh kemarahan sekaligus keputusaasan. Rumah hasil keringat dan menabung bertahun-tahun dihancurkan di depan mata. Ibu-ibu menjerit, melolong, berlelehan air mata sia-sia. Hancur sudah harapan membesarkan anak dalam sebuah rumah. Anak-anak kecil berdiri dengan mata nanar dan bingung, tangan berpegang kuat pada baju orang tua, badan gemetaran hebat. Tak ada bayangan tentang apa yang terjadi, mengapa ada begitu banyak orang berseragam berparas kaku tak ramah, mengapa rumah mereka dihancurkan, dan seterusnya.
Kuingat momen itu dengan hati seperti diiris-iris dari pagi hingga malam.
Tak kan kulupakan wajah-wajah tak berdaya berpagar tameng, pentungan, dan senjata laras panjang. Masih bergaung kuat teriak dan jerit orang yang sedang diluluhlantakkan hidup dan asanya. Terbayang jelas wajah ketakutan dan badan gemetaran anak-anak di depanku. Penderitaan yang tak muat dalam rumusan kata maupun aksara. Kepedihan hati yang mustahil diceritakan saat itu…hanya bisa dirasakan. Lumatlah asa ratusan kepala keluarga. Musna jua keyakinan diri bahwa mereka manusia. Bukan binatang yang hidup dalam lingkaran pengejaran, perburuan, pengusiran.
Itu semua tak mungkin kulupa. Akan senantiasa kukenang mereka saat kuangkat cawan penderitaan. Junjunganku telah disalibkan bersama mereka kemarin. Semoga penderitaan Junjunganku melindungi citraNya yang digusur ke dalam penghinaan.
untuk teman-teman di Jagir, 5 Mei 2009
Tuhanku Kebanjiran…
Aku berdiri di atas tanggul. Setelah satu tahun lebih, kini aku di tempat ini lagi. Di depanku hamparan sawah terpapar luas. Hijau. Berair berlebihan. Banjir. Padi kecil-kecil. Pasti belum sampai satu bulan menghidupi diri dengan tanah bumi desa ini. Umur yang sangat pendek. Bengawan Solo akan segera menghabisinya.
Terkenang tahun lalu, ketika datang ke tempat ini. Padinya kuning. Siap dipanen. Tapi itu tinggal mimpi. Banjir duluan memanen padi. Kerja keras berbulan-bulan digasak habis dalam hitungan jam. Petani pun gak sempat menangis. Banjir buruan masuk rumah. Ada yang lebih penting daripada menangisi padi dan kedelai. Ngurusin keluarga. Ambil barang seperlunya. Selamatkan ternak cepat-cepat. Terus ngungsi.
Tahun lalu dan sekarang. Apa bedanya? Padi kuning dan hijau sama nasibnya.
Tanggul penahan Bengawan Solo mulai jebol beberapa menit setelah peralihan malam ke pagi. Air menyembur deras ke perumahan. Teriakan panik ibu-ibu terasa perih di hati. Jerit tangis mereka mengiris kalbu tanpa ampun. Buah keringat sekian lama akan disapu bersih dalam hitungan menit. Mengapa rasa aman cuma sekejap? Mengapa tenteram hanyalah khayalan sesaat? Mengapa kesejahteraan ada di bibir petinggi belaka?
Hati pilu memandang hamparan air. Kucoba berdoa. Menemukan Tuhanku…. Dan, dia tidak jauh. Tuhan yang kusembah kutemukan di sini.
Tuhanku panik ketika tanggul jebol. Tuhanku menjerit melolong saat banjir menghantam rumah. Tuhanku tergopoh-gopoh bingung. Membawa sebuntal barang yang sempat diselamatkan. Anak di gendongan. Tangan anak yang lain di genggaman. Basah kuyub. Kalut berlari ke arah tanggul dikejar air yang makin naik.
Tuhanku tidak pernah merasa aman. Tuhanku tidak pernah hidup tenteram. Dia tidak pernah sejahtera. Dia bahkan menjadi miskin lagi. Saat ini pun Dia masih berdoa, pasrah, tanpa daya,
“Jika mungkin, ya Bapa, singkirkanlah cawan ini dariKu. Namun, terjadilah padaKu menurut kehendakMu.”
Si Kecil Kena TBC
Dia diambil dari Liposos kira-kira dua bulan lalu. Turun dari kereta api, dia langsung disanggong oleh polsuska. Lalu dibawa ke Liposos. Itu cerita pendeknya. Tak ada yang tahu pasti asal usulnya. Logat kayak orang Sunda. Usia tidak jelas. Mungkin 6 tahun. Mungkin juga lebih. Badannya pendek mungil.
Saat itu, tiap kali ketemu orang baru di sekretariat, dia langsung minta dipeluk. Itu caranya memperkenalkan diri. Kemudian tangannya akan meraba ke belakang…dompet pun lenyap. Terampil banget. Di kedua paha belakang penuh bekas luka bakar kecil-kecil. Kayak sudutan rokok.
Sudah dua bulan ini dia tinggal di sanggar. Menjadi yang paling muda dan paling kecil. Kesayangan setiap orang. Gayanya tetap sama bila ketemu orang. Minta dipeluk, duduk di pangkuan, mencium pipi…tapi tangannya gak lagi meraba ke belakang. Sudah sopan, kata anak-anak.
Hampir setiap orang penasaran menanyakan asalnya. Jawabannya gak pernah jelas. Berubah-ubah kayak hembusan angin. Dia hanya konsisten bila menjawab satu pertanyaan. Mau jadi apa kalo udah besar. Jadi preman.
Suatu saat dia mulai cerita. Dia punya ibu, bapak tiri, dan kakak nun jauh di sana. Pernah sekolah di TK. Bapaknya selalu nyuruh dia cari duit. Entah gimana caranya. Tiap kali pulang tanpa duit, si bapak menghajar dia. Suatu kali sang bapak mengancam mau menggorok lehernya. Dia lari. Sampai sekarang. Gak kangen ibu? Gak kangen teteh? Gak ingin pulang? Satu kata dan konsisten jawabannya. Gak. Dengan gaya yang sangat cuek.
Sejak ketemu, dia udah batuk-batuk. Bisa semalaman meriam di tenggorokannya bunyi. Kadang sampai pagi. Kadang juga diiringi demam. Beberapa kali dibawa ke klinik. Berkurang sich batuknya. Tapi, kemudian kambuh lagi. Badannya sampai kurus. Akhirnya beberapa hari yang lalu periksa semuanya. Pake rontgen dan cek darah segala. Mahal banget. Tapi, demi anak….
Kemarin relawan yang ngantar dia check up telpon,
“Hasil check baru diperiksa dokter besok pagi. Tapi, kata dokter, kemungkinan besar si kecil kena TBC, Mo.”
Aku tidak terkejut. Tapi, sesaat kemudian aku terpekur…terpikir si kecil itu…terpikir anak-anak lain…teman-teman relawan…diriku sendiri….
TBC….
Mereka tetap Bermain
Kuperhatikan mereka dari seberang jalan. Begitu asik bermain di tengah jalan, di sekitar pagar pembatas jalur. Tawa dan teriakan gembira seakan mau membelah langit malam. Lari ke sana ke mari, seolah-olah ini lapangan, bukan jalan raya. Sesekali mereka mendekati mobil yang berhenti di lampu merah dekat situ.
Ini hari sudah larut malam. Sejak tadi hawa beranjak dingin. Mereka tidak peduli. Mungkin saat ini anak-anak lain sudah merasakan hangatnya selimut dan empuknya bantal. Mereka tetap bermain.
Kemudian seorang ibu tua muncul dari salah satu ujung perempatan. Rupanya sejak tadi mendekam di bawah salah satu emperan sana. Ia mendekati anak-anak itu. Seperti memarahi mereka. Anak-anak itu langsung aktif mendekati mobil-mobil membawa alat musik darurat mereka. Permainan berhenti.
Ternyata perhentian itu tidak lama. Begitu kendaraan sepi, mereka bermain lagi. Asyik banget. Anak-anak…. Mereka menikmati hidup dengan bermain. Adakah yang salah?
Tapi, ibu tua itu muncul lagi. Marah-marah lagi. Anak-anak pun mengemis ke mobil-mobil lagi.
“Itu ibu mereka,” tutur salah satu anak yang duduk di sebelahku.
Aku kaget.
“Iya…, dia menyuruh anak-anaknya cari uang,” lanjutnya begitu melihat reaksi kagetku.
“Setiap malam ya seperti itu. Ibunya sembunyi di sebelah sana. Lalu kalo anak-anak itu gak kerja, ibunya selalu marah-marah seperti tadi itu,” sambung temannya.
Wah, terus…siapa yang harus cari uang? Orang tua atau anaknya yang masih kecil-kecil itu?
Mereka masih terus bermain. Aku pun tetap asyik memperhatikan kegembiraan mereka.
Minggat
Aku termenung. Melamun dan masgul. Sejak sore keliling, berharap, mencari, dan bertanya. Tidak kutemukan juga. Tempat ini adalah damparan terakhir untuk malam ini. Entah udah berapa lama aku duduk di sini. Tak terhitung berapa batang rokok jadi korban amukan hati. Tidak ada kopi. Badan lelah. Pikiran capai. Kegelisahan di hati serasa tak terkatakan lagi.
Dua anakku pergi. Minggat, kata orang Jawa. Persoalannya sepele. Mereka sudah lama bolos. Yang satu plus berantem di sekolah. Masalah sebenarnya sudah selesai setelah komunikasi dengan sekolah. Tetapi, ada kabar angin, entah berhembus dari ujung bumi sebelah mana, bahwa mereka diminta mundur.
Rasa bersalah bertubi-tubi menghantam batin. Sesal menyusul tanpa ampun lagi. Mengapa hal ini tidak kupikirkan? Mengapa aku tidak antisipasi dulu? Mengapa justru sekolah yang lebih dulu kuurus dan bukan anak-anak? Mengapa…mengapa…dan terus menerus mengapa…. Aku seperti tidak pernah mengenal anak-anakku.
Anak-anak ini berkali-kali mengalami penolakan. Tetapi, mereka tidak pernah terbiasa dengan penolakan. Perasaan mereka begitu peka. Banyaknya penolakan justru membuat mereka tidak mampu menerimanya. Lari adalah jalan terbaik dalam benak mereka. Pengalaman kekerasan di jalan tidak pernah membuat hati mereka kebal.
Aku yakin sekali mereka akan survive. Jalanan adalah hidup mereka. Namun, rasa gundah tidak berkurang. Bayangan akan realitas kehidupan jalanan makin menggerogoti hati. Tidak rela rasanya mereka mengalami kekerasan lagi. Tidak bisa hati ini membiarkan mereka terkena pengaruh jalanan lagi.
Kulirik jam di HP. Malam telah lewat satu setengah jam lalu. Dini hari makin merangkak. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan sekarang. Aku berjalan menuju sepeda motor. Masih ada waktu untuk mencari. Harapanku tidak padam.
Tuhan…Engkau yang mencipta mereka, temanilah mereka di mana saja mereka berada saat ini…please!
Lelah…
Pagi tadi aku ke rumah singgah. Begitu datang, emosiku langsung tergenjot naik melebihi ubun-ubun. Ini hari sudah jam 8.30. Mereka masih terkapar di tempat tidur. Tidak bangun pagi. Tidak sekolah. Rumah pun masih berantakan. Sisa banjir tadi malam belum sepenuhnya dibersihkan. Kemarahan makin menggelegak saat kutemukan sebotol Johny Walker. Kosong, tapi baunya masih segar.
Dengan kasar kubangunkan mereka. Masih ngantuk dan kaget, mereka melontarkan alasan. Entah supaya bisa tidur lagi…, atau sekedar agar aku gak marah. Alasan tidak kuhirau. Kejengkelan terlanjur bikin dada sesak. Kupaksa mereka bangun dan kerja bersihkan rumah.
Marah, kecewa, dan lelah jadi satu. Gagal sudah rasanya. Sudah cukup lama mereka tinggal di sini. Gak hanya tiga empat bulan. Hitungannya tahun. Tapi rasanya gak pernah ada yang berubah. Hal yang sama diulang terus. Entah apa lagi yang harus kulakukan…. Aku mulai merasa lelah.
Malam ini aku termangu lama di kamar. Kopi yang kuhirup sudah mulai dingin. Kuingat semua hal yang telah kami lakukan bersama mereka. Pertemuan bersama. Ngobrol pribadi. Ngopi bareng. Ngantar ke poli. Makan bersama. Dst. Sampai aku gak ingat lagi semuanya.
Tidak adakah sesuatu yang bisa mereka ingat? Ke mana sirnanya semua kesepakatan dan kata “iya” dari mulut mereka? Apakah perubahan sungguh-sungguh omong kosong bagi anak-anak ini? Apakah jalanan telah habis-habisan menggerogoti segala kemungkinan untuk menjadi baik?
Api rokok telah sampai di gabus filter. Langsung kumatikan. Perasaan lelah masih kuat bercokol. Harapan…masih adakah itu?
Beratap Langit Berdinding Angin
Yang ada di situ bukan rumah. Bukan juga gubuk. Terpal plastik tipis berlubang di sana sini dibentangkan di atas. Sisi yang satu dikaitkan pada dinding belakang toko atau rumah. Kedua ujung sisi satunya diikatkan pada dua tiang bambu atau kayu lapuk. Cukup untuk menjadi atap.
Di bawah terpal, mepet tembok, ditempatkan satu bangku panjang atau dipan untuk tidur sekeluarga. Tidak ada ruangan lain. Dinding cuma satu, tembok di belakang itu. Ketiga sisi lain terbuka lebar, sama sekali tanpa dinding atau pun penutup. Lumayan untuk menjadi sebuah “rumah”. Rumah yang praktis beratap langit berdinding angin.
Malam pasti sangat dingin bagi mereka. Siang menjadi lebih panas di bawah plastik berwarna itu. Aku tak berani membayangkan apa yang terjadi waktu hujan angin tadi malam. Bertanya juga aku tak tega hati. Bayangannya terlalu memilukan bagiku sendiri.
Sekitar 25 kk tinggal di tempat ini dengan cara seperti itu. Anak-anak kecil bermain di situ dengan riang. Mereka lahir di tempat ini. Dibesarkan juga di rumah seperti itu.
“Dulu yang tinggal di sini banyak, Mas,” cerita Budi. “Ada kalo 130an KK,” sambungnya.
“130 KK? Wuiiiih….” celotehku. Sulit percaya.
Tempat ini hanya punya ruang 4-5 m dari tembok ke arah sungai, lalu 10-15 m sepanjang pinggiran sungai. 130 KK tinggal di sini?
“Sekarang di mana mereka?” tanyaku.
“Pindah semua, Mas. Obrakan,” jelasnya.
Kuseruput pelan es jeruk. Bukan jeruk sungguhan kayaknya. Tapi segar banget untuk siang sepanas ini. Benakku membayangkan orang-orang ini…berjubel, bertumpuk, berdesakan…di tempat ini sebelum ada obrakan.
Kuperhatikan anak-anak di sekitar tempat kami duduk. Mereka bermain. Saling mengejar. Tertawa. Tiba-tiba ada yang jatuh. Menangis keras. Yang lain tertawa. Dua anak lebih besar kemudian mendekat dan mengangkat yang jatuh. Tanah tertempel di baju dan badannya dikebas-kebaskan. Tak lama kemudian mereka bermain lagi. Seperti tidak ada apa-apa.
Aku jadi bertanya-tanya. Bagaimana nasib anak-anak ini kelak? Akankah menjadi seperti orang tua mereka sekarang ini? Apakah mereka punya kesempatan keluar dari setan kemlaratan seperti ini?
Rasanya sungguh sulit membayangkan. Anak-anak ini tampak lucu dan gembira. Saat ini hidup seperti begitu indah bagi mereka. Apakah mereka akan hidup seperti ini selamanya? Apakah ada pilihan bagi mereka?
Uppsss, aku lupa. Aku lagi ngobrol dengan mas Budi dan teman-temannya.
Ia Lahir demi Manusia
Mengapa Tuhan tidak lahir dalam sebuah istana atau rumah gedung yang bagus dan mewah? Mengapa Tuhan tidak lahir sebagai seorang anak raja? Mengapa orang-orang yang pertama kali mendengarkan berita tentang kelahiranNya bukan raja, pembesar negeri, para tokoh agama, para tokoh umat, dsb? Apakah semuanya itu tidak ada yang pantas bagi Tuhan yang lahir ke dunia sebagai manusia?
BagiNya, bukan soal pantas atau tidak pantas. BagiNya, bukan pertama-tama lahir di mana. BagiNya, yang penting bukan menjadi anak siapa, dan dikunjungi oleh siapa. BagiNya, lahir menjadi manusia hanya memiliki satu tujuan. Tujuan itu adalah menyelamatkan manusia dan kemanusiaannya.
Seruan malaikat kepada para gembala memiliki makna penting,
“Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” (Luk 2:12).
Yang akan ditemui para gembala bukan Tuhan dalam kebesaranNya; bukan Tuhan dalam segala kemegahanNya sebagai Allah; juga bukan dengan seluruh kekuasaanNya yang maha dahsyat. Tuhan yang ditemui oleh para gembala justru seorang manusia yang paling lemah tak berdaya – seorang bayi. Ia bukan hanya tak berdaya. Ia tidak memiliki apa-apa untuk membungkus dirinya, kecuali lampin – kain untuk menyeka binatang piaraan. Tiada tempat lain yang mau menerimaNya, sehingga Manusia lemah itu harus dibaringkan di dalam palungan – tempat memberi makan hewan ternak di kandang. Tuhan tidak hanya lahir sebagai manusia. Tuhan lahir sebagai manusia paling lemah dan tak berdaya, miskin dan tidak diterima.
Dengan lahir menjadi manusia, Ia menunjukkan betapa manusia sangat berharga bagiNya…begitu berharga dan mulia sehingga Sang Pencipta bersedia rela hati menjadi ciptaanNya sendiri. Konsekuensinya, Allah ditemukan dalam diri manusia. Martabat manusia terangkat secara sangat istimewa. Manusia bukan sekedar ciptaan dan citraNya, tetapi Allah dijumpai di dalam dirinya. Ini merupakan pembalikan konsep dan pemahaman yang luar biasa dahsyat. Manusia – siapa pun dia, termasuk yang miskin, malang, lemah, dan terlantar – sangat berharga di mata Allah dan Allah dijumpai di dalam dia (bdk. Mat 25:40.45).
Kenyataan ini menyiratkan tantangan yang luar biasa pula di tengah kehidupan dan kebiasaan masa kini. Kita dituntut untuk hidup menuruti selera pasar. Iklan mendiktekan apa yang pantas bagi manusia. Kualitas manusia diukur dengan kuantitas (kepercayaan diri dengan parfum tertentu, pria jantan jika merokok brand tertentu, dsb.). Sinetron mengajarkan bahwa laki-laki sukses adalah mereka yang memiliki rumah bagus, mobil mewah, isteri cantik, dan berhasil menghabisi semua lawan serta saingan.
Kita dipaksa mengejar status, prestasi, pangkat, harga diri, kekayaan, dst sebagai simbol kemanusiaan kita. Tanpa disadari, kita pun mengukur dan menghargai orang lain berdasarkan apa yang mereka miliki. Fakta bahwa manusia memiliki martabat dan berharga di mata Allah dilupakan. Kenyataan bahwa Allah bersedia menjelma menjadi manusia paling hina dan mati sebagai penjahat besar di salib demi manusia dengan mudah disingkirkan.
Situasi inilah yang oleh Yohanes digambarkan secara gamblang,
“Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan olehNya, tetapi dunia tidak mengenalNya. Ia datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi orang-orang kepunyaanNya itu tidak menerimaNya.” (Yoh 1 :10-11).
Mungkin kita diajari untuk menemukan Allah di dalam tabernakel, di dalam tempat ibadat, dsb. Tetapi, jangan-jangan kita tidak mampu menemukan Allah yang hadir dalam diri sesama. Karena, kita sendiri tidak mampu mengenali Allah yang hadir di dalam diri kita. Kita pun gagal menghargai diri kita sebagai manusia bermartabat hanya karena Allah telah lahir sebagai manusia. Akibatnya, kita juga mengalami kesulitan menghargai dan menghormati martabat sesama.
Natal adalah perayaan Allah yang lahir sebagai manusia dan dalam diri manusia. Maka, setiap kali merayakan Natal, kita merayakan kemanusiaan kita. Pertama, karena Allah berkenan lahir dan menjelma menjadi manusia. Kedua, karenanya, martabat kita terangkat secara luar biasa.
Oleh karena itu, Natal adalah sebuah tantangan frontal. Kita ditantang untuk memperbaiki relasi dengan diri sendiri. Kita diajak untuk berani menyingkirkan segala atribut yang kita kejar untuk ditempelkan pada kemanusiaan kita dan menghargai diri sesuai dengan cara Allah menghargai kita sebagai manusia. Kita pun ditantang untuk memperbaiki relasi dengan orang lain. Caranya sama. Segala atribut dan ukuran buatan manusia harus disingkirkan. Hanya dengan itu, kita mampu menghargai sesama sebagaimana Allah menghargai mereka dan bertemu dengan Allah dalam diri mereka.
Natal adalah sebuah ajakan untuk kembali kepada manusia. Natal adalah penghormatan bagi kemanusiaan.
Comments(2)
Leave a Comment
Comments(1)
